LPS Rate Jadi 75 Bps - Dampak Kenaikkan BI Rate

NERACA

Jakarta - Pasca kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) pada Kamis (12/9), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) akhirnya melakukan perubahan pada tingkat bunga penjaminan simpanan baik dalam rupiah maupun valuta asing (valas) yang terdapat di bank umum dan simpanan rupiah di Bank Perkreditan Rakyat (BPR).

Direktur Eksekutif Penjaminan dan Manajemen Risiko LPS, Salusra Satria menjelaskan, keputusan LPS dengan menaikkan suku bunga penjaminan simpanan sebesar 75 basis poin (bps) yang berlaku sejak 15 September 2013 hingga 14 Januari 2014 untuk simpanan dalam rupiah di bank umum dan BPR. “Sedangkan untuk simpanan bentuk valas, LPS menaikkan bunga jaminan sebesar 25 bps,” ujarnya, dalam siaran persnya di Jakarta, pekan lalu.

Salusra menjelaskan, penetapan ini dilandaskan atas pertimbangan suku bunga acuan, BI Rate dan Fasilitas Simpanan Bank Indonesia (FASBI) Rate yang berada pada tren yang meningkat sejak bulan Juni 2013 dengan kenaikan masing-masing sebesar 150 bps dan 125 bps. “Selain itu, pertimbangan lainnya adalah suku bunga deposito berjangka rupiah, dengan tenor satu dan tiga bulan pada beberapa bank yang terpantau LPS, yang meningkat cukup signifikan antara 50 bps hingga 100 bps pada periode Juli 2013 hingga September 2013,” terang Salusra.

Lebih lanjut, dia menuturkan, untuk suku bunga pasar uang antar bank rupiah atau Jakarta Interbank Offered Rate (JIBOR) selama bulan Agustus tahun ini, telah mengalami peningkatan dengan kenaikkan tertinggi pada suku bunga JIBOR tenor 1 bulan sebesar 73 bps menjadi 6,49%. “Pertimbangan lain adalah tingkat bunga penjaminan simpanan yang diupayakan dapat mencakup sedikitnya 90% dari jumlah nasabah penyimpan pada seluruh bank,” kata dia.

Terkait perubahan tingkat bunga ini, Salusra mengatakan, bahwa pihaknya akan terus mencermati perkembangan yang terjadi terhadap likuiditas dan suku bunga simpanan perbankan dalam negeri. Menurut dia, apabila terjadi perubahan yang cukup drastis pada kondisi perekonomian, LPS akan melakukan evaluasi tingkat bunga penjaminan simpanan.

Sesuai dengan ketentuan LPS, apabila suku bunga simpanan yang dijanjikan bank kepada nasabah melebihi tingkat bunga penjaminan simpanan, maka simpanan nasabah tersebut tidak dijamin oleh LPS. Terkait hal itu, bank diharuskan untuk memberikan inforrmasi yang lengkap kepada nasabah, mengenai tingkat suku bunga penjaminan simpanan yang berlaku pada bank tersebut dengan menempatkan informasi di tempat yang mudah dilihat dan diketahui oleh nasabah.

Terkait perubahan suku bunga ini, sebelumnya Bank sentral menaikkan tingkat suku bunga acuan atau BI rate sebanyak 25 bps, dari posisi 7% menjadi 7,25%. Selain itu, BI juga menaikkan suku bunga lending facility sebesar 25 bps menjadi 7,25% dan juga Fasilitas Simpanan Bank Indonesia (Fasbi) menjadi 5,5%. [sylke]

BERITA TERKAIT

Berpacaran Dibawah Umur, Ini Dampak Negatifnya

      Pada saat ini, kita hidup di dalam generasi milenial, dimana orang-orang hidup berdampingan dengan teknologi. Teknologi komunikasi…

Dampak Uang Virtual Jangan Dianggap Remeh

Dampak dari penggunaan uang virtual atau cryptocurrency terhadap ekonomi Indonesia jangan dianggap remeh. Saat ini, mengingat negara-negara terbesar yang membolehkan…

BI Turunkan Bunga 200 bps, Bank Hanya Turunkan 153 bps

      NERACA   Jakarta - Transmisi penurunan suku bunga acuan 7-Days Reverse Repo Rate sejak awal 2016 hingga…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

OJK Sebut Bumiputera Dalam Kondisi Normal - Dari Sisi Bisnis dan Pendanaan

  NERACA Jakarta - Para pemegang polis dan mitra kerja Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912 kini bisa bernafas lega…

Kementerian PUPR Segera Teken MoU dengan BTN terkait KPR FLPP

  NERACA Jakarta - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Direktorat Jenderal Pembiayaan Perumahan memastikan bahwa PT Bank…

BNI Sosialisasikan BNI Yap di Java Jazz

  NERACA Jakarta - Untuk memanjakan para penggemar musik jazz Indonesia serta menyosialisasikan alat pembayaran baru pada pagelaran musik Jakarta…