BI Imbau Perbankan Jangan Menaikkan Suku Bunga

Senin, 16/09/2013

NERACA

Jakarta - Bank Indonesia (BI) sepertinya sadar bila suku bunga acuan atau BI Rate naik, perbankan nasional bakal menaikkan pula suku bunga kreditnya. Oleh karena itu, bank sentral mengimbau perbankan agar tidak menaikkan suku bunga pinjaman. Gubernur BI, Agus DW Martowardojo, menilai bank yang memiliki imbal hasil (return) dan struktur pendanaan yang baik seharusnya terdorong untuk melakukan evaluasi. Saat ini, kata dia, kredit perbankan masih tumbuh di atas 20%.

“Seandainya ada penyesuaian tingkat bunga, maka bank pasti akan melakukan kajian ulang. Intinya, semua bank pasti akan berusaha untuk menahan nasabah terbaik mereka agar tidak hengkang,” terang Agus Marto di Jakarta, Jumat (13/9) pekan lalu. Terkait risiko kredit macet atau nonperforming loan (NPL) yang akan dialami oleh semua bank, dirinya menjelaskan, BI akan terus melakukan analisa kajian dan juga stress test untuk melakukan berbagai penyesuaian.

Dalam kajian BI, tidak hanya melakukan penyesuaian tingkat bunga tetapi juga nilai tukar serta pertumbuhan ekonomi. “Jadi jika ada penyesuaian tingkat bunga, perbankan akan memiliki daya tarik yang bagus,” tambahnya. Sementara itu, untuk menyelaraskan pertumbuhan kredit perbankan dengan perekonomian Indonesia yang kini tengah melambat BI juga akan melakukan pengawasan terhadap industri perbankan dalam negeri.

Deputi Gubernur BI Bidang Pengawasan Bank, Halim Alamsyah menuturkan, pengawasan akan dilakukan secara merata dan terperinci kepada bank skala besar dan kecil. “Pendekatan akan berbeda-beda setiap bank, kami juga memantau jika ada bank yang tidak seimbang strategi pendanaan dan strategi ekspansinya,” ujar dia.

Halim menjelaskan, pengawasan dilakukan untuk menjaga pertumbuhan perbankan agar tetap stabil dan berkesinambungan di tengah kondisi perekonomian yang saat ini sedang kurang baik. “Kami melakukan pencegahan agar bank yang ekspansinya terlalu tinggi. Untuk pendanaan, ke depan, BI tidak mementingkan teori pendanaan yang sehat karena nantinya akan merugikan bank juga,” tuturnya.

Dalam pengawasan tersebut, imbuh Halim, indikator yang dilihat BI adalah rasio kredit terhadap pendanaan atau loan to deposite ratio (LDR) hal ini dilakukan agar bank tidak agresif dalam menyalurkan kredit. “Selain LDR, ada indikator lain seperti apakah strategi bank sudah seimbang atau belum, apakah hanya mementingkan bank sendiri, mengutamakan kepentingan ekonomi dan juga mementingkan agar bank tidak jor-joran,” tandasnya.

Tak digubris

Di tempat terpisah, PT Bank Permata Tbk secara terang-terangan akan menaikkan suku bunga kredit antara 100-125 basis poin (bps). “Mau tidak mau kita akan menaikkan juga suku bunga simpanan sejalan dengan kenaikan BI Rate,” tegas Executive Vice President Head Retail Liabilities Wealth Management and Channels Bank Permata, Bianto Surodjo, kemarin. Dia juga mengklaim jika kenaikan BI Rate ini tidak akan membuat seret likuiditas perseroan di pasar.

Bianto mengungkapkan, nasabah prioritas Bank Permata saat ini tercatat sekitar 50 ribu nasabah dari total 1,5 juta nasabah. “Dari jumlah itu, dana kelolaan nasabah prioritas mencapai Rp40 triliun hingga Rp45 triliun hingga akhir tahun ini,” ungkapnya. Lebih lanjut Bianto menjelaskan, perseroan menargetkan dana kelolaan wealth management bisa mencapai Rp50 triliun.

Oleh karena itu, untuk mendukung perolehan tersebut, perseroan akan meningkatkan pelayanan dengan menawarkan produk investasi yang bisa diandalkan. Pasalnya sejauh ini portofolio investasi di priority banking terus meningkat setiap tahunnya. Sejauh ini, kata Bianto, portofolio investasi di priority banking mencapai lebih dari 10%. Sementara untuk asuransi 10% dan sisanya Dana Pihak ketiga (DPK).

Masih menarik?

Tak hanya itu, Gubernur BI, Agus Martowardojo, mengaku kalau Indonesia masih menarik sebagai tempat investasi, meskipun kondisi perekonomian Indonesia sedang melambat. “Benar tengah melambat. Tapi harus diingat, pertumbuhan ekonomi Indonesia 10 tahun belakangan selalu di atas 5,5%. Karena itu perekonomian kita masih dihormati oleh negara lain,” klaim Agus Marto.

Selain itu dia juga mengungkapkan, deviasi pertumbuhan ekonomi Indonesia, yang nilainya paling kecil juga merupakan salah satu penarik investor asing. Namun begitu, Agus Marto menilai perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini masih pada level wajar. Dia menuturkan penyesuaian struktur penggunaan dana murah akan terjadi di negara-negara lain pada 2009-2013.

Agus Marto menghimbau Indonesia harus bersiap untuk menghadapi perubahan kondisi tersebut. Penyesuaian yang dilakukan BI, kata dia, salah satunya merevisi target pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini menjadi 5,5% - 5,9% dari target semula sebesar 5,8% - 6,2%. “Bank sentral juga merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun depan menjadi 5,8% hingga 6,2% dari perkiraan semula 6% hingga 6,4%,” tandasnya. [sylke]