Kekayaan Seni Budaya Suku Asmat

Festival Budaya Asmat 2013

Sabtu, 21/09/2013

Acara kebudayaan memang menjadi acara yang sangat digemari, tidak hanya wisatawan lokal wisatawan asing pun banyak datang untuk menyaksikan acara kebudayaan Indonesia. Ekspresi seni dan budaya Suku Asmat di Papua akan menjadi pusat perhatian seiring digelarnya Festival Budaya Asmat 2013.

Event ini dijadwalkan berlangsung di Lapangan Yos Sudarso, Kabupaten Asmat pada 15 sampai 19 Oktober 2013. Festival budaya ini akan diramaikan pameran ukiran kayu khas Asmat yang merupakan benda bernilai seni tinggi. Suku Asmat dikenal memiliki kemampuan membuat seni ukiran kayu yang mumpuni dimana mereka dapat langsung mengukir langsung tanpa menggambar sketsanya terlebih dahulu.

Bagi suku Asmat, ukiran kayu yang mereka buat erat kaitannya dengan roh leluhur dan karenanya tidak semata diangap sebagai karya seni. Banyak dari benda seni yang dibuat Suku Asmat adalah simbol perang, pengayauan, dan pemujaan kepada prajurit leluhur. Selama berabad-abad, suku Asmat yang berusaha memenuhi keinginan roh leluhur dengan menghasilkan karya seni luar biasa dalam bentuk perisai, kano, pahatan, dan drum.

Selain pameran ukiran kayu dan lelang, festival ini juga akan diramaikan oleh ratusan seniman yang akan unjuk keahlian menenun, berperahu, menari, dan pertunjukan musik tradisional. Pada penutupan festival akan ada acara pelelangan karya seni Suku Asmat.

Terletak di bagian SelatanPapuadan menghadap ke Laut Arafuru, Kabupaten Asmat dulunya bagian dari Kabupaten Merauke. Pada Februari 2011, kabupaten ini mendapat pengakuan UNESCO sebagai situs warisan dunia.

Untuk mencapai Agats, Anda dapat mengambil penerbangan dariJakartaatauBalike Timika kemudian melanjutkan dengan pesawat kecil ke Ewer. Dari Ewer, Anda harus menumpangspeed boatuntuk mencapai Agats. Garuda Indonesia melayani penerbangan dari Jakarta dan Denpasar ke Timika. Ada pula Merpati Nusantara Airlines tebang dari Jayapura, ibu kota Papua, ke Bandara Mozes Kilangin di Timika. Susi Air mengoperasikan penerbangan untuk tujuan lokal di Papua, termasuk dari Timika ke Ewer.

Tidak ada hotel di Asmat; untuk kebutuhan akomodasi pilihannya adalah tinggal di rumah lokal yang disebut bujang (rumah panjang), atau di Agats, dimana terdapat akomodasi sederhana yang tarifnya berubah-ubah. Semua keterbatasan sarana akan terbayar dengan pengalaman yang amat berharga di Asmat. Banyak wisatawan merelakan waktu mereka menempuh perjalanan jauh demi sebuah pengalaman luar biasa di Asmat.

Asmat sendiri menjadi sorotan dunia ketika Michael Rockefeller, putra Gubernur New York, Nelson Rockefeller, dinyatakan hilang pada 1961 saat melakukan ekspedisi kedua di wilayah ini. Pada kunjungan pertamanya Michael sangat terkesan dengan patung Asmat dan berencana untuk memamerkannya di sebuah pameran di Amerika Serikat. Sayangnya, kabarnya perahu yang ia tumpangi terbalik akibat gelombang besar.