Struktur Ekonomi Masih Kolonial

NERACA

Jakarta – Mantan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Kwik Kian Gie mengatakan bahwa perekonomian Indonesia masih bersifat kolonial. “Ciri utama ekonomi kolonial adalah Indonesia yang dijadikan tempat pengedukan kekayaan alam, dan tempat penjualan barang yang sudah diolah dengan nilai tambah tinggi,” kata Kwik di Jakarta, belum lama ini.

Ekonomi dualistic, kata Kwik, juga menjadi cirri utama kedua. Daerah perkotaan elitnya sangat maju dan kaya, tetapi bersifat konsumtif. Tetapi di sisi lain, daerah yang bersifat tradisional, yaitu pertanian, perikanan, dan peternakan mempunyai cir-ciri yang sangat primitive. Mereka yang berada di daerah tradisional menjadi sangat miskin dan berbeda sekali dengan yang berada di daerah perkotaan.

“Antara perkotaan dan pedesaan tidak ada kaitannya yang bersifat trickle down effect, yaitu perkotaan menularkan kemakmurannya pada pedesaan. Juga tidak ada pull effect, yaitu pedesaan ditarik ke atas pada kemakmuran yang lebih besar,” jelas Kwik.

Ciri-ciri tersebut, kata Kwik, bisa terlihat jelas di daerah-daerah, terutama yang sejak lama dikenal menjadi kantong-kantong kemiskinan. “Kita juga melihat dengan mata kepala sendiri daerah di sekitar Grand Indonesia yang terdiri dari lorong-lorong kecil, betapa kondisi rumah mereka yang jaraknya hanya sekitar 10 menit jalan kaki ke Grand Indonesia. Kita dapat menyaksikan sendiri manusia gerobak di tengah kota Jakarta yang megah. Dan kita juga dapat duduk di taman yang baru selesai dibangun pada Waduk Pluit. Di seberangnya penuh dengan rumah yang sangat kumuh,” jelas Kwik.

Kwik melanjutkan, para ekonom yang secara formal berpendidikan tinggi dengan sinis mengatakan bahwa indicator ekonomi tidak bisa hanya dilihat dengan mata kepala. Namun, jika menggunakan indicator yang mereka gunakan, hasilnya juga akan sama.

Bank Dunia mengatakan bahwa garis kemiskinan adalah pengeluaran US$2 per hari per orang. Dengan batasan tersebut, maka 50% dari masyarakat Indonesia tergolong miskin. Gini ratio yang menggambarkan kesenjangan ekonomi juga memperlihatkan angka yang tinggi, yaitu 0,41%. Data-data tersebut membuktikan bahwa sifat ekonomi colonial masih merasuk dalam negara Indonesia. [iqbal]

BERITA TERKAIT

Haris Azhar Bakal Laporkan Majelis Hakim PT Jakarta ke KY dan Bawas - Diduga Tak Periksa Berkas Banding

      NERACA   Jakarta - Jaksa berprestasi Chuck Suryosumpeno tidak pernah lelah untuk menuntut keadilan hukum di Indonesia.…

ITDC Fokus Kembangkan The Mandalika - Katalisator Pembangunan Ekonomi NTB

    NERACA   Jakarta - PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (Persero) atau Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC), BUMN pengembang dan…

UMP 2020 Disebut Masih Mengacu PP 78 Tahun 2015 Tentang Pengupahan

    NERACA   Jakarta - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyebutkan besaran upah minimum provinsi (UMP) untuk 2020 diperkirakan masih…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Ayam Geprek Nusantara Tawarkan Sistem Waralaba

  NERACA Jakarta - Menu makanan ayam dari dulu sampai sekarang sangat banyak digemari di semua kalangan masyarakat. Mulai dari…

Mobvista Ungkap Peluang Besar dalam Konten Video

  NERACA Jakarta - Platform teknologi penyedia jasa mobile advertising dan analytic, Mobvista mengungkap bagaimana brand dan marketer di Indonesia dapat…

Pindahkan Ibukota, Bappenas Minta Saran Tokoh Dayak

      NERACA   Jakarta - Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) meminta saran dari para…