BI Rate Naik: Peluang bagi Bursa?

Senin, 16/09/2013

Oleh : Dr. Agus S Irfani

Lektor Kepala FE Univ. Pancasila

Dalam sebulan terakhir ini Bank Indonesia (BI) telah tiga kali menaikkan suku bunga acuan dari 6,50% (15/8), ke 7,00% (29/8), dan menjadi 7,25% (12/09). Peningkatan BI Rate secara sporadis ini mengindikasikan semakin beratnya tekanan makroekonomi Indonesia seiring dengan masih terpuruknya nilai rupiah yang hingga kini masih tertahan di atas Rp11.000 per US$. Hal ini meresahkan kalangan pebisnis di sektor industri seiring dengan meningkatnya biaya modal perbankan untuk ekspansi yang berpotensi mengganjal pertumbuhan sektor riil tahun ini.

Kondisi ini juga menyulut sentimen negatif di kalangan pelaku pasar di bursa efek. Bahkan menjelang digelarnya rapat dewan gubernur BI (12/09), bursa kembali terkoreksi 0.20% ke angka 4.349,42 seiring dengan maraknya aksi profit taking setelah indeks harga saham gabungan (IHSG) sempat rebound 7,4% selama beberapa hari terakhir.

Kemudian, fakta bursa di akhir perdagangan pekan lalu (13/09) berkata lain, IHSG kembali melonjak 7,44% ke level 4.375,53, seiring dengan menguatnya rupiah sebesar 0,86% ke angka Rp11.395,- per dolar AS. Realitas ini mengindikasikan anggapan investor bahwa pelemahan rupiah sudah mencapai bottom level dan diduga akan segera bereaksi positif menguat seiring dengan meningkatnya suku bunga acuan BI 7,25%.

Lonjakan IHSG pekan lalu disumbang oleh naiknya secara signifikan harga saham-saham big cap di sektor perbankan yang menjadi incaran para investor asing. Saham-saham tersebut adalah BBCA naik 13,00%, BBRI naik 16,29%, dan BMRI naik 26,90%. Sementara di bursa regional, indeks Hang Seng Hong Kong dan Straits Times Singapura turun, masing-masing 0,17% dan 0,02%.

Selain untuk menekan impor guna memulihkan posisi neraca perdagangan Indonesia yang akhir-akhir ini secara fenomenal diduga sebagai sumber melemahnya rupiah, kenaikan BI Rate juga diperlukan untuk mengantisipasi rencana The Fed mengurangi stimulus moneter AS (tapering off) pekan ini (17-18/09). Jika rencana ini jadi diterapkan secara agresif maka akan menjadi ancaman serius bagi bursa lokal seiring dengan meresotnya minat investor asing masuk ke emerging market.

Meski terdepresiasinya rupiah lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal yang sulit dikendalikan oleh otoritas dalam negeri, setidaknya kebijakan bank sentral dalam menaikkan BI rate tersebut merefleksi keseriusan bank sentral untuk segera mengatasi pelemahan rupiah yang sekaligus memperbaiki kondisi makroekonomi Indonesia agar masih menjadi pilihan bagi investor asing.

Berdasarkan data perdagangan di bursa, jika pada pekan lalu investor asing mencatatkan jual bersih Rp803,32 miliar, sepanjang pekan ini aksi net buy investor (terutama asing) mencapai Rp2,07 triliun. Hal inilah yang diduga sebagi penyumbang meningkatnya kinerja IHSG akhir pekan lalu dengan peningkatan nilai transaksi sebesar 37,42% dari pekan sebelumnya menjadi Rp34,37 triliun.

Dilihat dari adanya korelasi positif antara perkembangan nilai rupiah dan pertumbuhan IHSG, meningkatnya BI Rate dapat menjadi peluang bagi kinerja bursa. Akan tetapi pasar harus tetap mewaspadai kemungkinan terjadinya volatilitas bursa efek Indonesia hingga akhir bulan ini sebagai antisipasi hasil pertemuan yang digelar oleh The Fed soal tapering off pada pekan ini.