Menunggu Putusan The Fed

Selasa, 17/09/2013

Setiap investor selalu dihadapkan pada kemungkinan mendapatkan capital gain atau capital loss. Jadi Investasi saham di samping mengandung resiko besar juga menawarkan keuntungan yang menggiurkan. Mengingat dalam pasar keuangan, dikenal istilah high risk high return, low risk low return. Oleh karena itu, agar investor mendapatkan keuntungan maka dia harus bisa memperkirakan pergerakan dari indeks saham sehingga investor tahu kapan harus beli dan kapan harus jual saham.

Perubahan permintaan dan penawaran bisa terjadi karena faktor yang rasional maupun yang irrasional. Faktor rasional mencakup kinerja perusahaan, tingkat bunga, tingkat inflasi, tingkat pertumbuhan, kurs valuta asing atau indeks harga saham negara lain. Faktor yang irasional mencakup rumor di pasar, mengikuti mimpi, bisikan teman atau permainan harga.

Dalam kenaikan atau penurunan harga saham selalu ada kesalahan yang disebut overreaction atau mispriced. Jika harga terus naik maka akan diikuti dengan penurunan harga pada periode berikutnya. Overreaction terjadi karena terlalu optimistis atau pesimistis dalam menanggapi suatu peristiwa yang diperkirakan berpengaruh terhadap kinerja perusahaan di masa datang. Kedua sikap itu mempercepat kenaikan atau penurunan harga saham sehingga ada unsur mispriced, akibatnya akan terjadi arus balik untuk mengkoreksi mispriced tersebut

Terkait dengan perdeseran dari pesimisme menjadi optimisme yang akan diperlihatkan saat keputusan Bank Sentral AS (The Fed) pada 17-18 Sept. 2013, yaitu rencana pengurangan stimulus (tapering off). Sebuah keputusan yang sederhana, namun berimplikasi sangat masif pada tingkat kekhawatiran pelaku pasar dunia, maupun tingkat kepercayaan investor termasuk di Indonesia.

Di tengah kondisi tersebut, sekarang juga terjadi perubahan pandangan secara bertahap. Tidak sedikit pesimisme di Amerika Serikat sempat beredar di pasar, yang semula bersikap pesimisme menuju ke pandangan lebih optimisme. Terlepas dari kekhawatiran investor dunia yang kian memuncak saat perbaikan ekonomi negara Adidaya itu berujung pada pencabutan stimulus The Fed.

Terlepas dari semua kondisi dan sentimen negatif yang masih belum sepenuhnya hilang, Indonesia sebenarnya masih menjadi salah satu negara yang mengalami pertumbuhan ekonomi positif di dunia, walau kecenderungannya menurun dari 5,9% menjadi 5,25% pada tahun ini sesuai prediksi IMF.

Dengan segala kondisi yang ada saat ini, sepertinya wajar bahwa hanya bagi investor yang memiliki tingkat spekulasi tinggi saja yang akan menikmati keuntungan berinvestasi di negeri ini, sesuai azas high risk high return dalam teori fundamental yang berlaku secara universal.

Kita memang menyadari apabila kebijakan The Fed jadi terlaksana, maka akan terjadi pembalikan dana asing ke luar Indonesia (sudden reverseal) secara signifikan. Sejumlah faktor pemicu di antaranya India yang mengalami pelemahan mata uangnya (Rupee) terdalam di Asia, menyusul depresiasi rupiah terhadap dolar AS akibat krisis kepercayaan, serta kondisi Jepang yang terus berupaya keras mengejar angka inflasi setelah mengalami deflasi berkepanjangan belakangan ini.

Karena itu, wajar bila hingga saat ini kita masih sering melihat sebuah fluktuasi harga saham di beberapa negara termasuk Indonesia, yang menunjukkan konfirmasi belum stabilnya kepercayaan pasar, dan semakin jauhnya perbedaan sudut pandang positif dan negatif di beberapa bursa saham di dunia.

Ada baiknya para investor sekarang lebih mencermati kondisi sentimen yang terjadi di dalam negeri, tanpa meninggalkan fokus sentimen regional dan global. Dua faktor penting yang patut diperhatikan adalah data defisit current account dan defisit perdagangan Indonesia, yang jadi faktor pemicu pelemahan rupiah dan indeks saham di bursa domestik saat ini.