Semen Baturaja Buyback 400 Juta Saham

Selasa, 17/09/2013

NERACA

Jakarta- PT Semen Baturaja Tbk (SMBR) berencana melakukan pembelian kembali (buyback) saham perseroan sekitar 400 juta saham atau 20% dari modal di setor. Untuk melakukan buyback ini, manajemen perseroan mengaku telah menyiapkan dana Rp100 miliar. Informasi tersebut disampaikan manajemen preseroan dalam keterangan resminya di Jakarta, Senin (16/9).

Disebutkan, perseroan telah menunjuk PT Bahana Securities sebagai perusahaan perantara perdagangan efek. Pembelian kembali saham dilakukan melalui perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Rencananya, pelaksanaan pembelian kembali saham akan dilakukan selama tiga bulan sejak 17 September-17 Desember 2013.

Pembelian saham perseroan akan dilakukan pada harga lebih rendah atau sama dengan harga penutupan perdagangan saham sebelumnya. Dana pembelian kembali saham ini akan berasal dari saldo laba perseroan yang belum ditentukan penggunaannya sekitar Rp122,21 miliar pada 30 Juni 2013.

Langkah pembelian kembali saham ini merujuk pada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nomor:2/POJK.04/2013 pada 23 Agustus 2013 tentang Pembelian Kembali Saham yang dikeluarkan emiten atau peraturan publik dalam kondisi pasar yang berfluktuasi secara signifikan.

Dengan langkah buyback ini, perseroan akan menyimpan saham yang telah dibeli kembali sebagai treasury stock dengan jangka waktu tidak lebih dari tiga tahun. Perseroan dapat sewaktu-waktu melakukan pengalihan atas saham yang dibeli kembali dengan menjual baik di bursa efek maupun di luar bursa efek dan pelaksanaan employee stock option dan employee stock purchase plan.

Terkait pembelian kembali saham yang dilakukan perusahaan BUMN, Kepala Riset PT Universal Broker Indonesia, Satrio Hutomo pernah mengatakan, cukup BUMN yang memiliki kapital pasar yang besar saja yang ikut melakukan buy back. “Cukup misalkan Telkom, BRI, BNI, Semen Gresik. Dengan saham-saham itu saja naik, IHSG bisa terjaga, bisa tinggi dan bisa buat orang untuk tidak terpancing buang saham yang lain,” kata Satrio.

Meski demikian, lanjut Satrio, BUMN yang akan melakukan buy back perlu juga untuk melihat keuangan internalnya. Menurunnya IHSG ini bisa juga menjadi indikator bahwa iklim ekonomi di Indonesia ini memburuk. Jangan sampai nanti BUMN melakukan buy back besar-besaran lalu ketika ekonomi Indonesia lesu lantas tidak mempunyai uang yang cukup untuk menjaga perusahaannya tetap baik.“Kalau kondisi perekonomian benar-benar memburuk untuk jangka panjang, berarti perusahaan memburuk, itu butuh cash juga. BUMN tidak bisa cemplungkan dirinya semuanya. Apalagi, cash perusahaan BUMN terbatas. Dan tidak masuk akal kalau utang untuk beli sahamnya sendiri,” paparnya. (lia)