Ancaman "Downgrade" Hambat Indeks Saham

Selasa, 17/09/2013

NERACA

Jakarta- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang Agustus 2013 tercatat minus 9,01% dengan aksi jual bersih (net sell) sebesar US$829 juta. Meski saat ini dinilai telah masuk masa konsolidasi, adanya kekhawatiran downgrading target pertumbuhan laba menyusul potensi melambatnya pertumbuhan ekonomi dapat menjadi hambatan IHSG untuk melanjutkan tren kenaikannya.

Dari hasil riset PT Danareksa Investment Management, per akhir Agustus 2013, valuasi harga/EPS (Earning per share) IHSG untuk 12 bulan mendatang berada di level 12.83x di 2014F. Valuasi ini tercatat lebih murah dibandingkan dengan rata-rata valuasi ASEAN-5 di level 13.46x. Karena itu, pasar saham diperkirakan akan konsolidasi setelah menguat signifikan dari level terendahnya dengan sejumlah saham yang sudah memasuki area jenuh jual (oversold) mulai menunjukkan penguatan (rebound).

Pihaknya mencatat, pada Agustus 2013, sektor pertambangan menjadi sektor dengan performa terbaik dengan penguatan 11.46%. Menguatnya sektor pertambangan dinilai beberapa kalangan karena tercatat telah mengalami koreksi sebelumnya dengan valuasi sahamnya yang sudah sangat rendah. Tidak heran, kondisi ini pun menarik investor dengan harapan pada saat IHSG mulai menanjak, harga-harga saham di sektor ini akan ikut naik.

Kondisi sebaliknya terjadi pada sektor properti. Dengan pertumbuhannya yang cukup agresif hingga 40% di atas IHSG, sektor properti dinilai rawan koreksi. Terbukti, pada Agustus 2013, sektor properti menjadi sektor dengan performa terburuk, hingga minus 16.27%.

Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang bergerak fluktuatif pada Juli-Agustus lalu disebut sebut karena kebanyakan investor asing cenderung melakukan aksi spekulasi. “Fluktuasi Indeks disebabkan aksi spekulasi yang cenderung tinggi dari asing dibandingkan melakukan investasi.” kata praktisi pasar modal, Lucky Bayu Purnomo.

Menurut dia, kondisi ini lebih disebabkan kondisi internal Indonesia di mana kebijakan yang baru saja diputuskan terkait harga Bahan Bakar Minyak (BBM) menimbulkan persepsi yang negatif. \"Ketika harga BBM dinaikkan akan memberikan pengaruh mendasar pada peningkatan harga komoditas sehingga akan mempengaruhi pertumbuhan pasar komoditas.\" jelasnya.

Karena itu, sentimen positif dari lembaga rating Moody\'s terkait peringkat utang RI dari stabil menjadi positif pun pada saat itu tidak serta merta diikuti dengan kenaikan IHSG. Pasalnya, investor menilai kondisi makro ekonomi indonesia tidak lagi solid.

Senada dengan Lucky, pengamat pasar modal dari FEUI, Budi Frensidy mengatakan kondisi makrop ekonomi menjadi hal serius yang harus diperhatikan pemerintah. Dana-dana asing memang diperkirakan akan kembali ke Indonesia, terlebih Indonesia tidak mengalami downgrade. Sehingga investor akan mempertimbangkan return yang menarik, baru kemudian dilihat dari risikonya.

Meski demikian, Indonesia harus menjaga pertumbuhan ekonomi dan mengembalikan kepercayaan kepada investor. “Soalnya, kalau itu tidak diperhatikan, saya tak jamin dana itu bakal mengalir ke negara-negara emerging market lainnya seperti, Filiphina, India, dan negara lainnya yang menawarkan return yang juga lebih tinggi,” jelasnya. (lia)