Produksi Minyak Pertamina Capai 202 Ribu Barel/Hari

Selasa, 17/09/2013
NERACA

Jakarta - PT Pertamina mencatat kenaikan produksi minyak mentah dan kondensat dalam beberapa tahun terakhir dan kini stabil di atas 200 ribu barel per hari. Direktur Hulu Pertamina M Husen, mengatakan bahwa produksi minyak pada tahun 2013 hingga pertengahan September ini mencapai 202 ribu barel per hari. \"Produksi minyak tahun ini sudah lebih tinggi daripada produksi pada tahun lalu yang tercatat 195.530 barel per hari,\" katanya, akhir pekan kemarin.

Sementara itu, produksi gas bumi hingga medio September 2013 mencapai 260 ribu barel setara minyak per hari. Dengan demikian, secara total, produksi minyak dan gas tercatat 462 ribu barel setara minyak per hari. Menurut Husen, dalam beberapa tahun terakhir, produksi minyak Pertamina terus mengalami kenaikan. Kalau pada tahun 2007, produksi minyak BUMN tersebut masih 143 ribu barel per hari, pada 2013 ini konstan di atas 200 ribu barel per hari atau naik rata-rata 6,5% per tahun.

Perinciannya, setelah 2007 sebesar 143 ribu barel per hari, 2008 naik menjadi 150 ribu barel, 2009 176 ribu barel, 2010 191 ribu barel, 2011 193 ribu barel, 2012 196 ribu barel, dan sampai September 2013 202 ribu barel per hari. Produksi minyak Pertamina berasal dari tiga anak usaha, yakni PT Pertamina Hulu Energi (PHE), PT Pertamina EP (PEP), dan PT Pertamina EP Cepu (PEPC). Husen mengatakan bahwa tambahan produksi minyak terbesar berasal dari PHE, terutama Blok West Madura Offshore (WMO) dan Offshore North West Java (ONWJ).

Produksi WMO mencatat kenaikan dari 6.300 barel per hari pada bulan Januari 2013, dan kini sudah menembus 25 ribu barel per hari. Demikian pula, ONWJ yang sebelumnya hanya 22 ribu barel pada tahun 2009, kini menjadi di atas 40 ribu barel per hari. Secara keseluruhan, produksi PHE sudah meningkat hampir dua kali lipat dari 33.600 barel pada tahun 2008 menjadi di atas 65 ribu barel per hari.

Sebelumnya, Manajer Humas PT Pertamina EP Agus Amperianto menyatakan optimistis produksi minyak pada tahun 2013 mencapai 125 ribu-127 ribu barel per hari atau melampaui asumsi APBN Perubahan 2013 sebesar 123.330 barel per hari. Produksi sekitar 125 ribu barel per hari itu dengan asumsi hanya mengandalkan pemeliharaan (maintenance) dan kerja ulang (work over) pada sumur yang ada atau tanpa pembebasan lahan. Namun, lanjut dia, kalau rencana pemboran sebanyak 30 sumur di lahan baru bisa dilakukan, produksi minyak akan lebih besar lagi, yakni 127 ribu-129 ribu barel per hari. \"Hanya saja, sebagian besar pemboran sumur tersebut terkendala pembebasan lahan,\" kata Agus. Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum, pembebasan lahan melibatkan sejumlah instansi seperti Badan Pertanahan Nasional (BPN) dan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas). Kalau mengikuti UU, kata dia, pembebasan lahan membutuhkan waktu 584 hari atau hampir dua tahun.

Ke depan, lanjut Husen, Pertamina berharap tambahan produksi minyak berasal dari kegiatan pemboran tingkat lanjut (enhance oil recovery/EOR). \"Dari potensinya, EOR bisa berproduksi hingga 200.000 barel per hari,\" ujarnya. Potensi tambahan lain juga diharapkan berasal dari akuisisi sejumlah blok migas di dalam dan luar negeri. \"Kami harapkan ada program akuisisi yang terealisasi tahun ini,\" katanya.

Pertamina menargetkan akuisisi sebanyak lima blok migas yang berlokasi di luar negeri pada tahun 2013. Kelima blok tersebut memiliki tingkat produksi minimal 20 ribu barel setara minyak per hari.Sekadar informasi, Pertamina menargetkan produksi minyak pada 2013 mencapai 243.920 bph atau naik 24,4% dibandingkan 2012 sebesar 196.060 barel per hari. Direktur Utama Pertamina, Karen Agustiawan mengatakan, anak perusahaan Pertamina, PT Pertamina EP akan memberikan kontribusi produksi minyak paling besar, yakni sebesar 137.200 bph. Terkendala pembebasan lahan

Sementara itu, Anggota Komisi VII DPR, Bobby Rizaldi mengatakan, pihaknya meyakini Pertamina mampu memproduksi sesuai target yang ditetapkan. \"Kami juga optimis Pertamina bisa mempertahankan sebagai pembayar dividen terbesar di antara BUMN lainnya,\" kata Bobby.

Ke depan, lanjutnya, Pertamina harus fokus mengoptimalkan produksi dan akuisisi lapangan di dalam negeri. Dia meminta agar Pertamina lebih mengefisienkan diri dalam bisnis hilir, sehingga marjin distribusi bisa lebih rendah.

Anggota Komisi VII DPR lainnya, Achmad Rilyadi juga meminta Pertamina untuk mempertahankan kinerja yang sudah bagus pada 2012. \"Ke depan, kami harapkan Pertamina lebih mengefektifkan penyaluran BBM bersubsidi,\" katanya.

Manajer Humas Pertamina EP Agus Amperianto menjelaskan angka produksi ini sebenarnya bisa lebih besar lagi jika rencana pemboran 30 sumur. Tapi hal ini masih terkendala pembebasan lahan. Dari rencana pemboran 30 sumur itu, belum satupun terealisasi. Sumur-sumur tersebut antara lain berada di area Jambi, Sumsel, dan Kaltim.

Rumitnya prosedur pembebasan tanah menjadi penyebab dari terhalangnya realisasi pemboran sumur. Dibutuhkan waktu hingga 584 hari yang melibatkan berbagai instansi seperti Badan Pertanahan Nasionaldan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Hulu Minyak dan Gas Bumi, mengikuti UU Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum. Jika rencana pemboran sebanyak 30 sumur bisa dilakukan, maka produksi minyak akan lebih besar lagi yakni hingga 127 ribu-129 ribu barel per hari. [bari]