BII Berdayakan Ekonomi Melalui Micro Financing - Gelontorkan Rp 1 Miliar

Saat ini pandangan terhadap bisnis mikro mulai berubah seiring dengan perkembangan kondisi dimana bisnis mikro ternyata relatif bisa survive dalam menghadapi krisis ekonomi. Di negara berkembang, jasa perbankan umumnya hanya menjangkau dari kurang 20% penduduk, dan sisanya tidak pernah terjangkau sama sekali oleh pelayanan lembaga keuangan formal, meski pun sektor ini jumlah dan potensinya sangat besar.

Program microfinance (pembiayaan mikro) dapat melayani penduduk yang termasuk dalam kategori economically active poor.Jika diasumsikan 50% dari pelayanan program ini berhasil, maka nasabah mikro yang sukses lama laun akan meningkat menjadi nasabah ritel yang potensial dan menyerap banyak tenaga kerja yang pada akhirnya akan mampu mendorong sektor riil disuatu negara.

Terkait hal tersebut, PT Bank Internasional Indonesia Tbk (BII) memberikan dukungan dana bergulir sebesar Rp 1 miliar kepada Baitul Maal Wa Tamwil (BMT) untuk selanjutnya disalurkan kepada anggota komunitas dalam bentuk penyediaan pembiayaan mikro. Dana bergulir tersebut akan diberikan kepada 10 BMT yang tersebar di enam wilayah Indonesia mencakup DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kepulauan Riau, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Selatan.

Dalam siaran persnya, Pjs Presiden Direktur BII Thila Nadason menuturkan bahwa program yang dilaksanakan BII itu sendiri berangkat dari fakta penduduk miskin di Indonesia yang jumlahnya mencapai 28,59 juta jiwa (data Biro Pusat Statistik 2012), dimana 79% dari penduduk miskin di Indonesia, menurut data Bank Dunia, tidak memiliki akses pada layanan keuangan formal.

\"Dana tersebut akan dimanfaatkan untuk mengembangkan usaha di bidang mikro seperti pertanian, perkebunan, perdagangan umum dan jasa. Melalui program pemberdayaan ekonomi melalui micro financing ini, kami berharap dapat menurunkan tingkat kemiskinan dengan melaksanakan pemberdayaan ekonomi untuk mendorong para penerima manfaat mendapatkan penghasilan yang lebih baik,\" kata Pjs Presiden Direktur BII Thila Nadason.

Menurut Thila, program CR ini juga sejalan dengan program financial inclusion, yang tengah giat difasilitasi Bank Indonesia dengan tujuan mulia untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap institusi keuangan, termasuk perbankan. Melalui program ini diharapkan institusi keuangan, khususnya perbankan, juga dapat memberikan kontribusi positif dalam meningkatkan produktivitas para pelaku ekonomi mikro.

\"Selain itu meningkatkan pengetahuan dan kualitas sumber daya manusia, dan menyiapkan para penerima manfaat menjadi komunitas yang bankable,\" ujar dia.

Sebelumnya pada 2012, BII bersama Grup Maybank juga melakukan program pemberdayaan ekonomi melalui micro financing kepada komunitas perempuan dengan memberikan dana hibah melalui Koperasi Mitra Duafa yang mengembangkan jasa keuangan dengan pola grameen bank. Dana yang dikembangkan dengan cara bergulir sejak pertengahan 2012 akan dapat membantu 2.200 orang di tiga target area, mencakup Jonggol (Jawa Barat), Sragen (Jawa Tengah) dan Kulon Progo (Yogyakarta) hingga pertengahan 2015.

Related posts