Bahan Baku Naik, Sierad Naikkan Harga Jual 15%

Dampak Pelemahan Rupiah

Rabu, 18/09/2013

NERACA

Jakarta – Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika, memberikan dampak signifikan terhadap bisnis usaha sektor pakan ternak atau poultry lantaran bahan baku impor ikut terkerek naik cukup tinggi, seperti yang dialami PT Sierad Produce Tbk (SIPD). Untuk keberlangsungan usaha, maka perseroan menaikkan harga jual pakan ternak hingga 15%.

Assisten Corporate Secretary PT Sierad Produce Tbk Hudya I. Panggita mengatakan, pelemahan nilai tukar rupiah memaksa perseroan menaikkan harga jual, “Kenaikan harga jual dilakukan secara bertahap, tahap pertama kita sudah menaikan harga pakan ternak 15% pada 2 September lalu. Cara ini dilakukan karena dampak dari pelemahan rupiah terhadap dolar AS,”ujarnya di Jakarta, Selasa (17/9).

Dia menuturkan, perseroan mengimpor mayoritas 70% bahan baku dari beberapa negara diantaranya Amerika, Brazil, Argentina dan India. Sehingga untuk mengantisipasi lonjakan bahan baku impor, perseroan secara bertahap menaikan harga jual. Meskipun ada kenaikan harga bahan baku produksi, perseroan masih memiliki persediaan bahan baku yang disebutkan cukup hingga semester pertama tahun depan. Sehingga, kenaikan harga jual pakan dilakukan secara bertahap.”Diharapkan rupiah bisa berada di level Rp9.500 sampai Rp10 ribu, agar kita tidak menaikan harga jual yang lebih tinggi lagi. Namun, belum bisa dipastikan karena saat ini kami masih mengamati pergerakan indeks”, ujar dia.

Proyeksi dan target pendapatan serta laba bersih masih tetap sama, meskipun ada kenaikan harga jual untuk menutup kenaikan bahan baku produksinya. Perseroan masih menargetkan pendapatan dan laba bersih dapat tumbuh sekitar 10-15%. Perseroan menargetkan penjualan bersih sampai akhir tahun mencapai Rp 4,7 triliun.

Tercatat, sampai dengan semester pertama tahun ini penjualan perseroan mencapai Rp2,1 triliun dari periode sama tahun sebelumnya Rp1,99 triliun. Laba komprehensif yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun menjadi Rp9,44 miliar hingga semester pertama 2013 dari periode sama tahun sebelumnya Rp18,03 miliar.

Tunda Buyback

Sementara itu, terkait banyaknya jumlah emiten yang melakukan pembelian kembali (buyback) saham untuk melindungi harga sahamnya, perseroan belum berencana melakukan buyback tersebut. Alasannya, perseroan masih fokus untuk mendongkrak kinerja sehingga margin yang didapat akan besar pula.

Dirinya memperkirakan, jika kinerja dan margin yang dihasilkan cukup baik, saham perseroan juga akan diminati. Sebagai informasi, hingga akhir Agustus 2013, perseroan telah menyerap belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp280 miliar atau 80% dari keseluruhan capex senilai Rp350 miliar.

Penyerapan dana capex pada tahun ini paling besar dialokasikan untuk pembangunan peternakan. Pada 2013, perseroan menargetkan memiliki lima peternakan baru yang berlokasi di Jawa Barat.”Nilai investasinya sekitar Rp100 miliar sampai Rp150 miliar untuk tiga commersial farm. Sedangkan lainnya sisanyanya masih dalam proses. Selain diserap pembangunan peternakan, dana capex sekitar Rp54 miliar juga dialokasikan untuk penambahan freezer untuk penyimpanan produk nugget yang diproduksi unit usaha perseroan belfoods”, jelasnya.

Nantinya, dengan pembangunan peternakan yang dilakukan perseroan akan menambah kapasitas peternakan yang dimiliki dari 1,2 juta ekor dapat ditambah lagi sekitar 120 ribu sampai 500 ribu ekor. Perseroan juga berencana membangun pabrik pakan ternak (feedmill) di Sulawesi, dengan nilai investasi sebesar Rp30 miliar pada 2014 mendatang. (nurul)