Kedelai Mahal dan Krisis Ekonomi, Salah Siapa?

Oleh: Eva Juliyanti, Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia UMSU

Senin, 16/09/2013

Nilai tukar rupiah terhadap Dolar AS yang terjadi belakangan ini merupakan momentum yang tepat untuk mengevaluasi diri. Penurunan rupiah terjadi begitu cepat, dalam satu hari saja bisa mengalami penurunan beberapa kali. Penurunan secara drastis dan sering ini membingungkan para pengusaha khususnya pengusaha yang mengandalkan bahan produksinya dari impor.

Mantan presiden Bacharuddin Jusuf Habibie mengatakan bahwa penurunan nilai tukar rupiah dan anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ada pelajaran yang dapat dipetik utamanya karena dampaknya yang signifikan terhadap kegiatan eskpor impor.

Rupiah melemah banyak menimbulkan dampak keberlangsungan bagai sitem ekonomi di Indonesia. Dewasa ini Indonesia masih mengandalkan barang impor untuk menunjang produktivitas usahanya. Kerugian terjadi pada pengusaha yang bahan bakunya berasal dari luar negri, namun tidak dengan pengusaha yang bahan bakunya dari dalam negri.

Ketidakstabilan nilai tukar rupiah akan mengakibatkan dampak atas keberlangsungan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Dampak yang ditimbulkan karena naiknya bahan baku, khususnya bahan baku banyak berasal dari luar negri atau impor.

Para pengusaha di Indonesia selama ini mengandalkan bahan baku dari impor. Dampak yang sudah terjadi atas penurunan nilai tukar rupiah pada UMKN yaitu usaha tahu dan tempe. Tahu dan tempe berbahan dasarkan kedelai untuk bahan tahu dan tempe berasal dari impor.

Harga kedelai melambung tinggi dipasaran akibatnya petani kedelai menghentikan produkivitasnya. Padahal Kementrian Perdagangan telah menetapkan Harga Penjualan Pokok (HPP) kedelai sebesar Rp. 7.500-/ kg.

Kenaikan harga kedelai selain karena menurunnya nilai rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) tetapi terjadi karena produksi di dalam negri yang hanya mencapai 25 % an naiknya harga komoditas di Amerika Serikat karena selama ini Indonesia mengimpor kedelai dari Amerika Serikat dan Brazil.

Produksi kedelai dalam negeri terus merosot dari tahun ke tahun. BPS mencatat pada 2009 produksi kedelai masih 974.512 ton, turun menjadi 907.031 ton pada 2010. Pada 2011 tinggal 851.290 ton dan semakin merosot pada tahun 2012.

Para pengusaha tempe dan tahu menjerit saat kedelai naik, pasalnya dengan menaiknya harga kedelai secara otomatis akan naik pula harga tahu dan tempe. Tempe dan tahu naik maka daya tarik konsumsi terhadap makanan berprotein ini akan menurun karena naik. Al-hasil para pengusaha tempe dan tahu akan mengalami penurunan produksi dan keuntungan.

Untuk mengantisipasi semua itu, para pengusaha tahu dan tempe mempunyai strategi yaitu dengan mengurangi ukuran tempe dan tahunya. Dengan berkurangnya ukuran dan tidak menaikkan harga tahu dan tempe tersebut akan mengurangi terjadinya resiko kerugian dan ditinggalkan para konsumennya.

Namun usaha yang dilakukan oleh pengusaha tempe dan tahu belum menampakkan hasil yang signifikan. Para pengusaha tahu dan tempe banyak yang menghentikan produktifitasnya alias tutup

Untuk mengatasi kondisi ini yaitu dengan menggenjot produksi kedelai dalam negri. Namun kedelai lebih cocok ditanam sat musim subtropis bukan saat musim kemarau saat ini. Jika begitu ceritanya, maka Kemendag segera menyetujui izin impor kedelai yang dilakukan Badan Urusan Logistik (Bulog). Pasalnya, kebutuhan kedelai setiap tahunnya mencapai 2,5 juta ton. Sedangkan, produksi dalam negeri hanya mencapai 700.000 ton

Dengan kenaikkan harga kedelai saat ini, pengusaha tempe dan tahu menghentikan produksinya karena jika tetap memproduksi maka akan terancam kerugian besar alias gulung tikar. Dampak dari semua ini sudah terlihat, saat ini banyak pengusaha selain tempe dan tahu namun masih berbahan dasarkan kedelai juga merasa kewalahan.

Misalnya saja usaha susu kedelai, saat ini sudah jarang orang menjual susu kedelai eceran yang biasanya menghidangkan jualannya di pagi atau sore. Semenjak kenaikkan harga kedelai saat itu pula redupnya pengusaha susu kedelai eceran.

