Petani Diharapkan Tingkatkan Produksi

Kebutuhan Lada Meningkat

Kamis, 12/09/2013

NERACA

Jakarta – Seiringan dengan merebaknya bisnis makanan di Indonesia maka mendorong konsumsi komoditas lada. Namun sayangnya, dari total produksi lada Indonesai yang mencapai 75 ribu metrik ton per tahun, hamper sebagian besar untuk pasar ekspor. Hal tersebut seperti diungkapkan Direktur Jenderal Kerjasama Perdagangan Internasional Iman Pambagyo usai menghadiri peluncuran website International Pepper Community (IPC) di Jakarta, Rabu (11/9).

“Saat ini produksi lada telah mencapai 75 ribu metrik ton pertahun. Namun, Indonesia juga melakukan ekspor sebesar 64.600 metrik ton dengan nilai mencapai US$423 juta. Sebagian besar yang di ekspor adalah lada hitam yang mencapai 49.500 metrik ton dan lada putih sebanyak 13.100 metrik ton,” katanya.

Ia mengatakan bahwa kebutuhan lada untuk pasar domestic juga mengalami peningkatan seiring dengan merebaknya bisnis restoran. Untuk itu, ia meminta agar kementerian terkait bisa mengembangkan teknologi untuk bisa meningkatkan produktivitas dari petani. “Saat ini yang dibutuhkan adalah system holistic. Yang mana antar kementerian harus terkait. Misalnya untuk pendanaan petani, masalah infrastruktur irigasi dan lain-lain,” imbuhnya.

Iman menjelaskan bahwa saat ini komoditas lada di pasaran memang sedang mengalami peningkatan harga. Dia mencatat pada Agustus 2013, lada hitam berkisar Rp60.000 per kilo. Sementara untuk lada putih sebesar Rp85.000 per kilo. Namun pada September 2013, terjadi lonjakan harga yang cukup signifikan. Di lada hitam berkisar harga Rp69.000 per kilo dan lada putih sebesar Rp92.000 per kilo.

Sepanjang 2003-2012, produksi lada Indonesia mengalami pasang surut. Produksi lada tertinggi terjadi pada 2003, sebesar 80.000 metrik ton, dan terendah pada 2011. Indonesia tercatat menjadi negara produsen lada terbesar kedua di dunia. Sementara itu posisi teratas diduduki oleh Vietnam, dengan produksi nasional mencapai 120.000 metrik ton pada 2012.

Ditempat yang sama, Head of the Promotion and Marketing Development Asosiasi Eksportir Lada Indonesia (AELI) Yuliani Widjaja mengatakan, persoalan pengembangan industri lada saat ini masih berlangsungnya kegiatan tumpang sari yang dilakukan petani.

“Akibatnya, pembagian nutrisi dan mineral di tengah cuaca kurang baik dan pemupukan yang minim karena harga yang mahal menyebabkan hasil panen jadi tidak maksimal, sehingga malah jadi tidak menguntungkan,” katanya.

Direktur Tanaman Rempah dan Penyegar, Kementerian Pertanian, Azwar AB, mengatakan saat ini Kementerian Pertanian tengah berupaya membangun program kluster. "Seperti di Lampung, dan Bangka Belitung. Kita coba dari awal, tanaman yang rusak, tanaman yang kurang perawatan kita intensifkan," kata dia.

Ia juga menambahkan, bahwa saat ini belum ada program untuk pemekaran lahan pertanian lada. Melalui kluster, ia berharap lahan yang sudah ada bisa menghasilkan produktivitas yang maksimal. Ia mengatakan potensi produktivitas ladabisa mencapai 82.000 metrik ton sepanjang 2013.

Sementara, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertanian Agus Wahyudi mengemukakan, jika konsep pengembangan lada ke depan adalah dengan membenahi areal yang sudah ada. Sedangkan, persoalan petani yang melakukan tumpang sari, dinilainya sebagai kelebihan petani Indonesia di mana ketika harga komoditas sedang jatuh, masih ada komoditas lain yang jadi pengganti.

Komoditas Unggulan

Sebelumnya, Menteri Pertanian (Mentan), Suswono mengatakan, sampai saat ini komoditi rempah-rempah Indonesia masih menjadi unggulan dunia. Menurutnya, untuk komoditas pala, kayu manis, dan cengkeh, Indonesia masih menempati posisi nomor satu di dunia. Lada sempat menduduki urutan pertama, dengan memasok lebih dari 80% kebutuhan dunia. Namun saat ini lada Indonesia menduduki peringkat ketiga dunia.

Suswoo menegaskan, dahulu Maluku sebagai penghasil rempah-rempah. Potensi ini harus dikembali seperti dahulu. Bangsa-bangsa Eropa datang ke Maluku karena tertarik dengan kekayaan rempah-rempah. "Kini kejayaan itu harus dikembalikan. Kerajaan rempah-rempah harus dikembalikan ke bumi Maluku," kata Suswono.

Mentan mengemukakan, melimpahnya rempah-rempah ini membuat Indonesia dikenal spices island country (negara kepulauan rempah). Bahkan dengan keanekaragaman hayati yang ada sampai saat ini, plasma nutfah rempah Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia.

Ke depan, lanjut Mentan, pengembangan rempah Indonesia memiliki prospek yang cerah sejalan dengan semakin meningkatnya permintaan dunia terhadap rempah. "Meski begitu kita tidak bisa menutup mata pengembangan rempah Indonesia juga menghadapi sejumlah masalah," ungkap Mentan.

Di antaranya adalah rendahnya produktivitas tanaman karena banyaknya tanaman tua dan rusak, serangan hama penyakit, benih unggul, dan kurangnya pemeliharaan tanaman. Persoalan lainnya adalah mutu produk umum masih rendah, produk masih berbentuk primer, dan pengolahannya masih tradisional.

Selain itu, belum efesiennya rantai tata niaga, informasi pasar yang belum berkembang di sentra produksi, posisi tawar petani yang masih lemah karena kelembagaan petani belum optimal. Begitu juga belum optimalnya kemitraan petani dengan lembaga usaha rempah, serta terbatasnya permodalan petani, menjadi persoalan yang harus diselesaikan.

Berdasarkan potensi, prospek, dan permasalahan yang ada, pemerintah melakukan strategi revitalisasi. Yaitu revitalisasi lahan, pembenihan, infrastruktur dan sarana, SDM, pembiayaan dan kelembagaan petani, serta revitalisasi teknologi dan industri hilir.