Kenaikan BI Rate, Sektor Perbankan Paling Terpukul - Penyaluran Kredit Lambat

NERACA

Jakarta – Kebijakan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga bank atau BI rate sebesar 25% menjadi 7,25% untuk meredam pemelahan nilai tukar rupiah terhadap dolar, tidak membuat happy bagi sebagian pelaku pasar. Pasalnya, kebijakan BI akan memberikan dampak negatif terhadap emiten sektor perbankan disamping empat sektor lainnya.

Menurut Kepala Riset MNC Sekuritas, Edwin Sebayang, sektor perbankan diprediksi paling terpukul terhadap kenaikan BI rate lantaran adanya perlambatan dalam penyaluran kredit. Lanjutnya, dengan adanya kenaikan BI Rate, perbankan akan menaikan suku bunga kredit dan deposito, sehingga nantinya penyaluran kredit akan melambat karena bunganya cukup tinggi dari sebelumnya, “Perbankan akan kena dampak karena 20% dananya tidak bisa keluar karena harus diparkir. Selain itu pertarungan bunga akan besar sekali yang membuat kemampuan kredit dan net profit otomatis berkurang, “ujarnya di Jakarta akhir pekan kemarin.

Dia juga menyebutkan sektor saham multifinance, semen, kontruksi dan properti merupakan sektor saham yang akan terkena imbas dari kenaikan BI Rate. Karena sektor-sektor tersebut dalam mencari dana akan meminjam perbankan yang bunga pinnjamannya naik setelah BI Rate dinaikan.“Sektor multifinance dan infrastruktur terpengaruh karena dananya dari bank. Sementara multifinance yang tidak berada dibawah perbankan akan terkena dampak negatif yang lebih besar karena memang tidak cukup kuat untuk menghadapi kenaikan BI Rate ini.

Berikutnya, untuk sektor juga bakal terkena dampaknya karena konstruksi dan properti akan mengurangi kegiatannya. Kedepan, kata Edwin, dana asing yang sudah keluar dari Indonesia belum bisa kembali dengan cepat ke pasar modal Indonesia. Alasannya, setelah BI menaikan suku bunga BI rate rupiah tak kunjung menguat. Sehingga pasar, terutama investor asing menilai dalam waktu dekat ekonomi Indonesia belum membaik.“Dengan kondisi seperti ini hingga 2014, timah cukup bagus kinerjanya, setelah ada peraturan perdagangannya melalui bursa timah di BKDI (Bursa Komoditi Derivatif Indonesia). Selain itu CPO dan batubara juga mulai bagus, “ungkap dia.

Menurut dia, saat ini yang paling tepat adalah mengusahakan bagaimana memberi suplai dolar di market. Meskipun masih sedikit dana asing yang masuk kembali ke Indonesia, nantinya dana asing akan masuk kembali sedikit demi sedikit melalui emiten per emiten.

Dana Asing

Berbeda dengan Edwin, pengamat pasar modal dari Universitas Indonesia (UI), Budi Frensidy menilai, dana asing yang keluar akan segera masuk lagi ke Indonesia. Hal ini terkait dengan investor asing yang menilai investasi di Indonesia akan menghasilkan return yang tinggi. Meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat tetapi masih dinilai cukup menarik bagi investor asing.

Menurut dia impor migas yang cukup besar menjadi penyebab neraca perdagangan Indonesia defisit terbesar dalam 50 tahun terakhir. Sehingga dia menegaskan bahwa pemerintah harus menangani kondisi ekonomi saat ini dengan baik, karena harus bersaing dengan negara lain yang juga memiliki emerging market bagus seperti Filipina.

Sebelumnya, pengamat pasar modal dari Trust Securities Reza Priyambada pernah bilang, kenaikan BI rate sebesar 25 basis points (bps) dari 7% menjadi 7,25% akan berisiko menurunkan gairah pasar modal. “Teorinya, ketika BI rate naik, suku bunga akan naik dan akan ada peralihan dana dari pasar modal ke perbankan,” kata Reza.

Hal senada juga disampaikan Kepala Riset Universal Broker Satrio Utomo, kenaikan BI rate langsung direspon negatif pelaku pasar pembukaan perdagangan saham akhir pekan, kendatipun berikutnya diakhir perdagangan indeks BEI kembali menguat.

Dirinya memperkirakan, pergerakan indeks akan berada dikisaran 4.310 – 4.400 dan arah pergerakan tersebut akan menunjukan posisi indeks hingga perdagangan pertengahan minggu depan,”Jika mengarah ke atas mengindikasikan menguat tetapi jika menurun kemungkinan indeks akan turun lagi”, ujar dia.

Dia menjelaskan, apakah pasar merespon secara positif atau tidak semua itu dapat dilihat dari historikal saat rupiah melemah kemarin yang membuat asing banyak melakukan penarikan dananya hingga triliunan dalam beberapa hari, “Yang perlu dijaga adalah kepanikan pelaku pasar agar tidak lagi terjadi hal yang sama. Jika rupiah menguat, ada kemungkinan saham-saham perbankan kembali diburu karena memang sektor ini masih menmdominasi pergerakan indeks,”tandasnya. (nurul)

BERITA TERKAIT

Indonesia – Arab Saudi Sepakat Bikin Sistem Baru - Penyaluran TKI

  NERACA   Jakarta - Pemerintah Republik Indonesia dan Kerajaan Saudi Arabia sepakat menyusun sistem baru bagi warga negara Indonesia…

Efektif, Penyaluran Dana Bergulir di Yogyakarta

Efektif, Penyaluran Dana Bergulir di Yogyakarta NERACA Yogyakarta - Upaya pembangunan manusia Indonesia agar lebih produktif terus dilakukan pemerintah. Salah…

Ada Peluang Kenaikan Bunga The Fed, Rupiah Melemah

    NERACA   Jakarta - Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Selasa sore, bergerak melemah sebesar 16…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Targetkan Transaksi 500 Ribu Lot - Rifan Financindo Berjangka Optimis Tercapai

NERACA Surabaya - Meskipun Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) atau Jakarta Future Exchange (JFX) memangkas target transaksi 30% lantaran kondisi ekonomi…

Tingkatkan Layanan Digital - Taspen Kerjasama Sinergis Dengan Telkom

NERACA Jakarta - PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk bersama PT Taspen (Persero) bersinergi mengembangkan dan mengimplementasikan digitalisasi pelayanan pembayaran pensiun…

XL Hadirkan Asisten Virtual MAYA

Dinamisnya era digital mengharuskan perusahaan untuk terus melakukan inovasi teknologi agar dapat memenuhi kebutuhan pelanggan. Tidak sebatas produk, layanan pelanggan…