Industri Pengrajin Yogyakarta Gelar Pameran

NERACA

Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menggelar pameran Industri Kreatif Yogyakarta (IKY), yang akan berlangsung mulai 17-20 September 2013 di Plaza Pameran Industri Kemenperin, Jakarta. Pameran ini diadakan untuk menjaring konsumen dan memperkenalkan produk kerajinan nasional.

\"Yogyakarta masih merupakan barometer produk kerajinan yang kaya kreativitas dan mempunyai daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Oleh sebab itu, potensinya harus ditingkatkan sehingga menjadi komoditas perdagangan yang memiliki daya saing tinggi,\" kata Dirjen Industri Kecil Menengah (IKM), Euis Saedah, saat membuka pameran di Plasa Pameran Industri Kemenperin, di Jakarta, Selasa (17/9).

IKM ini mempunyai potensi besar terhadap perdagangan nasional. Oleh karena itu, potensi tersebut akan terus ditingkatkan sehingga menjadi komoditas perdagangan yang memiliki daya saing yang tinggi, nasional maupun internasional. “Ke depan IKM ini bisa menjadi komoditas perdagangan yang besar” imbuhnya.

Maka dari itu, kami memberikan wadah semacam pameran ini. Harapannya dengan adanya pameran seperti ini menumbuh kembangkan kreatifitas dari para pengrajin nasional untuk terus berkreasi menciptakan kerajinan yang mempunyai daya saing dan diminati oleh masyarakat nasional maupun international. “Pameran ini diharapkan membuat kreativitas produk IKM nasional terbangun, dan khususnya IKM Yogyakarta,” imbuhnya.

Lebih jauh lagi, Euis menjelaskan, sejauh ini Industri kreatif termasuk dalam IKM mempunyai peran penting dan peran strategis, karena industri ini mampu memberi sumbangan pada perekonomian nasional tidak sedikit. Khususnya kontribusi ekspor yang mencapai US$19,579 juta.

\"Pada tahun 2013 ini ada sekitar 3,9 juta unit IKM, dan memberikan sumbangan ekspor IKM mencapai Rp753 triliun atau memiliki kontribusi sebanyak 10 persen dalam pembentukan PDB sektor industri terhadap PDB sektor nasional,\" ungkapnya.

Euis mengatakan, menyikapi adanya perdagangan bebas yang ditandai dengan persaingan ketat tidak hanya ada di dalam negeri tetapi juga di pasar Internasional melalui kegiatan Asean Economic Community (AEC) pada 2015.

\"AEC menjadi tantangan dan sekaligus menjadi peluang bagi IKM untuk lebih meningkatkan dalam memasarkan produknya di pasar Asean,\" ujarnya. Maka dari itu, dalam rangka meningkatkan kualitas produk IKM yang sesuai standar dan mutu, Kemenperin berupaya meningkatkan kemampuan sumberdaya manusia IKM melalui beragam pelatihan, reviltalisasi maupun restrukturisasi mesin atau peralatan industri. \"Kami berharap produk kerajinan seperti Jogjakarta ini mempunyai kualitas yang baik dansemakin dikenal,\" terangnya. Namun demikian, adanya kenaikan harga BBM mempengaruhi pertumbuhan dari IKM, mengingat adanya kenaikan BBM memberikan dampak pada naiknya cost produksi para pengrajin.

\"Kenaikan BBM mempengaruhi cost production sekitar satu persen terhadap nilai produksi IKM, untuk itu kami harap seluruh IKM diharapkan selalu melakukan inovasi dan kreativitas agar pengaruh kenaikan BBM tidak terlalu besar terhadap pengembangan IKM,\" kata Euis.

Selain itu, pengrajin harus pintar-pintar untuk melakukan efisiensi cost, agar tidak mengganggu stabilitas produksi mereka. “Pengrajin harus pintar-pintar menekan biaya produksi agar mereka bisa terus berjalan,” pungkasnya. [agus]

Related posts