Posisi Anton-Mirza Sama Kuat

Calon Deputi Gubernur Senior BI

Jumat, 13/09/2013

NERACA

Jakarta - Komisi XI DPR akan segera memutuskan siapa Calon Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia yang baru, pada Senin (16/9), mendatang. Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan, Mirza Adityaswara dan Kepala Ekonom PT Bank Danamon Indonesia Tbk, Anton Gunawan, sama-sama memiliki peluang besar untuk mengisi jabatan yang ditinggal Darmin Nasution. Kalangan pengamat, bankir maupun DPR pun memiliki pandangan tersendiri terhadap dua ekonom tersebut.

Wakil Ketua Komisi XI DPR, Harry Azhar Azis, secara terang-terangan mendukung Anton Gunawan. Menurut dia, Anton adalah sosok yang lebih bias diharapkan untuk menjadi DGS BI mengingat visi dan misi yang diusung sama dengan dirinya. "Dia (Anton Gunawan) berpeluang besar (menjadi DGS BI). Ini memberikan warna yang berbeda. Saya ambil contoh soal BI Rate. Dia dan saya sependapat tidak setuju naik terlalu tajam," jelasnya kepada Neraca, Kamis (12/9).

Sementara pesaingnya, Mirza Adityaswara, Harry Azhar menilai merupakan satu sosok yang cenderung memiliki kepribadian sama dengan Gubernur BI, Agus DW Martowardojo. Alasannya karena keduanya pernah bekerjasama saat di PT Bank Mandiri Tbk.

"Kalau Mirza yang kita pilih, kecenderungannya lebih memihak Agus Martowardojo. Ini kita anggap “satu warna” dengan pimpinannya. Jika Anton yang terpilih, ada kecenderungan menjadi dua plus. Artinya, Anton bisa pro Gubernur BI, bisa juga ke Deputi (Gubernur BI) lain,” ungkap Harry Azhar.

Terkait penundaan keputusan DGS BI, dirinya mengaku kalau Komisi XI DPR masih belum memiliki sikap dan pandangan tegas untuk menentukan. Akan tetapi, Harry Azhar menuturkan bahwa pilihannya hanya ada dua, memilih salah satu dari dua calon dan menolak kedua calon. “Memang belum diputuskan karena beberapa fraksi meminta waktu,” tambahnya.

Namun demikian, lanjut Harry Azhar, Komisi XI DPR dapat menolak kedua calon DGS BI tersebut apabila tidak memiliki kapabilitas. “Mekanismenya belum kita ketahui, apakah voting atau langsung. Yang pasti kita diberi waktu satu bulan sejak Bamus (Badan Musyawarah) tanggal 19 Agustus 2013,” terangnya.

Di tempat terpisah, Dosen FEUI Aris Yunanto, lebih condong memilih Mirza Adityaswara. Dia beralasan karena sosok yang saat ini menjabat Kepala Eksekutif LPS ini memahami soal regulasi dan kebijakan. “Kalau dilihat dari pengalaman di dunia perbankan dan moneter, saya memilih Mirza,” ujarnya kepada Neraca, kemarin.

Lebih lanjut Aris mengungkapkan latar belakang keduanya, di mana sebelum di Bank Danamon, Anton Gunawan menjadi Kepala Ekonom Citibank Indonesia, serta Mirza Adityaswara menjadi Kepala Ekonom Bank Mandiri. “Keduanya sangat bagus di bidang makro dan moneter. Tapi siapa pun yang terpilih (menjadi DGS BI), nantinya akan bisa membantu Agus Marto,” papar Aris.

Seperti malu-malu, Direktur Utama PT Bank Central Asia Tbk, Jahja Setiaatmadja mengaku, siapa pun yang terpilih menjadi DGS BI adalah terbaik dari yang terbaik. “Dua-duanya bagus. Mereka sama-sama ahli di bidangnya. Saya berharap bisa secepatnya bekerjasama,” kata dia, melalui pesan singkat.

Salah satu Calon Deputi Gubernur Senior BI, Anton Gunawan, pernah bilang bahwa sejak krisis global pada 2008 lalu, banyak negara yang mengambil kebijakan dari sisi moneter yang nonkonvensional. Hal itu dilakukan untuk menstimulasi ekonomi dari krisis.

"Sejak terjadi krisis, langkah yang diambil sifatnya non konvensional seperti policy rate. Memang, saat terjadi krisis perlu diambil kebijakan yang bukan hanya textbook. Itu yang dilakukan AS dan Jepang. Hanya saja kebijakan seperti Ini belum diterima pelaku pasar di Indonesia karena si pembuat kebijakan (pemerintah dan BI) berkepentingan menjelaskan ke pelaku pasar. Di sinilah peran sentral BI untuk menjaga stabilitas moneter Indonesia,” tandasnya.

Sementara Mirza mengaku akan mengoptimaliasasikan kerjasama antar bank central internasional. Juga mengoptimalisasikan koordinasi bersama instansi dalam negeri jika disahkan menjabat DGS BI. Menurut dia, langkah-langkah itu perlu untuk meredam inflasi dan pelemahan rupiah.

Mengenai penanganan inflasi secara jangka panjang Mirza menilai perlu dilakukan langkah penyimpanan cadangan devisa yang lebih serius. Pasalnya ia melihat dana simpanan dalam negeri masih sangat kecil selama ini. Sehingga kerap membuat inflasi ketika pihak luar, khususnya Amerika Serikat (AS) melakukan Quantitative Easing (QE). [mohar/sylke]