IFC Investasi US$438 Juta

Sepanjang 2013

Senin, 16/09/2013

NERACA

Jakarta – International Finance Corporation (IFC) menanamkan modalnya kembali ke Indonesia hingga US$438 juta pada tahun ini. Pasalnya, peluang investasi dalam negeri dianggap menarik untuk dikembangkan. Ketika sejumlah investor lainnnya justru menarik modal dari Indonesia.

“Sejumlah investasi kami itu akan alokasikan pada proyek-proyek pendampingan teknis kami pada tahun fiskal 2013 ini. Padahal sejumlah investor lainnya justru menarik uang. Tapi kami melihat justru banyak peluang yang dapat dikembangkan,” kata Wakil Presiden IFC untuk Asia Timur dan Pasifik Karin Finkelston di Jakarta, pekan lalu.

Salah satu anggota kelompok Bank Dunia ini memandang peluang investasi di Indonesia masih menarik untuk jangka waktu panjang. Hal ini terbukti dengan pertumbuhan investasi IFC di Indonesia yang meningkat sangat signifikan. “Tahun lalu kita sudah menamam modal sekitar US$300 juta. Jadi investasi sebesar US$438 yang akan kita tanam di tahun 2013 itu sebetulnya merupakan bagian dari profit di tahun sebelumnya,” tutur Karin.

Secara rinci Karin mengatakan sekitar 76,7% investasi tahun 2012 telah disalurkan ke industri manufaktur, agribisnis, dan jasa. Sisanya sebesar 13,3% telah disalurkan untuk pembiayaan infrastruktur dan 10% lainnya untuk jasa keuangan. Kebanyakan dari industri tersebut katanya merupakan Usaha Kecil Menengah (UKM).

“Nah untuk tahun 2013, sementara ini dari total investasi yang kita tanam di Indonesia senilai US$336 juta sudah masuk lagi ke sektor yang sama. Sebesar US$58 juta kita salurkan ke sektor infrastruktur dan US$44 juta sudah kita salurkan ke sektor fiskal atau pasar keuangan. Kami melihat pemerintah punya kebijakan fiskal untuk tahun ini. Sehingga penyaluran dana tersebut kami pikir sudah tepat tujuan,” imbuh Karin.

Lebih jauh Karin mengungkapkan dari sejumlah investasi yang dialirkan ke sektor jasa keuangan di tahun 2013 sebagiannya sudah masuk industri. Salah satunya Mitra Bisnis Keluarga Ventura (MBK), yaitu senilai US$9 juta. Langkah ini dianggap IFC sebagai langkah strategis untuk melakukan ekpansi pelayanan keuangan untuk membangun UKM.

“Kami memilih MBK sebagai mitra kerja karena industri ini bisa memberikan pelayanan keuangan kepada masyarakat yang keuslitan memiliki akses perbankan. Padahal mereka juga memiliki potensi untuk membangun perekonomian dalam negeri. Untuk itu kita sudah berkomitmen untuk bekerjasama dengan MBK sampai tahun 2017,” jelas Karin. [lulus]