Kesehatan Fisik Calon Jamaah Haji Harus Terjaga

Menghindari Penyakit Menular

Sabtu, 21/09/2013

Permasalahan kesehatan masih menjadi momok untuk calon jamaah haji, karena musim Haji menjadi lahan subur bagi penyebaran penyakit menular, agar terhindar kesehatan fisik jamaah harus tetap terjaga.

NERACA

Oleh karena itu setiap negara dan pemerintahnya membuat berbagai macam kebijakasanaan terkait dengan kesehatan jamaah haji. Pemerintah Saudipun juga mengeluarkan berbagai kebijaksanaan misalnya wajib vaksin meningitis dan dan vaksin antiflu.

Tentunya kita ketika melakukan ibadah haji bisa maksimal, konsentrasi dan khusyu’. Demikian juga yang memiliki penyakit berharap agar penyakitnya tidak menjadi penghalang utama dalam melakukan ibadah. Karena ibadah yang khusyu’ dan mabrur dan adalah harapan kita semua agar mendapat surga sebagaimana yang dijanjikan oleh Allah.

Imbauan Kemenkes

Kementerian Kesehatan mengingatkan tujuh persiapan kesehatan yang sebaiknya dilakukan calon jamaah haji Indonesia sebelum berangkat menunaikan ibadah haji ke Mekah. “Sebelum berangkat jamaah calon haji diminta untuk melakukan tujuh persiapan kesehatan,” tutur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama.

Pemberangkatan kloter pertama jamaah haji Indonesia ke Arab Saudi akan dilakukan pada 21 September dan pemberangkatan kloter terakhir pada 20 Oktober 2012. Tujuh persiapan itu disebut Tjandra adalah pertama untuk para jamaah haji memeriksakan kesehatan mereka secara rinci ke dokter yang biasa dikunjungi atau dokter terdekat. “Tujuannya adalah agar dapat dideteksi kemungkinan penyakit dan masih ada waktu untuk mengatasinya,” kata dia.

Persiapan kedua adalah jika jamaah haji memang memiliki penyakit kronik dan memerlukan obat secara teratur, agar dapat membawa persediaan obat yang dibutuhkan selama di tanah suci.

Selain itu, untuk persiapan ketiga, Tjandra mengingatkan jika menurut dokter yang biasa menangani di tanah air seorang jamaah haji memiliki masalah kesehatan, maka agar tidak lupa meminta surat keterangan dokter.

“Ini untuk diserahkan ke dokter kloter nantinya. Kalau dari sekarang sudah tahu siapa dokter kloter atau dokter rombongan bila ONH plus, maka dari sekarang bicarakan dengan dokter kloter/rombongan tentang masalah kesehatan anda, dengan membawa surat dari dokter yang biasa merawat anda itu,” tuturnya.

Persiapan keempat adalah dengan melakukan olah raga teratur seperti jalan kaki sebanyak 3-4 kali per minggu.

Hal itu dijelaskan Tjandra adalah karena dalam perjalanan haji nantinya minimal ada empat rute jalan kaki yang cukup jauh, yaitu tawaf, sai, Jalan dari hotel/pondokan ke masjid dan jalan dari kemah di Mina ke tempat melontar jumroh.

Persiapan kelima adalah jika jamaah haji berangkat bersama orang tua yang berusia lanjut, apalagi yang memang sudah sakit, maka harus melakukan persiapan lebih rinci seperti pengetahuan tentang menyewa kursi roda atau kemungkinan ikut safari wukuf dan lainnya.

Tjandra juga mengingatkan para jamaah haji bahwa persiapan nomor enam adalah untuk mulai mengenal dan mempelajari tentang fasilitas dan pelayanan kesehatan yang ada di Arab Saudi pada musim haji, mulai dari petugas kesehatan kloter, pelayanan kesehatan di sektor, Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPHI) ataupun lokasi RS Arab Saudi.

Sedangkan persiapan terakhir atau ketujuh, kata Tjandra, adalah agar para jamaah haji juga dapat mempelajari situasi kesehatan atau wabah penyakit yang mungkin muncul di musim haji kali ini.

Antisipasi Virus

Mengantisipasi musim Haji yang menjadi lahan subur bagi penyebaran penyakit menular, pemerintah Arab Saudi segera mengambil langkah awal yang diperlukan untuk menghindari penyebaran virus Corona.

Pemerintah Arab Saudi berencana memperketat pemeriksaan calon jemaah haji yang datang dari luar negeri, dan memberikan pelayaan maksimal bagi calon jemaah haji di tahun ini.

Dalam konteks terkait, Departemen Kesehatan Arab Saudi mengimbau para lansia, wanita hamil, anak-anak dan penderita penyakit kronis terutama jantung dan diabetes, serta penderita masalah pernapasan, ginjal atau pasien dengan kekebalan tubuh yang melemah untuk tidak menunaikan ibadah Haji tahun 1434 Hijriyah.

Melalui juru bicara resmi Departemen Kesehatan Arab Saudi, Khaled Marghalani, menyatakan, kementerian kesehatan akan mampu menangani dan mencegah penularan virus Corona selama musim haji berlangsung, terlebih setelah keberhasilan pemerintah Saudi dalam menangani virus SARS pada tahun 2003, dan virus Flu Babi di tahun 2009 lalu.

Tercatat sebanyak enam orang dinyatakan terinfeksi virus Corona dalam waktu seminggu terakhir, dan lima orang yang telah terjangkit virus ini sebelumnya telah meninggal dalam kurun waktu sebulan terakhir.