Perbankan Syariah Minim Sumber Likuiditas

NERACA

Jakarta - Masih banyak masalah yang harus dihadapi oleh perbankan syariah saat ini, seperti sumber likuiditas yang masih minim. Direktur Bisnis Bank Negara Indonesia (BNI) Syariah Imam Teguh Saptono mengatakan, minimnya sumber likuiditas diakibatkan karena perbankan syariah dianggap kurang aman oleh institusi formal untuk menyimpan dana. “Seperti BUMN, Kementerian atau lembaga masih enggan masuk ke perbankan syariah,” ujar Imam di Jakarta, Rabu (11/9).

Imam menilai jika hal tersebut bisa diatasi, maka perbankan syariah bisa mendapat sumber likuiditas yang baik ditengah kondisi ekonomi yang kurang baik seperti sekarang. “Tapi bankir syariah juga harus gencar memberi edukasi ke masyarakat, agar masyarakat terbiasa dengan praktik bank syariah, karena hingga saat ini mereka masih terbiasa dengan fix margin yang ada di bank konvensional,” tutur Imam.

Mengenai peluang untuk menerbitkan sukuk, Imam menjelaskan jika kondisi pasar saat ini masih kurang mendukung. Dia mengatakan pihaknya memang memiliki rencana untuk menerbitkan sukuk untuk memperoleh dana jangka panjang, walaupun dia belum tau waktunya kapan. “Saat ini yang diharapkan perbankan syariah adalah pengalihan setoran awal dana haji dari konvensional ke syariah, sesuai dengan keputusan menteri agama, April 2014, harus sudah terlaksana,” kata dia.

Sementara itu, BNI Syariah, per Agustus 2013, telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp10,16 triliun ini tumbuh sekitar 63% dibanding periode yang sama tahun lalu. “Pertumbuhannya masih cukup tinggi, targetnya hingga akhir tahun pembiayaan kami sekitar 40%-50%,” ujar Imam.

Namun, Imam juga mengatakan di semester II 2013, pertumbuhan pembiayaan akan melambat dibanding semester I 2013. “Walaupun melambat, kami yakin targetnya akan tetap tercapai, karena kami melakukan strategi untuk memacu pembiayaan diawal tahun,” imbuh dia.

Dengan kondisi ekonomi yang kurang baik, saat ini BNI Syariah menurut dia, menghindari pembiayaan di sejumlah sektor seperti konstruksi, pertambangan dan sektor yang berkaitan dengan gejolak valas. “Sektor yang masih memiliki peluang untuk berkembang semester dua ini adalah usaha kecil menengah (UKM), mikro dan pembiayaan pemilikan rumah,” kata Imam.

Sedangkan, untuk pembiayaan pemilikan rumah, Imam menyebutkan pihaknya akan membatasi pada pembiayaan pemilikan rumah pertama. “Karena biasanya untuk rumah kedua itu bertujuan untuk investasi, ini akan beresiko jika nasabah bermasalah, mereka akan menyelesaikan kebutuhan pokoknya dulu baru yang lain,” tegasnya. [sylke]

BERITA TERKAIT

Investasi Ilegal di Bali, Bukan Koperasi

Investasi Ilegal di Bali, Bukan Koperasi NERACA Denpasar - Sebanyak 12 lembaga keuangan yang menghimpun dana masyarakat secara ilegal di…

Farad Cryptoken Merambah Pasar Indonesia

  NERACA Jakarta-Sebuah mata uang digital baru (kriptografi) yang dikenal dengan Farad Cryptoken (“FRD”) mulai diperkenalkan ke masyarakat Indonesia melalui…

OJK: Kewenangan Satgas Waspada Iinvestasi Diperkuat

NERACA Bogor-Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengharapkan Satuan Tugas (Satgas) Waspada Investasi dapat diperkuat kewenangannya dalam melaksanakan tugas pengawasan, dengan payung…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Siapkan Tawaran Khusus, Cashwagon Ingin Tingkatkan Jumlah Pemberi Pinjaman

    NERACA Jakarta - Perusahaan platform P2P (Peer to peer) Cashwagon (Kas Wagon) Indonesia menyiapkan tawaran khusus bagi para…

MAGI Beri Penghargaan ke Bengkel Rekanan Terbaik

    NERACA.   Jakarta - PT Mandiri AXA General Insurance (MAGI) memberikan penghargaan kepada bengkel rekanan terbaiknya dalam ajang…

Jamkrindo Syariah Targetkan Volume Penjaminan Rp35 Triliun

NERACA Jakarta - PT Jamkrindo Syariah (Jamsyar) mentargetkan volume penjaminan pada akhir 2020 mendatang bisa mencapai Rp35 triliun dan meraih…