Pasar Produk Animasi Ditargetkan US$ 2,4 Miliar

Industri Kreatif

Kamis, 12/09/2013

NERACA

Bandung - Pesatnya pertumbuhan industri kreatif khususnya sektor animasi di dalam negeri mempunyai peluang yang begitu besar, bahkan pasar animasi ditargetkan mencapai US$ 2,42 miliar pada 2016.Namun yang menjadi masalah adalah kurangnya sinergisitas antar kementerian dalam mengembangkan Industri animasi itu sendiri.

Direktur Industri Elektronika dan Telematika Kementerian Perindustrian, C. Triharso mengungkap kalau kurangnya sinergisitas antar kementerian yang terkait.Padahal mereka juga mempunyai ambisi yang sama.

"Sinergi dan harmonisasi kebijakan serta pengembangan program padahal kementerian memiliki program yang sama. Agar nantinya tidak sporadis,nanti kita kumpulkana da 8 kementerian, industri, kominfo, parekraf, perdagangan, ristek, dll,"ungkap C.Triharso saat acara penganugerahan pemenang lomba Industry Creative Festival 2013 (INCREFEST) bertajuk "Indonesia,ini karyaku Kualitas dunia" di Bandung, Rabu (11/9).

Lebih lanjut lagi C.Triharso memaparkan diperlukan kebijakan yang lebih mengutamakan pengembangan industri kreatif seperti kewajiban Stasiun Televisi nasional wajib menayangkan Film dari animasi lokal. "Tantangan kedepan ada 210 menit per hari apa bisa memenuhi itu, namun dari para animator menyatakan mampu. Mampu tersebut juga terkait konten, kualitas," jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama,untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015,Triharso diperlukan strategi yang komprehensif, efektif, dan terpadu dalam mengembangkan industri animasi nasional.

“Pembinaan dari awal merupakan faktor penting. Dukungan pemerintah dalam bentuk pembiayaan (grant), kuota jam tayang, pilot project atau prototipe, program inkubasi, insentif pajak, dan sebagainya sangat penting, khususnya dalam tahap pengembangan industri animasi nasional," ujarnya.

Pemerintah juga harus mengadakan festival dan kompetisi terkait industri kreatif dan animasi. Perlu penajaman peta kekuatan dan kelemahan industri animasi Indonesia, mencakup jumlah studio animasi, SDM, daerah-daerah unggulan, keunggulan teknologi, dan spesialisasi yang diandalkan, jumlah program pendidikan animasi yang ada, kurikulum pendidikan, dan sebagainya.

Dalam konteks pengembangan kerja sama di bidang animasi, perlu identifikasi atau insentif yang dapat ditawarkan secara konkret oleh Indonesia untuk industri animasi negara lain, misalnya Inggris, dalam rangka pengembangan industri animasi nasional.

Seperti diketahui, perkembangan animasi di Indonesia sebenarnya telah meluas, bahkan ada beberapa studio yang telah membuat animasi lisensi luar dikerjakan oleh tenaga ahli lokal atau dengan kalimat lain, Perkembangan Animasi Indonesia sudah lama terkenal hanya sebagai tempat produksi industri film animasi Jepang dan Amerika Serikat.

Data Ainaki (Asosiasi Industri Animasi dan Konten Indonesia) mencatat nama-nama studio animasi Indonesia. Daftar Studio Animasi di Indonesia diantaranya antara lain Frozzty Entertainment, Dreamlight Animation,Tunas Pakar Integraha,Castle Production, CAM Solution, DreamTOoN, Mirag, Pustaka Lebah, Jogjakartun, Mrico, Animad Studio, Jelly Fish, Bulakartun, Griya Studio, Bening Studio, Studio Kasatmata, ADBstudio Asiana Wang Animation, Bintang Jenaka Cartoon Film, Red Rocket, Infinite Frameworks Studios Batam, Animotion Academy, Sianima Animation.

Pasar Ekspor

Di lain kesempatan, sebelumnya, Menteri Perindustrian MS Hidayat pernah menyebut saat ini industri animasi mulai dilirik dan dipesan pasar luar negeri. “Pesanan mengalir karena kemampuan para animator nasional bisa diandalkan. Untuk animasi, sejumlah studio kita sudah mulai menerima pesanan dari Amerika Serikat, Jepang, dan sejumlah negara Eropa,” ungkap Hidayat.

Lebih jauh lagi Hidayat memaparkan industri film animasi di Hollywood AS mengakui kemampuan animator Indonesia. Lantaran itu, pengguna produk animasi di Tanah Air harusnya lebih berpihak pada karya-karya anak bangsa. Sehingga industri kreatif, khususnya animasi film, lebih berkembang dan dikenal luas di dalam negeri. "Dari aspek kemampuan sumber daya manusia, para animator Indonesia lebih unggul dibanding Malaysia," katanya.

Dalam kesempatan sebelumnya, pemerintah mengakui, industri kreatif di dalam negeri sangat minim sebab tidak didukung oleh sumber daya manusianya. Demikian pula dengan industri animasi sebagai bagian dari industri kreatif bisa mengalami pertumbuhan yang cukup bagus apabila memiliki SDM yang cukup dan kompeten. "Untuk animasi kita bagus, tetapi SDM-nya yang kurang. Itu yang kita kurang dan lemah," tutur Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu.

Dia menilai, orang yang bergerak di industri kreatif terutama animasi tidak memerlukan pendidikan umum. Mereka membutuhkan wadah untuk berkreasi serta pengakuan dari pihak manapun. "Intinya menciptakan space di mana mereka bisa berkreasi. TV tolong dong beri program animasi dalam negeri," ungkapnya.

Mari beranggapan, industri kreatif tiap tahunnya bertumbuh. Industri kreatif seperti animasi, film, fotografi, musik adalah orang yang menciptakan konten. untuk itu, Kemenparekraf akan melakukan proses maturing atau mengakui keberadaan industri kreatif tersebut.