Brand Finance Tawarkan Peningkatan Kredibilitas Perusahaan

Konsultan Bisnis

Rabu, 18/09/2013

NERACA

Jakarta – Grup konsultan bisnis kian meramaikan sektor-sektor usaha di Indonesia. Kali ini Brand Finance hadir untuk menawarkan valuasi (penilaian) brand suatu perusahaan agar lebih bernilai di mata masyarakat. Pasalnya jika suatu nilai brand dapat dimaksimalkan maka kredibiltas perusahaan tersebut akan semakin meningkat.

“Kami melihat brand Indonesia merupakan aset kuat untuk ditingkatkan hasil bisnisnya. Untuk itu kami menawarkan kerja sama untuk memaksimalkan nilai brand serta aset tak berwujud yang dimiliki perusahaan-perusahaan di sini,” kata Direktur Manajemen Brand Finance Asia Pasifik Samir Dixit pada konfrensi pers di Hotel Four Season, Selasa (17/9).

Samir menjelaskan penilaian brand merupakan bagian yang penting pada keberadaan suatu perusahaan karena dapat meningkatkan nilai pemegang saham yang akan mempengaruhi skala bisnis. Untuk meningkatkan nilai itu pihaknya kerap menggunakan berbagai pendekatan seperti, pemahaman nilai segmen pelanggan utama, hubungan antara ekuitas brand dan kunci value drivers dalam model bisnis, dan kalkulasi kekuatan dan kelemahan suatu brand.

“Kami juga akan menyediakan kerangka kerja perencacaan strategis jangka panjang investasi pemasaran. Serta model untuk bauran pemasaran serta pelaporan dan pengelolaan kinerja brand itu sendiri,” tambahnya.

Pola Kinerja

Lebih jauh Samir mengatakan pola kinerja peningkatan nilai brand dilakukan melalui pengukuran pengaruh dari brand itu sendiri bagi masyarakat. Lalu akan dikelola dengan publikasi secara terus-menerus agar maksimal. Terakhir Brand Finance akan memonitoring dampak yang berhasil ditimbulkan.

“Dengan metode kami itu ada jaminan setidaknya perusahaan dapat meningkatakan pendapatannya hingga 20% untuk kurun waktu tiga tahun pertama. Jika kerjasama terus berlanjut maka pertumbuhan 20% sebelumnya akan dimaksimalkan hingga dua kali lipat. Bahkan dalam periode selanjutnya kita akan mendorong pertumbuhan hingga 50%,” tutur Samir.

Mengenai kerjasama, Samir mengaku pihaknya menawarkan sistem royalty rate dalam beberapa skema. Pertama, untuk tawaran terendah menawarkan pembagian royalty sebanyak 0,13%. Kedua, kami menawarkan pembagian royalty sebanyak 0,37%, dan terakhir dengan tawaran yang paling tinggi yaitu pembagian royalty sebesar 1%. Royalti itu sendiri akan diambil dari angka pertumbuhan pendapatan yang diterima perusahaan selama perjanjian kerjasama berlangsung.

“Penawaran itu tidak berbasis investasi yang mereka bayar untuk kita. Pada dasarnya memang base on project. Tapi kami akan melihat sejauhmana kebutuhan maksimalisasi brand yang mereka minta. Dengan begitu baru bisa ditentukan kita akan menggunakan rate yang mana,” papar Samir.

Lalu Samir menegaskan pihaknya membuka peluang kerjasama dengan semua jenis usaha di Indonesia. Pasalnya kebutuhan pemaksimalan suatu brand merupakan kebutuhan seluruh sektor usaha. Namun, memang ada pengecualian. Brand Finance hanya bisa bekerjasama dengan perusahaan yang memiliki fundamental keuangan yang kuat.

“Jasa ini memang diperuntukan bagi perusahaan yang sudah kuat namun ada keinginan untuk mengekspansi pasar yang lebih besar. Atau dalam istilah lain perusahaan itu punya keiginan untuk go internasional,” jelasnya.

Sehingga Brand Finance sendiri melihat perusahaan di Indonesia yang berpotensi untuk melakukan kerjasama di antaranya perusahaan yang bergerak dalam industri perbankan, pertambangan, media massa, dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Pasalnya perusahaan-perusahaan tersbeut merupakan sektor usaha yang potensial untuk go internasional.

“Bisa saja perusahaan usaha bekerjasama dengan kita. Karena kami melihat beberapa industri ritel di Indonesia cukup berkembang dengan pesat,” tukas Samir.