KIARA: Proyek Demfarm Tidak Tepat Sasaran

Perikanan Budidaya

Selasa, 17/09/2013

NERACA

Jakarta - Sejak tahun 2012 Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan, telah melaksanakan kegiatan percontohan tambak (demfarm). Pemerintah menganggarkan dana sebesar Rp. 398,92 miliar yang bersumber dari APBN-P. Program ini dititikberatkan untuk mengembangkan industrialisasi perikanan budidaya yang memfokuskan pada empat komoditas, yaitu udang, bandeng, patin, dan rumput laut.

“Tambak udang yang ditargetkan luasannya mencapai 1.000 Ha, tambak bandeng mencapai 500 Ha tersebar di 6 kabupaten di Provinsi Jawa Barat dan Banten. Hanya saja program yang diklaim sebagai percontohan implementasi teknologi dan manajemen budidaya perikanan dengan meminimalisasi kegagalan, serta meningkatkan produktivitas ini ternyata banyak masalah dalam implementasinya,” ujar Sekjen Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) Abdul Halim dalam pesan resminya yang dikutip Neraca, Senin (16/9).

Menurut Halim,dalam pantauan KIARA pada tanggal 4 September 2013 di Indramayu, didapati fakta bahwa: pertama, penerima pogram tidak tepat sasaran. Pihak yang menerima progam merupakan para jugaran tambak dan bukan petambak tradisional yang seharusnya mendapatkan bantuan. Kedua, lahan yang dijadikan tambak percontohan merupakan kawasan hutan mangrove (alih fungsi lahan).

Dia menyebut, laporan dari Pontang Banten pada tanggal 30 Agustus 2013 menyebutkan bahwa masyarakat yang mengikut program ini merupakan para pemilik tambak dalam skala besar (puluhan hektar) yang mempekerjakan petambak-petambak kecil. Pengakuan warga juga menyebutkan, bahwa kegiatan pertambakan yang berada di Desa Domas, Kecamatan Pontang merupakan milik invetor asing dari Korea. Mereka membeli tanah dari petambak seluas 270 Ha.

“Melihat fakta lapangan tersebut, KIARA menilai bahwa proyek demfarm ini salah sasaran dan implementasi di lapangan tanpa kesungguhan untuk menyejahterakan masyarakat petambak tradisional. Untuk itu, KIARA mendesak kepada pemerintah untuk menghentikan program demfarm dan lebih memprioritaskan program yang langsung menyentuh kebutuhan para petambak tradisional,” tandas Halim.

Ubah Cara Bertambak

Terkait hal ini, KKP menilai program revitalisasi tambak udang melalui tambak demfarm sejak tahun 2012 telah mengubah cara bertambak para pembudidaya udang di wilayah Pantura khususnya di wilayah Banten dan Jawa Barat.

“Tujuan awal dari program ini adalah untuk merubah mindset petambak dari semula bertambak secara individual menjadi komunal (sistim klaster/kelompok) serta memperkuat jiwa kewirausahaan di kalangan petambak tradisional. Sistim klaster diperlukan sekali agar petambak bisa mengendalikan musim tanam, asal usul benih yang berkualitas dan prosedur pemeliharaannya dan sangat bermanfaat bagi pengendalian serta isolasi penyakit,” kata Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebjakto dalam keterangan resminya.

Saat ini para pembudidaya udang yang dulunya bertambak secara tradisional dan sekarang telah tergabung dalam satu kelompok serta bertambak dalam satu klaster, sudah bisa bernafas lega. Salah satu petambak udang demfarm yang berhasil adalah Carkimudin. Petambak yang sekaligus Ketua KUD Karya Bukti Sejati ini telah membuktikan bahwa budidaya dengan sistem tertutup dalam satu klaster mampu panen size 33 menghasilkan 10 ton dari 1 ha tambak dan sudah tercapai pada siklus pertama budidaya udang yang dilakukan.

“Saya tidak menyangka bahwa di daerah sini masih bisa memproduksi udang sebanyak itu. Sebelum adanya program revitalisasi daerah tambak di Subang banyak yang mangkrak karena para pemiliknya sudah tidak mau dan mampu lagi menjalankan usaha budidaya udang. Sekarang, dengan melihat keberhasilan panen udang, tambak-tambak yang tadinya mangkrak mulai banyak dikelola oleh pemiliknya dengan modal sendiri,” kata Carkimudin.

Bantuan Revitalisasi

Bantuan program KKP melalui revitalisasi tambak udang, pada tahun 2012 dan 2013 diberikan dalam bentuk barang dengan pola kemitraan. “Hal ini untuk memotivasi dan lebih meningkatkan tanggung jawab dan rasa memiliki petambak udang terhadap program revitalisasi tambak bersama mitra, dan sekaligus membuka pintu perbankan untuk lebih berperan sejak awal dalam pemberian bantuan modal kepada petambak dalam mengelola usaha budidaya udang,” tambah Slamet.

Dengan tingkat keberhasilan program revitalisasi tambak oleh KKP seperti yang dirasakan para pembudidaya di lokasi tambak demfarm sekarang ini, pembudidaya banyak yang mendapatkan shock culture karena pendapatan yang luar biasa dalam waktu singkat.

“Dampak yang dirasakan dengan adanya program ini adalah usaha budidaya udang vaname baru bermunculan disekitar tambak demfarm. Penambahan luasan tambak baru tersebut sudah mencapai 250 ha yang akan operasional dan sekitar 150 ha lagi sedang dalam konstruksi. Bahkan dari seribu hektar tambak yang direvitalisasi melalui program ini, mampu menyerap tenaga kerja baik musiman maupun tetap sebanyak 130 ribu orang. Ditambah lagi, posisi tawar udang Indonesia yang cukup tinggi di dunia karena bebas EMS, bebas residu dan bebas tuduhan subsidi AS, industri perudangan nasional akan bergairah yang otomatis akan berdampak positif bagi para pelaku usaha di dalamnya khususnya petambak udang,” tambah Slamet.

Topik Terkait

kiara masalah perikanan