Ketidakstabilan Rupiah Rupiah Tekan IHSG

Senin, 16/09/2013

NERACA

Jakarta- Masih labilnya laju nilai tukar rupiah atas mata uang dolar dan kondisi bursa regional dinilai menjadi sentimen yang mempengaruhi tren pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke depan. Setelah menguat 303,19 poin atau sebesar 7,44% sepekan kemarin, laju IHSG pada pekan ini diperkirakan akan berada pada rentang support 3995-4182 dan resistance di level 4465-4500.

Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada mengatakan, IHSG membentuk pola menyerupai separating lines di atas lower bollinger bands. MACD masih menurun dengan histogram negatif yang memendek. RSI, William’s %R, dan Stochastic mencoba naik dari area oversold. “Adanya sentimen positif sepanjang pekan kemarin membawa IHSG berhasil melampaui target resisten kami di 4218-4222. Namun, IHSG bisa saja terkena labilisasi laju pergerakan terkait dengan sentimen yang ada.” katanya di Jakarta, Minggu (15/9).

Menurut dia, jika sentimen yang ada pada pekan ini, terutama dari hasil keputusan FOMC direspon negatif maka IHSG pun dapat berbalik melemah. Selain itu, laju nilai tukar juga masih akan menjadi perhatian pelaku pasar. “Jika pun terjadi penguatan maka kemungkinan bersifat terbatas dengan hambatan adanya profitisasi.” ujarnya.

Dia memaparkan, seperti yang terjadi sebelumnya, adanya hasrat untuk melakukan profitisasi membuat apresiasi IHSG jelang akhir pekan kemarin terasa berkurang. Di antara faktor yang ikut mendorong kenaikan IHSG antara lain terimbas laju bursa saham Asia yang mulai menguat dan rilis positif beberapa data dari Asia dan Eropa. Termasuk rilis data perdagangan China yang positif hingga awal pekan kemarin sehingga memberikan amunisi baru bagi bursa saham regional yang masih melanjutkan kenaikannya.

Pelaku pasar pun memanfaatkan momen tersebut dan membuat IHSG kembali di zona positif, di mana sepanjang pekan kemarin, asing terkonspirasi lakukan nett buy sebesar Rp 2,08 triliun atau lebih tinggi dari pekan sebelumnya -830,64 miliar. “Tidak hanya itu, rilis positif data-data dari Jepang serta penguatan lebih dari 200 poin pada Nikkei, HSI, dan terutama Sensex yang naik hingga 634-an poin di awal pekan sepertinya membuat IHSG panas sehingga ikut juga mengalami kenaikan.” tuturnya.

Kondisi ini, kata dia, juga didukung adanya beberapa transaksi nego saham-saham BUMN dengan nilai lebih dari Rp341 miliar di awal pekan sehingga ikut membantu kenaikan IHSG. Tercatat, IHSG selama sepekan mengalami kenaikan 303,19 poin atau sebesar 7,44%, lebih baik dari pekan sebelumnya yang melemah -122,74 poin (-2,93%). IDX30 memimpin penguatan dengan kenaikan +9,65% diikuti indeks LQ45 dan MBX yang masing-masing naik 8,97% dan 7,96%.

Laju indeks sektoral pun mayoritas mengalami kenaikan, yang dipimpin indeks keuangan dengan kenaikan 14,37% diikuti indeks properti yang naik 12,45%, dan industri dasar naik 10,27%. Sementara indeks pertambangan dan perkebunan yang sebelumnya menguat, kali ini melemah masing-masing -2,95% dan -3,08%.

Pada pekan ini Reza menyarankan pelaku pasar untuk mencermati sektor perdagangan, infrastruktur, manufaktur, keuangan, dan properti. Sejumlah saham yang dapat diperhatikan antara lain PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (AISA). PT Semen Indonesia Tbk (SMGR), PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN), PT Arwana Citra Mulia Tbk (ARNA), PT Charoen Phokpand Indonesia Tbk (CPIN), PT Astra Otoparts Tbk (AUTO), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF). (lia)