Kondisi seperti ini pengusaha yang untung adalah pengusaha berbahan dasarkan bukan kedelai dan berasal dari dalam negri. Mereka tidak akan merasa pusing dan memutar otak memikirkan mahalnya bahan dasar untuk usahanya. Misalnya pengusaha penjual es kolding (Kolak Dingin) atau es campur, mereka tidak mengalami kewalahan seperti halnya pengusaha yang berbahan dasarkan kedelai impor.

Pemerintah Bangga dengan Barang Impor

Kejadian ini tidak akan terjadi jika saja masyarakat Indonesia khususnya para pengusaha tidak mengandalkan barang-barang impor. Bukan saja penngusaha pemerintah saat ini pun lebih bangga menggunakan atau mengkonsumsi barang impor. Misalkan saja pemerintah banyak impor bahan pangan seperti bawang, cabe dan kentang dari Thailand.

Hal ini menunjukkan pemerintah akan mematikan usaha petani Indonesia, kalau lah pemerintah yang notabene sebagai pengemudi bangsa ini bersikap demikian tentu rakyat sebagai penumpang akan mengikuti kemana arah pengemudi melajukan kapalnya.

Pemerintah hendaknya mencanangkan cintailah produk Indonesia, kalau bukan rakyat itu sendiri siapa lagi yang akan melestarikan dan mencintai hasil usaha Negara itu. Dewasa ini banyak masyarakat yang lebih suka dan bangga menggunakan dan mengkonsumsi barang asing, meskipun harganya mahal selangit akan dibela-belai untuk membelinya sebagai ajang gengsi.

Jika ditelisik dari segi budaya Indonesia sudah dikuasai dengan budaya asing yang notabene sangat jauh berbeda 180o dengan kebiasaan Indonesia yang sopan dan menjunjung tingggi nilai agama, mayoritas beragama Islam maka dari itu Indonesia merupakan Negara berpenduduk Islam terbesar di dunia.

Dengan mencintai produk sendiri bukan berarti tidak boleh menggunakan barang impor atau asing. Sah-sah saja menggunakannya hanya saja perlu adanya pembatasan, jangan keasyikan dan terlena menggunakan barang impor sehingga menimbulkan rasa lupa terhadap produk hasil sendiri.Kekayaan alam dan budaya di Indonesia sangat kaya sekali sampai-sampai Indonesia dijuluki dengan Negara subur. Seperti halnya sebuah lirik lagu Batu dan kayu menjadi tanaman ini sungguh luar biasa sebuah batu dan kayu bisa menjadi tanaman.

Warga Indonesia sepatutnya bangga dengan kekayaan yang dimiliki Negara pertiwi ini. Namun saat ini sangat miris kekayaan alam sudah tidak asri lagi dan sudah diklaim bahkan dimiliki oleh Negara asing. Indonesia suatu saat akan bermetamorfosa nama, karena saat ini kekayaan alam sudah dimiliki dan dikuasai oleh Negara lain. Warga asing awalnya hanya menumpang sekarang secara perlahan menggrogoti Indonesia.

Rendahnya Apresiasi Pemerintah Terhadap Produk Lokal

Pemerintah Yang senang mengggunakan produk impor secara tidak langsung menghina produk lokal. Kelemahan pemerintah Indonesia yang tidak percaya dan bangga dengan produk Indonesia. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai karya anak bangsa, namun tidak untuk bangsa Indonesia. Pemerintah Indonesia masih menganggap Indonesia itu tidak mampu dan sepele.

Misalnya saja kita dapat flashback seorang siswa SMK dapat menciptakan sebuah mobil. Ini sungguh sangat luar biasa anak bangsa dapat menciptakan sebuah mobil namun tanggapan pemerintah sangatlah mengecewakan, pemerintah seakan-akan tidak percaya dengan karya anak bangsa dan menganggap mobilnya tidak layak pakai atau uji.

Dan jika kita melihat film Habibi dan Ainun dapat terlihat kurangnya apresiasi pemerintah terhadap anak bangsa. Habibi adalah anak bangsa Indonesia yang jenius dalam bidang teknologi. Beberapa kali ia melamar kerja di Indonesia namun tidak diterima dan dia melamar ke luar negri dan diterima lalu ia berkarya di sana sehingga pulang ke Indonesia ia menciptakan sebuah pesawat namun pesawat itu bisa dipakai karena saat itu Habibi menjadi kepala pemerintahan di Indonesia. Semoga pemerintah Indonesia lebih memperhatikan rakyat-rakyat yang bertalenta dan dapat memajukan Indonesia. analisadaily.com