Bergantung Asing, Fluktuasi Indeks Kian Tak Terkendali

Rabu, 18/09/2013
NERACA Jakarta – Jika industri keuangan bank atau non bank masih didominasi investor asing, akan menanggung risiko pahit. Pasalnya, keputusan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) untuk mengurangi stimulus seiring mulai pulihnya perekonomian negara adidaya tersebut, menimbulkan khawatiran bagi pelaku pasar finansial di Indonesia lantaran kebijakan quantitative easing bakal menarik keluar modal asing dari portofolio investasi di negeri ini. Menurut pengamat pasar modal dari FE Univ. Pancasila, Agus S. Irfani, dampak pengurangan stimulus AS oleh The Fed akan mengancam pasar saham di Indonesia dan bakal terpuruk jika kebijakan tersebut dilakukan. Hal ini dikarenakan bursa Indonesia masih didominasi oleh investor asing yang hampir mencapai 67%. “Apabila dana asing ditarik dari Indonesia, maka bursa akan bergejolak. Pasar saham sangat bergantung kepada dana asing dan ini sangat membahayakan jika dana asing itu ditarik. Sedangkan untuk menarik investor lokal sangatlah sulit disebabkan bursa saham dikuasai oleh asing,” ujarnya kepada Neraca, Selasa(17/9). Menurut dia, kebijakan The Fed ini akan dirasakan sekali dampaknya oleh pasar modal Indonesia karena ketergantungan kepada dana asing. Sejak dahulu, pasar modal Indonesia didominasi oleh dana asing sehingga kebijakan The Fed ini menjadi suatu kondisi yang memberatkan pasar modal. Sehari sebelum keputusan tapering off The Fed, indeks harga saham gabungan (IHSG) kemarin merosot 4,62 poin menjadi 4.517,62 “Ketergantungan dana asing sangatlah terlihat dalam pasar bursa Indonesia, seperti contoh jika investor asing melakukan pembelian saham maka saham akan terkoreksi dengan baik, namun sebaliknya jika tidak pembelian yang tidak signifikan akan membuat kondisi saham menjadi melorot,”ujarnya. Namun, lanjut Agus, dengan mundurnya Lawrence Summers dari bursa calon Gubernur Bank Sentral AS akan bisa direspon positif dikarenakan Summers ini dikenal dengan kebijakan yang ketat, kemudian apabila dia mengundurkan diri maka diharapkan kebijakan The Fed akan bisa melunak dan tidak akan berdampak signifikan terhadap pasar saham Indonesia. Dia melihat pasar akan bereaksi positif terhadap keputusan Summers mengundurkan diri, pasalnya Summers dikenal sebagai orang yang akan menaikkan suku bunga Bank Sentral AS secara cepat dan akan merugikan pasar secara keseluruhan. "Dengan pengunduran diri ini maka diharapkan kekhawatiran pasar modal dapat diperkecil dan bisa menstabilkan pasar modal Indonesia,” ujar dia. Reaksi Jual Hal senada juga disampaikan analis PT Dana Reksa Sekuritas, Lucky Bayu Purnomo, dampak tapering off akan dialami market pada perdagangan Kamis (19/9) dengan asing akan melakukan nett sell secara besar-besaran dengan jumlah yang belum bisa diprediksi. Namun kemungkinan, kata Lucky lebih banyak 10% dari pekan lalu. Dia juga memperkirakan kondisi ini akan terjadi hingga Oktober mendatang, “Indeks juga akan bergerak fluktuatif dengan target 4.400-4.380 dengan kecenderungan melemah. Sehingga bagi investor yang sudah memiliki profit sebaiknya segera keluar, yang loss atau floating loss sebaiknya hold, sedangkan yang belum masuk sebaiknya menghindar atau wait and see”, jelas dia. Dia menuturkan, dampak negatif dari tapering off disebabkan beberapa hal yaitu pelaku pasar menilai hasilnya tidak sesuai harapan dan tujuan awal yaitu untuk likuiditas di pasar bursa. Selain itu, dengan program tapering off ini mencerminkan kondisi perekonomian secara global sedang konsolidasi atau stagnan. Selain itu, imbasnya akan menurunkan status ekspor-impor Indonesia yang menjadi tujuan utama adalah Amerika. Sehingga jika melihat ekspor-impor sudah tidak bagus, pelaku pasar akan berpikir bagaimana mungkin pasar modal akan lebih bagus. Ini merupakan respon yang akan mereka berikan. Dia juga menjelaskan, tindakan pemerintah mengantisipasi dengan Bond Stabilization Framework (BSF) merupakan tindakan yang tidak salah tetapi justru tidak tepat. Pasalnya, pemerintah mengeluarkan keputusan itu di tengah kondisi pasar yang rawan terkoreksi. Menurut dia seharusnya kebijakan tersebut dikeluarkan pada awal tahun.”Jika kebijakan seperti ini dikeluarkan setiap ada kondisi jelek di pasar seperti buyback, menunjukan fundamental negara kita tidak solid. Selain itu justru makin memperlihatkan kepanikan pemerintah menghadapi kondisi ekonomi Indonesia. Jika dikeluarkan di awal tahun, investor dapat membaca agenda pemerintah dan dapat mengambil langkah yang tepat dan tidak tergesa-gesa seperti sekarang”, jelas dia. Sementara pengamat pasar modal Yanuar Rizki menilai, dampak buruk dari kebijakan tapering off adalah tidak terkendalinya fluktuasi pasar modal. Sebab hanya uang lama saja yang berputar di bursa, sedangkan uang baru tidak kunjung datang, “Sebetulnya kebijakan tapering off tidak terlalu masalah. Karena kita kan sudah mengalami sejak bulan-bulan lalu. Tapi biasanya bulan Desember akan ada suplai uang baru. Masalahnya ternyata suplai baru itu kemungkinan tidak ada,”ujarnya. Oleh karena itu, lanjutnya, jangan harap dapat berpengaruh terhadap kurs rupiah dan jelas tidak mungkin ada efeknya jika hanya uang lama yang digoreng-goreng. Sedangkan kebutuhan stabilitas pasar justru harapannya datang dari uang baru. nurul/lulus/mohar/bani