Indonesia Masih Bergantung Investor Asing

Pasar Modal Rentan Tergangu

Jumat, 13/09/2013

NERACA

Jakarta – Masih minimnya jumlah investor domestik yang terlibat di pasar modal Indonesia menyebabkan industri pasar modal rentan dan masih ketergantungan terhadap dana asing. Sehingga Bursa Efek Indonesia (BEI) berusaha untuk mensosialisasikan pasar modal ke tingkat pelajar dan mahasisswa.

Direktur Utama BEI Ito Warsito mengatakan, pertumbuhan ekonomi nasional tidak bisa terus bergantung pada investasi asing. Oleh karena itu, Indonesia harus mulai menumbuhkan investor-investor domestik. Hal ini terkait pasar modal menjadi indikator pertumbuhan ekonomi suatu negara maju, “Selama ini Badan Koordinasi Penanaman Modal justru berupaya menarik modal asing, padahal seharusnya kita berusaha menumbuhkan investor dalam negeri sendiri. Memang saya akui kita tidak bisa menmutup sepenuhnya investor asing yang ingin berinvestasi di sini”, ujar dia di Jakarta, Kamis (12/9).

Menurutnya, Indonesia tidak bisa seterusnya bergantung pada investor asing. Pasalnya, ketika investor asing menarik dana keluar dari Indonesia dapat menyebabkan pertumbuhan ekonomi dan pasar modal terganggu. Dirinya juga mengakui, industri pasar modal Indonesia masih kekurangan investor lokal.“Jumlah investor lokal yang ada di bursa saat ini hanya 1% dari jumlah masyarakat yang mampu berinvestasi,”paparnya.

Dia menambahkan, kurangnya jumlah investor lokal yang berinvestasi di pasar modal juga disebabkan keterbatasan pengetahuan mengenai pasar modal. Dimana masyarakat lebih memilih investasi pada perbankan, seperti deposito, dibandingkan pada segmen produk investasi lain.

Maka ditengah minimnya pengetahuan masyarakat, BEI telah berupaya mensiasati hal tersebut dengan memberikan edukasi kepada masyarakat umum dan pelajar mengenai pasar modal. Sejak empat tahun terakhir BEI mulai memberikan edukasi, tidak hanya kepada masyarakat umum, namun juga kepada pelajar.

Beberapa cara yang dilakukan BEI adalah membuka kantor perwakilan BEI sebanyak 17 kantor di luar Jakarta, mengembangkan profesional di pasar modal, sosialisasi pasar modal ke masyarakat dan pelajar, mengadakan sekolah pasar modal, mempertajam pasar modal syariah, revitalisasi sistem perdagangan dan masih ada yang lainnya. “Salah satu cara yang dilakukan dalam memberi edukasi tentang pasar modal adalah dengan mendirikan 107 galeri investasi di universitas-universitas di Indonesia. Selain itu, pelajaran mengenai pasar modal juga sudah mulai dimasukkan dalam kurikulum di sekolah-sekolah dengan kerjasama yang terjalin antara BEI, Kementerian Pendidikan Nasional, dan Asosiasi Guru Ekonomi Seluruh Indonesia,”ungkap dia.

Kata Ito, meskipun kondisi ekonomi belum stabil, prospek investasi di pasar modal ke depan terus berkembang karena kondisi ini dinilai hanya bersifat sementara. Dari eksternal, ada isu soal rencana The Fed mengurangi pasokan uang ke pasar ekonomi AS. Sementara faktor internal dinilai lebih krusial, yaitu kondisi ekonomi Indonesia yang alami defisit neraca perdagangan menunjukkan, Indonesia lebih banyak impor daripada ekspor. (bani)