Pemasaran Masih Jadi Kendala Terbesar Perajin

Rabu, 18/09/2013

NERACA

Jakarta - Staf Ahli Menteri Perdagangan Bidang Manajemen, Hesti Indah Kresnarini menyatakan, perajin Indonesia masih terkendala dengan masalah pemasaran akibat pembinaan yang masih kurang tepat sasaran. \"Memang Kemendag dan Dekranas kerap menggelar pameran untuk para perajin. Masalahnya yang menjadi peserta ya hanya itu-itu saja,\" kata Hesti di Jakarta (17/9).

Menurut Hesti pembinaan seharusnya dilakukan per generasi. Artinya setelah satu generasi perajin berhasil mengikuti tiga hingga empat pameran, maka sebaiknya dilepas dan dilakukan pembinaan pada perajin yang membutuhkan binaan. \"Kalau sudah bisa mengikuti tiga atau empat pameran, artinya mereka sudah cukup matang untuk dilepas. Maka sudah saatnya melakukan pembinaan bagi perajin yang masih hijau,\" jelas Hesti.

Dengan begitu perajin akan menjadi mandiri untuk mampu memasarkan produknya sendiri dan membuka peluang untuk perajin lain untuk turut berkembang, sehingga terlepas dari masalah pemasaran.

Lebih lanjut Hesti mengungkapkan bahwa masalah pemasaran yang dialami oleh para perajin menyebabkan kontribusi ekspor nasional kerajinan kriya Indonesia masih tergolong kecil dibandingkan dengan ekspor dari sektor lainnya. \"Rata-rata per tahun ekspor kerajinan kita baru mencapai US$600 juta. Padahal saya yakin bisa lebih daripada itu,\" imbuh Hesti.

Wakil Presiden Boediono juga sempat menyatakan bahwa salah satu masalah utama industri kerajinan adalah sulitnya para pengrajin mengakses modal dari perbankan. Boediono berharap seluruh pihak, termasuk pemerintah dapat menyusun langkah strategis agar persoalan itu dapat diatasi.

“Harus kita akui industri kerajinan menghadapi sejumlah hambatan, antara lain akses permodalan bagi setiap level usaha mikro menengah. Insiatif pengrajin dan perbankan akan menyukseskan itu. Bimbingan pemerintah juga penting, yaitu membuat regulasi mendukung industri kerajinan Tanah Air,” ujar Wapres.

Wapres juga menyoroti masalah branding, teknik pemasaran, paten, dan pengembangan produk ramah lingkungan. Namun dia yakin, pengusaha lokal dapat menghadapi seluruh tantangan terkait pemasaran itu karena selama ini terbukti bisa bertahan meski krisis pernah melanda Indonesia. “Semakin ketat persaingan antar produk kerajinan di dunia terutama dalam hal harga, kualitas dan desain namun saya sangat yakin tantangan itu tidak akan menciutkan nyali pengrajin, malah itu akan mendorong pengrajin semakin kreatif memasarkan produk-produknya,” kata Boediono.

Boediono menegaskan kerajinan menjadi salah satu bagian dari 14 lini industri kreatif yang menjadi unggulan pemerintah. Oleh karena itu pemerintah akan mengupayakan supaya problem permodalan para pengrajin dapat ditangani segera. “Industri kerajinan merupakan 14 bidang industri kreatif yang potensial karena memberi sumbangan besar pada perekonomian negara. Kita harus menangani sungguh-sungguh hambatan tadi,” tandasnya.

Kerajinan Indonesia seperti anyaman tikar, bordir, ukiran, dan kursi meja, saat ini dipasarkan ke 180 dengan negara tujuan utama ekspor adalah Amerika, Jepang, Inggris, Jerman, Australia, Prancis dan Belanda. Nilai ekspor kerajinan pun selalu meningkat di mana tahun lalu mencapai US$ 700 juta, dibanding 2011 sebesar US$ 660 juta. “Apabila kita bisa mengatasi hambatan-hambatan tadi, industri kreatif bisa mencapai omzet puluhan triliun dalam waktu tidak terlalu lama,” ujarnya yakin.

AEC 2015

Sudah sepantasnya masalah-masalah yang menerjang industri kerajinan Indonesia diselesaikan oleh pemerintah. Terlebih dengan hadirnya komunitas masyarakat ekonomi ASEAN (AEC) 2015. Bahkan Ketua Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Ambar Tjahyono menilai pemerintah Indonesia belum melakukan tindakan apapun.

Ambar Tjahyono mengatakan, di antara negara-negara di Asia Tenggara saat ini terjadi perdagangan yaitu ekspor dan impor. “Perdagangan di antara negara-negara Asia Tenggara sendiri sudah bagus dan trennya terus meningkat,” ujarnya.

Apalagi, lanjutnya, saat ini keadaan Eropa dan Amerika Serikat (AS) yang sedang jatuh akibat krisis, jadi keadaan itu memaksimalkan potensi di Asia Tenggara dan Cina. Menurutnya, potensi itu berupa ekspor maupun impor termasuk yang terjadi di Indonesia. Namun, tambahnya, kalau Indonesia dibanjiri barang impor saat AEC terjadi, maka Indonesia bisa menjadi pasar dan bukan pelaku AEC. “Jadi kalau kita baru siap-siap pada 2014 maka itu sudah terlambat. AEC harus dipersiapkan jauh-jauh hari,” ucapnya.

Ambar mengaku, para pelaku usaha mebel dan kerajinan terus menerus meningkatkan kualitas produknya, termasuk desain, sampai kualitas standar barang untuk , termasuk mebel dan kerajinan Indonesia untuk menghadapi AEC, mereka. Namun dia menyangkan karena pemerintah Indonesia termasuk Kementerian Perdagangan (Kemendag), sampai Kementerian Perindustrian (Kemenperin) belum melakukan tindakan untuk menghadapi AEC.