Korupsi Lagi, Korupsi Lagi - Oleh: Prof Dr Komaruddin Hidayat, Rektor UIN Jakarta

Hampir setiap hari kita disuguhi berita korupsi, membuat hati dan pikiran merasa lelah dan kesal. Masyarakat pun sepertinya kian tak percaya kepada lembaga dan aparat penegak hukum serta partai politik (parpol) yang mestinya gigih memberantas korupsi, tetapi nyatanya mereka malah terlibat.

Lebih sedih lagi ketika yang terlibat itu unsur akademisi yang masuk ke jajaran birokrasi diharapkan untuk membersihkan korupsi, tetapi akhirnya jebol juga, dengan berbagai alasan dan penyebabnya. Saya sendiri sering merenung membayangkan, bagaimana pilu hati keluarganya ketika salah seorang sosok ayah, suami, atau anak, wajahnya terpampang di layar kaca atau surat kabar dan jelas-jelas menjadi tersangka pelaku korupsi.

Jika dirunut ke belakang, sembilan bulan ibunya mengandung dan mengasuh dengan susah payah. Orang tuanya mendoakan, mengantarkan dan membiayai masuk sekolah sejak taman kanak-kanak, SD, SMP, SMU, hingga perguruan tinggi. Betapa bangga orang tuanya ketika melihat anaknya diwisuda. Lalu setelahnya dia berjuang melamar pekerjaan ke sana-kemari. Setelah diterima, jalan terjal masih menghadang untuk menapaki jenjang karier dan kepangkatan di tempat dia bekerja.

Takterhitung, berapabanyakpengorbanan umur, tenaga, pikiran, emosi, dan doa untuk memperoleh kedudukan yang bagus dengan gaji yang layak. Memasuki usia 45 tahun ke atas, umumnya orang sudah mulai menemukan jalan karier hidupnya dan untuk selanjutnya tinggal menjaga dan meningkatkan jenjangnya. Mencapai usia ke-50 tahun seseorang semakin matang dan garis tangan hidupnya juga semakin jelas.

Tentu saja hidup selalu menyimpan misteri yang dapat membawa keberuntungan yang tak terduga. Namun, akhirakhir ini hatiku dibuat iba campur sedih membayangkan beberapa teman yang aku merasa kenal dekat, memiliki wajah tampan, pendidikan bagus, ekonomi lebih dari cukup, status sosial pun sangat terhormat, namun tiba-tiba terhempas tsunami kehidupan sehingga terpelanting jatuh gara-gara tergoda rayuan korupsi.

Tentu saja bisa dibangun analisis dan teori mengapa korupsi sedemikian subur sekarang ini. Tapi yang pasti apa pun penyebabnya, bangsa ini kehilangan banyak hal. Aset dan tradisi budaya malu semakin luntur. Para aktivis ormas dan akademisi yang merupakan kader dan putra bangsa terbaik jatuh berguguran di tengah jalan.

Yang sedih dan malu tidak saja dirinya, keluarganya, almamaternya, ormas dan parpolnya, tetapi kita semua sebagai warga negara dibuat sedih, lelah, kecewa, mengapa mereka itu begitu mudah dan murah harga dirinya ditukar dengan kekuasaan dan uang. Saking lelah, heran dan bingungnya masyarakat melihat korupsi yang semakin menyebar, sampai-sampai menyimpulkan bahwa korupsi telah membudaya, dan koruptor layak disebut budayawan.

Kalau logika ini ditarik lebih lanjut lagi, kementerian kebudayaanartinyakementerian koruptor. Tentu ini logika yang salah dan ngaco. Tapi yang tersirat adalah betapa korupsi ini telah menghancurkan cita-cita reformasi, menggerogoti pilar-pilar bernegara, dan merusak mental masyarakat. Agama sudah pasti melarang dan mengutuk korupsi. Namun, kita perlu merenung bahwa negara-negara sekuler yang tidak melibatkan retorika dan lembaga agama dalam memberantas korupsi hasilnya sangat mengesankan.

Misalnya saja China. Jadi, di Indonesia pasti ada formula, kultur, dan strategi yang salah dalam pemberantasan korupsi. Mereka yang menerima amanah untuk bertugas sebagai penegak hukum, tetapi mereka malah melakukan korupsi, maka semestinya dijatuhi hukuman lebih berat. Kasus Irjen Polisi Djoko Susilo adalah salah satu contoh yang menyakitkan masyarakat.

Orang pun bertanya-tanya, dulu ketika bertugas, apa ya yang selalu dipikirkan dan dilakukan dengan jabatannya itu? Sesungguhnya berbahagialah mereka yang berhasil meraih prestasi kesarjanaan, lalu mendapatkan jabatan politik atau birokrasi pemerintahan yang strategis, karena dengan posisi itu terbuka peluang sangat lebar untuk berbuat kebaikan melayani rakyat dan memajukan bangsa.

Kesempatan emas itu hanya sekali terjadi. Sebuah peluang yang diperebutkan oleh jutaan orang. Jadi, betapa bodoh, nista, dan sia-sia ketika jabatan dan peluang emas yang amat langka dan terhormat itu malah dirusak, dihinakan, dan dicampakkan hanya gara-gara silau terhadap jebakan harta haram yang tak ubahnya bangkai, sumber penyakit, dan malapetaka. Orang yang selalu mencari celah dan kesempatan korupsi mirip pemburu dan pemakan bangkai yang akan merusak semua amal ibadahnya dan akan menghalangi berkah ilahi. (uinjkt.ac.id)

BERITA TERKAIT

DPR: Densus Tipikor Perkuat Pemberantasan Korupsi

DPR: Densus Tipikor Perkuat Pemberantasan Korupsi NERACA Jakarta - Wakil Ketua DPR Taufik Kurniawan menilai langkah Polri membentuk Detasemen Khusus…

Presiden Republik Indonesia - Tidak Semua Suka Pekerjaan Pemberantasan Korupsi

Joko Widodo  Presiden Republik Indonesia Tidak Semua Suka Pekerjaan Pemberantasan Korupsi Jakarta - Presiden Republik Indonesia Joko Widodo mengakui bahwa…

Lagi, CIMB Terbitkan Obligasi Rp 2 Triliun

PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) akan melakukan penawaran obligasi berkelanjutan II tahap III tahun 2017 dengan jumlah pokok Rp2…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Kerja Konkret Jokowi Membangun Papua

  Oleh : Dodik Prasetyo, Pemerhati Ekonomi Pembangunan LSISI Selama 72 tahun Indonesia merdeka pada akhirnya masyarakat Papua dapat menikmati…

Memberi Pelayanan, Bukan Menjadi Pelayan

Oleh: Teddy Ferdian, Pegawai Direktorat Jenderal Pajak Ketika mendatangi suatu rumah makan, kita akan disambut dengan ucapan selamat datang dari penerima…

Tujuh Hasil Kerja Nyata 3 Tahun di Era Jokowi

  Oleh: Dhita Karuniawati, Mahasiswa IAIN Kendari Pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (Jokowi-JK) akan memasuki periode…