Pelaku Pasar Manfaatkan Kondisi IHSG Menguat - Bursa Asia Melaju Positif

NERACA

Jakarta – Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak positif seiring dengan laju bursa saham Asia yang mayoritas mengalami penguatan pasca terimbas kenaikan bursa saham Amerika Serikat (AS) di akhir pekan. Pelaku pasar memanfaatkan kondisi tersebut untuk masuk sehingga memberikan imbas positif bagi laju IHSG.

Pergerakan positif indeks terlihat dengan penutupan pada perdagangan Senin (16/9)yang naik 3,35% ke level 4.522,24. Selain itu, indeks saham LQ45 naik 4,08% ke level 766,78. Seluruh sektor saham menguat pada perdagangan saham hari ini.

Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada mengatakan, pelaku pasar terlihat mulai berekspektasi bahwa rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang akan digelar nanti kemungkinan menghasilkan keputusan yang lebih moderat sehingga tidak banyak membuat pasar bergejolak, “Adanya pembelian asing, turunnya yield SUN tenor 10 tahun dan naiknya nilai forward rupiah turut berimbas positif pada IHSG. Bahkan positifnya pembukaan pasar saham Eropa turut mempertahankan IHSG di zona hijaunya meski kembali menciptakan gap,”ujarnya dalam siaran persnya di Jakarta, Senin (16/9).

Sepanjang perdagangan Senin awal pekan kemarin, IHSG menyentuh level tertingginya pada 4522,24 di akhir sesi 2 dan menyentuh level terendah 4403,40 di awal sesi 1 dan berakhir di level 4522,24. Volume perdagangan dan nilai total transaksi naik. Investor asing mencatatkan nett buy dengan kenaikan nilai transaksi beli dan penurunan transaksi jual. Sementara investor domestik justru mencatatkan nett sell.“Meski transaksi forward Rupiah di pasar berjangka mengalami kenaikan, namun dari kurs tengah BI justru sebaliknya, melemah. Di sisi lain, meski telah banyak beredar kabar bahwa pengurangan stimulus The Fed tidak akan signifikan dan membuat US$ sedikit tertekan, tetap saja Rupiah menunjukkan sedikit pelemahan setelah di akhir pekan kemarin menguat merespon kenaikan BI rate”, kata dia.

Sehingga dari fenomena tersebut, menurut dia tampaknya pelaku pasar mengkhawatirkan normalisasi moneter The Fed pekan ini sehingga diperkirakan akan sulit bersinkronisasi dengan laju Rupiah. Pelaku pasar juga masih mengkhawatirkan perlambatan ekonomi Indonesia dengan melihat laju Rupiah kembali mendekati target support 11437. Rp11386-11.448 (kurs tengah BI).

Dia juga menilai laju bursa saham Asia mencoba menguat setelah terimbas kenaikan bursa saham AS di akhir pekan kemarin. Di sisi lain, adanya pemberitaan calon Kepala The Fed, Lawrence Summers, yang memutuskan untuk menarik diri dari pencalonan sehingga membuka peluang Jenet Yellen untuk maju sebagai Kepala The Fed yang dianggap lebih menyukai pengurangan stimulus The Fed secara perlahan.

Menurut dia, hal ini menunjukan berita mengenai pengunduran salah satu calon Kepala The Fed juga turut berimbas positif pada bursa saham Eropa yang hingga kini mencoba menghijau. Saham-saham transportasi dan ritel menopang penguatan bursa saham Eropa seiring penurunan harga minyak mentah global setelah adanya kesepakatan AS-Rusia mengadakan pembicaraan diplomatik untuk menemukan, mengamankan, dan memusnahkan senjata kimia Suriah. Rilis kenaikan balance of trade Italian dan moderatnya rilis inflasi Zona Euro turut berimbas positif. (nurul)

Related posts