Analis : Waspadai Saham Sektor Perbankan - Masuki Titik Jenuh

NERACA

Jakarta–Pergerakan saham perbankan mulai terlihat mengalami perlambatan pada perdagangan Selasa, 17 September 2013. Hal ini mengingat pergerakan harga saham bank sudah mulai masuk harga tertingginya.

Analis PT Trust Securities, Reza Priyambada menuturkan, harga saham bank saat ini sudah mulai masuk batas atas, sehingga tak heran pergerakannya mulai menurun.“Secara jangka pendek, saat ini saham bank sudah masuk fase overbought,” kata Reza di Jakarta, Selasa (17/9).

Reza menjelaskan, sejak Bank Indonesia (BI) menaikan acuan suku bunga perbankan sebesar 25 basis poin ke level 7,25% beberapa waktu lalu, ekspetasi pelaku pasar merespon kenaikan BI rate tersebut sebagai upaya pemerintah dalam menahan laju dollar terhadap rupiah, sehingga pada saat BI rate naik, pergerakan saham justru menguat, salah satunya sektor perbankan, yang menguat sangat signifikan.Kondisi ini lah yang dimanfaatkan investor dengan melakukan aksi profit taking, setelah pergerakan saham bank mencapai di atas.“Saat ini harga saham-saham bank yang sudah menuju batas atas dan bahkan melewati batas atas yakni saham Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia, Bank Central Asia, Bank Negara Indonesia dan Bank Danamon,” jelasnya.

Sebelumnya, Kepala Riset MNC Sekuritas, Edwin Sebayang pernah bilang, sektor perbankan diprediksi paling terpukul terhadap kenaikan BI rate lantaran adanya perlambatan dalam penyaluran kredit. Lanjutnya, dengan adanya kenaikan BI Rate, perbankan akan menaikan suku bunga kredit dan deposito, sehingga nantinya penyaluran kredit akan melambat karena bunganya cukup tinggi dari sebelumnya, “Perbankan akan kena dampak karena 20% dananya tidak bisa keluar karena harus diparkir. Selain itu pertarungan bunga akan besar sekali yang membuat kemampuan kredit dan net profit otomatis berkurang, “ujarnya.

Dia juga menyebutkan sektor saham multifinance, semen, kontruksi dan properti merupakan sektor saham yang akan terkena imbas dari kenaikan BI Rate. Karena sektor-sektor tersebut dalam mencari dana akan meminjam perbankan yang bunga pinnjamannya naik setelah BI Rate dinaikan.“Sektor multifinance dan infrastruktur terpengaruh karena dananya dari bank. Sementara multifinance yang tidak berada dibawah perbankan akan terkena dampak negatif yang lebih besar karena memang tidak cukup kuat untuk menghadapi kenaikan BI Rate ini. (bani)

BERITA TERKAIT

Ingin Kembangkan Sektor Perikanan dan Pertanian, Bupati Asmat Harapkan Dukungan Lebih Dari Pusat

NERACA Jakarta - Bupati Kabupaten Asmat, Elissa Kambuh, menuturkan, masyarakat kami baru 65 tahun bersentuhan dengan dunia luar. Padahal potensi alam…

Himperra Usul Pemanfaatan Dana BPJS TK di Sektor Properti Meningkat

Himperra Usul Pemanfaatan Dana BPJS TK di Sektor Properti Meningkat NERACA  Jakarta - Himpunan Pengembang Pemukiman dan Perumahan Rakyat (Himperra)…

Darmi Bersaudara Bidik Dana IPO Rp 22 Miliar - Lepas 22,57% Saham Ke Publik

NERACA Jakarta - Perusahaan perdagangan kayu, PT Darmi Bersaudara akan melepas 22,57% sahamnya dalam penawaran umum perdana atau Initial Public…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Rights Issue Perkuat Struktur Modal FREN

Danai pelunasan utang dan juga belanja modal, PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) berencana untuk meningkatkan modal dasar melalui mekanisme penerbitan…

RIMO Catatkan Laba Bersih Rp 83,81 Miliar

NERACA Jakarta - Di semester pertama 2018, PT Rimo International Lestari Tbk (RIMO) mencatatkan laba bersih sebesar Rp83,81 miliar  atau naik 175,14%…

FIF Terbitkan Obligasi Rp 1,3 Triliun

Perkuat modal, anak usaha PT Astra International Tbk (ASII) yang bergerak di bidang pembiayaan, yakni PT Federal International Finance (FIF)…