Pandangan DGS BI Terpilih

Ekonomi Indonesia Buruk Akibat Pengaruh Global

Rabu, 18/09/2013
NERACA

Jakarta - Setelah disahkan sebagai Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (DGS BI) terpilih, Mirza Adityaswara langsung menyampaikan pandangannya terkait kondisi perekonomian Indonesia terkini. Memburuknya perekonomian yang ditandai melemahnya nilai rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) karena ada pengaruh ekonomi global.

Pada awal pekan ini, kondisi pasar keuangan dan kurs rupiah sedikit membaik. Menurut Mirza, penyebabnya sederhana, yakni dari dua calon Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed), salah satunya mengundurkan diri, yakni Lawrence Summers.

Pasalnya, jika Summers menjadi Gubernur Bank Sentral AS dikhawatirkan bakal menaikkan suku bunga secara cepat. Namun, karena dia mengundurkan, kekhawatiran pasar menjadi lebih kecil. "Makanya pasar keuangan naik dan rupiahnya juga menguat," kata Mirza dalam Rapat Paripurna DPR, di Jakarta, Selasa (17/9).

Menurut dia, kondisi ini dihadapi oleh semua negara sedang berkembang. Sebab, Amerika Serikat yang dulunya mengucurkan likuiditas besar sekali, pada 2013 pelan-pelan akan mengurangi. "Jadi kita, Indonesia dan negara berkembang lainnya menghadapi arus modal yang keluar. Ini tren di dunia dan kita harus menghadapinya dengan baik agar supaya keluarnya modal ini tidak banyak," ujar Mirza.

Bagaimana caranya agar yang keluar tidak banyak? Yang perlu diperbaiki masalah fundamental ekonomi Indonesia. Dari sisi fiskal dan moneter yang perlu segera diselesaikan adalah neraca perdagangan yang masih defisit. Pasalnya, lanjut Mirza, defisitnya sudah di atas normal. Normalnya, defisit neraca perdagangan adalah 2% terhadap PDB untuk negara berkembang. Jika sudah di atas 3% itu sudah dianggap tidak normal.

"Kita pada kuartal kedua angkanya sempat 4,4%. Ini harus diturunkan, impor harus turun, modal jangan ditarik keluar. Dan untuk sementara waktu suku bunga memang harus naik. Begitu juga suku bunga kredit," tandas dia. Namun, Mirza tetap mendorong ada regulasi-regulasi untuk memperkuat sektor riil. Sehingga diharapkan arus modal bisa segera masuk.“Begitu juga dengan neraca ekspor harus kembali tumbuh dan tidak tergantung pada ekspor komoditas yang sekarang sedang turun,” tambahnya.

Sekadar informasi, dalam Rapat Paripurna DPR telah menyetujui Mirza Adityaswara sebagai Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (DGS BI). Mirza akan melanjutkan kursi DGS BI yang selama ini kosong. Pengambilan keputusan pengesahan pejabat baru di Bank Indonesia ini dihadiri 291 dari 560 anggota. Rapat dipimpin Wakil Ketua DPR dari Fraksi PKS M Sohibul Iman. Ketua Komisi XI DPR RI Olly Dondokambey dalam laporannya menyampaikan bahwa proses pemilihan DGS BI dilalui dalam beberapa tahapan. Mulai rapat dengar pendapat dengan PPATK dan sejumlah pakar. Pada 3 September 2013, Komisi XI lantas melakukan uji kelayakan dan kepatutan terhadap calon DGS BI. Kemudian pada 16 September Komisi XI kembali melakukan rapat internal untuk memilih DGS BI.

"Komisi XI menyepakati Mirza Adityaswara dengan memperoreh 32 suara menjadi Deputi Senior untuk mengisi jabatan yang kosong karena ditinggalkan Pak Darmin Nasution," kata Olly.Hasil lengkap perolehan suara pemilihan DGS BI adalah Mirza Adityaswara 32 suara, Anton Gunawan 2 suara, menolak kedua calon 9 suara, abstain 4 suara dan satu lembar kertas suara kosong.

Setelah Olly menyampaikan laporan, pimpinan rapat paripurna, Wakil Ketua DPR Sohibul Iman mempertanyakan persetujuan anggota dewan terkait hasil yang diperoleh. “Apakah semua (anggota DPR) setuju dengan laporan Komisi XI yang memilih Mirza Adityaswara sebagai Deputi Gubernur Senior BI?” tanya Sohibul kepada 291 anggota Parlemen yang hadir. “Setuju!” jawab para anggota DPR secara serempak. [mohar]