Rupiah Loyo, Tarif Hotel Bakal Naik - Industri Jasa

NERACA

Jakarta - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar cukup berdampak pada industri perhotelan karena komponen impor yang dipergunakan oleh sejumlah hotel di Indonesia dipastikan juga akan naik. Namun, besaran kenaikan tidak setinggi ketika pemerintah mengumumkan penaikan harga BBM dan tarif dasar listrik.

Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia Wiryanti Sukamdani mengatakan kendati demikian kenaikan tarif hotel dapat saja diambil oleh pebisnis. \"Komponen impor (di hotel) ada, tapi tidak banyak. Kebanyakan produk dalam negeri, sehingga bila pun naik, tidak signifikan kecuali untuk hotel yang banyak menggunakan produk impor,\" ujar Wiryanti di Jakarta, Rabu.

Namun dari hasil beberapa lembaga survei, sebanyak 66% pengusaha perhotelan Indonesia berencana menaikkan tarif kamar pada 2014, dibanding dengan 51% pengusaha perhotelan di dunia.

Menurut Commercial Director APAC, TripAdvisor for Business, Lewis Ng, alasan utama untuk kenaikan harga antara lain peningkatan pengeluaran tambahan (73%), mengatasi peningkatan permintaan (43%) dan sejalan dengan kompetisi (35%).

\"Indonesia memiliki proporsi pengusaha perhotelan tertinggi di dunia (40%) yang memiliki rencana untuk membuka properti baru di 2014. Selain itu, dari mereka yang berencana untuk membuka properti baru, semua berencana melakukannya di Asia,\" ungkapnya.

Tak hanya itu, pengusaha perhotelan di Indonesia juga tergolong yang paling optimistis di dunia, dengan 83% responden yang yakin mengenai keuntungan bisnis mereka pada tahun depan, yang secara signifikan lebih tinggi dibanding level optimisme pengusaha perhotelan secara global (67%). Mayoritas pengusaha perhotelan Indonesia (82%) juga melaporkan tren positif di travel intra-wilayah, mengklaim tamu mereka yang paling banyak berasal dari Asia.

Untuk menarik lebih banyak tamu, 62% pengusaha perhotelan Indonesia berencana untuk menginvestasikan dana untuk pelatihan staf, 59% untuk anggaran pemasaran dan 53% untuk renovasi kecil.

Sekedar informasi, TripBarometer adalah penelitian yang dilakukan dua kali setahun, dan hasilnya dianalisis secara independen oleh perusahaan riset Edelman Berland. Survei ini mengungkapkan informasi mengenai perjalanan saat ini dan tren industri perhotelan, menurut 19.000 wisatawan dan lebih dari 10.000 pemilik bisnis akomodasi di seluruh dunia.

Transaksi Dolar

Sementara itu,Ketua Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) Gatot M Suwondo menghimbau kepada seluruh pemilik atau pengelola hotel di Indonesia supaya tidak memasang tarif (rate) kamar dalam bentuk denominasi dolar Amerika Serikat (AS). Hal ini akan menyebabkan adanya transaksi pertukaran rupiah ke dolar AS.

\"Semaksimal mungkin pakailah rupiah dalam setiap transaksi di dalam negeri, seperti transaksi di pelabuhan, penjualan properti sampai pemasangan rate kamar hotel. Cintailah rupiah,\" ungkap dia.

Gatot menilai, kebijakan Bank Indonesia (BI) untuk meredam gejolak pasar keuangan, termasuk menaikkan suku bunga acuan BI (BI Rate) 50 basis poin menjadi 7% dari sebelumnya 6,50%.

Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (BNI) Tbk ini juga mengartikan bahwa Quantitative Easing dalam bahasa sederhana merupakan pengurangan pencetakan uang di AS.

\"Analisa kami, mereka (AS) sebelumnya terlampau banyak mencetak uang sehingga bertebaran ke sana kemari. Hasilnya banyak yang membeli portofolio di sini, dan begitu mau dikurangi (tappering off) semua ramai-ramai menjual portofolionya,\" terang dia.

Sayangnya, lebih jauh Gatot menjelaskan, portofolio tersebut laris manis dijual namun kurang pembeli, sehingga inilah yang menyebabkan harga saham di Indonesia terjun bebas.

\"Begitu mereka jual, lalu dapatlah rupiah. Namun untuk pergi ke AS harus membeli dolar, dan akhirnya ramai-ramai datang ke bank untuk membeli dolar. Meski begitu pasokan dolar ada, tapi kami tidak ingin lepas (dolar) dulu,\" ujarnya.

Dengan begitu, pihak perbankan terpaksa membatasi pembelian dolar AS dan menghimbau kepada investor untuk kembali membeli dolar beberapa bulan ke depan.\"Balik lah lagi setelah satu sampai tiga bulan ke depan, karena Indonesia masih menjadi beautiful country,\" pungkasnya.

BERITA TERKAIT

Katrol Kompetensi SDM Industri 4.0, Kemenperin-BSN Teken MoU

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian dan Badan Standardisasi Nasional sepakat untuk meningkatkan kompetensi sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang terampil…

Industri Tekstil Indonesia Bidik Ekspor Senilai US$14 Miliar - Sepanjang 2018

NERACA Jakarta – Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional diyakini mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap penerimaan devisa dari ekspor…

Dyandra Lepas Hotel Santika Rp 63,1 Miliar - Tingkat Okupansi Anjlok

NERACA Jakarta - PT Dyandra Media Internasional Tbk (DYAN) mengalihkan beberapa penginapan milik anak usahanya senilai Rp63,1 miliar kepada PT…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Niaga Online - Regulator Terus Dorong Usaha Mikro Terapkan Usaha E-Commerce

NERACA Jakarta – Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) mengajak pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) turut membangun dan menggerakkan…

RI-Ceko Incar Peningkatan Investasi dan Ekspor di Sektor Industri

NERACA Jakarta – Indonesia dan Ceko tengah menjajaki peluang kerja sama ekonomi khususnya di sektor industri. Potensi kolaborasi kedua negara…

CIPS: Lindungi Petani, Waktu Impor Beras Harus Tepat

NERACA Jakarta – Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Assyifa Szami Ilman mengatakan, pemerintah perlu mempertimbangkan waktu impor beras…