Kadin: Produktivitas Pertanian Butuh Praktik Berkelanjutan

Selasa, 17/09/2013
NERACA

Jakarta - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) menyatakan agar upaya dalam mewujudkan peningkatan produktivitas sektor pertanian di Indonesia membutuhkan penerapan praktik pertanian yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. \"Dalam strategi jangka panjang, misi untuk mewujudkan peningkatan produksi membutuhkan dukungan penerapan praktik berkelanjutan yang ramah lingkungan untuk memastikan adanya ketersediaan pangan,\" kata Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Lingkungan Hidup dan Perubahan Iklim Shinta W. Kamdani lewat keterangan pers yang diterima Neraca, akhir pekan kemarin.

Menurut Shinta, strategi keberlanjutan harus dimulai dari perubahan paradigma konsumsi pangan oleh seluruh lapisan konsumen, dan ditingkatkan skala implementasinya oleh dunia usaha melalui praktik produksi dengan prinsip keberlanjutan yang jelas penting agar kesejahteraan bisa sampai generasi yang akan datang. Ia berpendapat, pemerintah memegang peranan penting untuk mendesain program edukasi secara besar besaran dan berskala nasional tentang tuntutan perubahan pola konsumsi yang sudah tidak dapat ditawar, jika bangsa Indonesia ingin mempertahankan kemampuannya memperoleh pangan yang layak dalam jangka panjang.

Sementara dari sisi Kadin Indonesia, ujar dia, pekerjaan rumah pihaknya adalah meningkatkan produktivitas petani dan seluruh rantai nilai produksi pangan dengan mendorong inovasi bagi ketahanan pangan nasional. \"Penyelesaian masalah kerusakan lahan harus komprehensif, sehingga perlu pendekatan-pendekatan yang inovatif untuk tata kelola lahan yang berdasarkan azas keberlanjutan, dan bukan hanya prinsip lingkungan semata dan mengabaikan potensi pertumbuhannya,\" ucapnya.

Ia mengingatkan, Indonesia tidak hanya sebagai salah satu produsen terbesar dan eksportir sumber daya alam, tetapi juga sebagai konsumen terbesar dengan jumlah penduduk ke empat terbesar di dunia. \"Indonesia adalah rumah bagi pemodal, produsen, pengolah dan pembeli dalam rantai ekonomi, tak hanya domestik tetapi juga memasok pasar luar negeri. Oleh karenanya isu lingkungan dan keberlanjutan harus diperhatikan dengan cermat,\" ujar Shinta.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan produktivitas pertanian nasional dalam 10 tahun terakhir mengalami peningkatan meskipun angkatan kerja di sektor tersebut menurun. Kepala BPS Suryamin mengatakan bahwa persentase penduduk 15 tahun ke atas yang bekerja di sektor pertanian mengalami penurunan dari 40,61 juta orang pada tahun 2004 menjadi 39, 96 juta orang pada tahun 2013, atau dari 43,33% menjadi 35,05%.

Sementara itu, dalam kurun waktu yang sama produksi padi naik dari 52,14 juta ton menjadi 69,27 juta ton gabah kering giling (GKG) atau tumbuh 3,29% per tahun. Begitu juga untuk produksi jagung naik dari 10,89 juta ton pada tahun 2003 menjadi 18,84 juta ton pipilan kering pada tahun 2013, atau tumbuh sebesar 7,16% per tahun.

Sementara itu, kontribusi sektor pertanian dalam produk domestik bruto (PDB) meningkat dari 14,30% menjadi 15,04% selama 2004--2013. \"Ini menunjukkan bahwa produktivitas di sektor pertanian mengalami peningkatan meskipun jumlah tenaga kerja menurun,\" kata Suryamin.

Selain jumlah tenaga kerja yang berusia 15 tahun ke atas, menurut Kepala BPS itu, jumlah rumah tangga petani selama 2003--2013 juga mengalami penurunan sekitar 1,75% rata-rata per tahun. Ia mencontohkan jumlah rumah tangga petani di Jawa pada tahun 2003 sebanyak 17,91 juta rumah tangga. Namun, pada tahun 2013 menjadi 13,42 juta rumah tangga.

Begitu juga di Sumatra, jumlah rumah tangga petani turun dari 6,60 juta rumah tangga menjadi 6,28 juta, kemudian di Sulawesi dari 2,41 juta menjadi 2,22 juta rumah tangga selama 2003--2013. \"Komposisi jumlah rumah tangga usaha pertanian bergeser dari Pulau Jawa ke luar Pulau Jawa,\" katanya.

Pada tahun 2003, jumlah rumah tangga usaha pertanian di Jawa sebesar 57,48%. Namun, pada tahun 2013 menjadi 51,38%. Sementara itu, di luar Jawa justru meningkat, seperti di Sumatra dari 21,19% manjadi 24,05%, Sulawesi dari 7,7% menjadi 8,6 % dan Kalimantan dari 5,2% menjadi 5,9%. Ketua Komite Ekonomi Nasional (KEN), Chairul Tanjung menilai, sektor pertanian sangat penting dalam membangun sebuah daerah. Apabila dikelola baik, sektor pertanian mampu mengatasi persoalan kemiskinan. \"Sekitar 34% angka kemiskinan diserap sektor pertanian dan kontribusinya ke PDRB hanya 14%,\" ungkap Chaerul.

Pertanian jika mampu diindustrialisasi, akan berdampak pada terjadinya peningkatan yang signifikan. Karena itu, masalah pertanian bukan hanya sebatas petaninya saja, tapi juga industrinya. \"Usaha tani dan agroindustri bisa menyerap tenaga kerja dengan signifikan. Sekarang, masalah kita adalah kemiskinan dan kesenjangan serta pengangguran. Sudah saatnya kita lakukan revitalisasi di bidang pertanian,\" terangnya.

Chaerul menjelaskan, ada tiga hal yang saat ini sedang dikaji KEN bersama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Pertama, subsidi yang begitu besar mencapai Rp300 triliun untuk energi, BBM dan listrik. Angka tersebut harus dikurangi tanpa menimbulkan efek. Kedua, adalah persoalan pangan. Terjadinya fluktuasi harga pangan beberapa hari terakhir, seperti sapi dan bawang putih menjadi perhatian serius semua kalangan.

Ketiga, kemiskinan dan kesenjangan. \"Hasil diskusi pada round table ini akan disampaikan ke Presiden dalam waktu dekat,\" tuturnya. Dia menyatakan, saat ini anggaran pemerintah pusat untuk sektor pertanian tidak kurang dari Rp 60 triliun. Tapi, arahnya belum pas sehingga subsidi input belum dirasakan oleh para petani kita. [bari]