Indo Tambangraya Bangun Anak Usaha Baru

Targetkan Penjualan 29 Juta Ton

Rabu, 18/09/2013

NERACA

Jakarta- Untuk mendukung bisnisnya di bidang pertambangan, PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) mendirikan entitas anak baru yang akan bergerak di bidang usaha jasa pertambangan. Rencananya, entitas anak baru perseroan tersebut nantinya diberi nama PT Tambang Raya Usaha Tama. Informasi tersebut disampaikan Direktur Utama ITMG, Pongsak Tongampai dalam keterangan resminya di Jakarta, Selasa (17/9).

Targetnya, manajemen perseroan mengharapkan volume penjualan batu bara pada tahun ini akan mencapai 29 juta ton. Memang, jika dibandingkan tahun 2012, pertumbuhan yang diincar perseroan ini terbilang lebih kecil. Tercatat, pada tahun lalu volume penjualan perseroan sebesar 27,2 juta ton atau naik 10,12% dari realisasi 2011 yang 24,7 juta ton.

Untuk mencapai target tersebut, perseroan akan mengupayakan dengan melakukan efisiensi dan peningkatan volume produksi dan penjualan. \"Setiap tahunnya kami targetkan pertumbuhan 10% untuk volume produksi,” kata Direktur Keuangan Perseroan, Edward Manurung.

Efisiensi yang akan dilakukan, menurut dia, dengan mengurangi stripping ratio, efisiensi di bidang logistik, dan mengutamakan belanja modal untuk proyek- proyek yang mendesak. Selain itu, perseroan juga akan menaikkan kapasitas produksi salah satu anak usaha, PT Bharinto Ekatama, dari 300 ribu ton per tahun menjadi 1,9 juta ton per tahun.

Dalam rencana pengembangan bisnisnya, manajemen perseroan sebelumnya juga mengaku tengah berpikir untuk melakukan ekspansi ke sektor kelistrikan dengan membangun pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Ketertarikannya berinvestasi di sektor ini disebut sebut untuk melengkapi bisnis batu bara perseroan. Selain itu, pihaknya juga menilai bisnis ini sangat stabil.

Menurut Edward, saat ini perseroan telah memiliki PLTU, namun kapasitasnya baru sebesar 2x7 megawatt (MW). PLTU tersebut digunakan untuk wilayah tambang anak usahanya Indomico. “Kami terus lihat peluangnya. Sekarang ini masih memperhitungkan apakah menguntungkan atau tidak,” pungkasnya.

Adapun rencana bisnis lainnya, perseroan berencana memperluas pelabuhan yang bisa menampung produksi batu baranya di Bontang dan Bunyut, Kalimantan Timur. Perluasan pelabuhan ini ditargetkan dapat selesai pada 2016.

Perseroan berencana meningkatkan kapasitas pelabuhan di Bontang menjadi 30 juta ton, dari sebelumnya 20,5 juta ton. Sementara kapasitas pelabuhan Bunyut naik menjadi 15 juta ton, atau 9 juta ton. Untuk perluasan pelabuhan di Bontang ditaksir menelan dana US$ 60 juta hingga US$ 70 juta, sementara untuk di Bunyut diperkirakan mencapai US$ 20 juta. (lia)