Uang Dinar dan Dirham, Jawaban Depresiasi Rupiah?

Oleh : Umar Natuna, Pemerhati Sosial

Kamis, 12/09/2013

Jatuhnya nilai tukar uang kertas rupiah ke level Rp 11.500 per dolar telah membuat kita mengalami berbagai krisis yang fundamental. Pihak swasta mengalami persoalan likualiditas dalam membayar utangnya yang jatuh tempo. Biaya impor ini semakin tinggi, yang berimplikasi mahalnya harga-garga barang di semua sektor dan komoditas. Selain itu, terjadi kelangkaan bahan baku seperti Kedelai, daging sapi dan sejumlah barang mewah lainnya, semakin menyulitkan persoalan fiskal maupun moneter kita. Berbagai analasia telah dilakukan, bahwa kejatuhan nilai tukar rupiah, diakibatkan oleh tekanan dari luar seperti melemahnnya mata uang regional terhadap dolar AS, karena membaiknya perekonomian AS. Selain itu, juga dikarenakan oleh pelarian dana dari pasar modal kita dari rupiah menjadi investasi diportofolio dolar AS. Juga dikarenakan oleh banyak sektor swasta dan BUMN yang harus memenuhi kewajibannya dengan menggunakan Dolar AS.

Krisis perekonomian kita dan dunia akibatnya jatuh- bangunyanya nilai tukar uang kertas, terutama rupiah bukan persoalan baru. Tahun 1997, krisis nilai tukar uang kertas rupiah justru menjatuhkan rezim orde baru. Dan krisis terus saja berlanjut, hingga saat ini. Nilai tukar rupiah agak stabil dan menguat, ketika masa Presiden Habibie, setelah itu, rupiah terus jatuh bangun. Faktornya selalu berkolaborasi antara faktor internal dan eksternal. Apa yang kita alami sekarang ini merupakan imbas dari krisis tahun 2011. Yakni kebangrutan ekonomi Yunani. Sebelumnya pada tahun 2008-2009, Amerika telah diguncang krisis, akibat krisis kredit macet perumahan. Dan kita merasakan dampaknya, dimana pada medio Nopember 2008, kurs rupiah menembus angka Rp 12.500 per dolar AS. Yang kemudian melahirkan apa yang disebutkan krisis sistemik yang berujung pada penyelamatan bank Century.

Merosotnya nilai tukar uang kertas, bukanlah monopoli uang kertas Rupiah. Tapi juga dialami semua mata uang kertas, termasuk Dolar AS. Uang dolar AS, yakni mata uang yang dianggap paling tinggi nilai tukar nominal dibandingkan uang kertas lain juga mengalami kemorosatan yang luar biasa. Pada awal tahun 1970an, nilai tukar Dolar AS terhadap emas, yakni 35 dolar As untuk setiap aunce ( 31,1 gram), atau 1,1 dolar AS per gram. Diakhir tahun 2011, nilai tukar dolar AS terhadap emas sekitar 1.725 dolar AS untuk gram yang sama, atau 55 dolar AS per gram. Itu artinya, nilai dolar AS pun mengalami kemorosotan.

Uang Kertas, Sumber Persoalan?

Jadi titik persoalannya, bukan karena persoalan kelangkaan dolar, kesulitan likuiditas, bahan baku, komoditas, sumberdaya alam dan sumberdaya manusia yang membuat berbagai krisis perekonomian kita selama ini. Sumber utamanya, justru dipicu oleh pemakaian uang kertas . Ada apa dengan uang kertas? Uang kertas sebagaimana kita mafhum bukanlah uang dapat dijadikan sebagai fungsi uang. Fungsi uang adalah sebagai alat tukar. Sebagai alat tukar uang kertas tidak bisa berlaku universal dan nilai yang sama. Uang kertas rupiah hanya dapat digunakan secara terbatas, uang kertas Rupiah hanya dapat digunakan di Indonesia, di luar kita harus menukarnya dengan uang lain. Dan ketika ditukar nilai Rupiahnya jatuh dan merosot secara nominal. Uang sebagai patokan untuk hitung-hitungan atau alat tukar misalnya .

Dalam kaitan ini. uang kertas sulit untuk dapat dijadikan patokan alat takar, karena ia hanya selembar kertas yang sama dengan kertas lainnya. Apalagi uang kertas dijadikan menyimpan nilai. Nilai apa yang dimiliki uang kertas, kecuali angka dan cap Bank Central suatu negara. Ia tidak memiliki nilai intrinsik. Jadi sesuatu yang dikatakan uang yang tidak memiliki nilai interinsik, maka ia tidak dapat dijadikan sebagai penyimpan nilai. Jika kita paksakan ia sebagai penyimpan nilai, maka kita akan mengalami kebangkrutan, karena akan terus mengalami kemorosotan dan tidak stabil. Dan hal itu akan terus akan terjadi. Karena itulah, kenapa kita negara kaya tapi miskin. Hal itu dikarenakan yang kita jadikan alat penyimpan nilai adalah kertas, sementara negara lain adalah barang berupa emas, perak, tembaga, besi dan bahan olahan jadi.

Kenapa uang kertas dewasa ini sangat rentan terhadap depresiasi? Hal ini tidak lain, karena uang kertas yang ada sekarang ini memang tidak lagi dijamin oleh emas atau perak. Awalnya, pemakaian uang kertas hanya sebagai kwitansi tanda bahwa kita memiliki jaminan emas. Kini emas tidak ada lagi digunakan sebagai jaminan. Uang kertas dicetak oleh Bank Central tanpa ada jaminan apa-apa. Hal inilah yang membuat uang kertas kehilangan fungsi sebagai uang, karena ia tidak dapat dijadikan alat penyimpan nilai, karena ia tidak lagi dibekang oleh emas atau perak.Maka jika uang kertas kemudian diborong oleh kelompok tertentu seperti yang pernah dilakukan Jos Soros tahun 1998 lalu, yang membuat krisis perekonomian dan Rupiah jatuh ke level Rp12.500 per Dolar AS.


Kembali ke Muamalah

Solusinya tidak ada pilihan yakni kembali kita mengamalkan muamalah Islam itu sendiri. Dalam konteks uang kita mestinya kembali mengamalkan syariat islam yakni menggunakan uang dinar dan dirham sebagai mata uang. Karena uang dinar dan dirham, sudah terbukti ampuh melawan depresiasi dan devaluasi. Inilah adalah momentum bagi kita untuk mengembalikan pengamalan muamalah Islam dalam kehidupan terutama dalam perekonomian. Dewasa ini koin uang dinar dan dirham yang beradar dalam masyarakat kita. Tinggal kita secara individu mau menggunakannya. Dan pemerintah mestinya, secara pertahap dan pasti harus membangun regulasinya, agar kita tidak rentan dalam menghadapi berbagai krisis ekonomi global.

Krisis ekonomi global akan terus terjadi, karena memang fondasi paradigmatik ekonomi yang dikembangkan memang tidak memadai untuk menggerakkan kehidupan manusia. Ekonomi dunia yang ditopang oleh cara berpikir positisme, materialisme dan pragmatisme, ternyata tidak mampu memenuhi fungsi kehidupan manusia. Yang terjadi justru-mengalami kenestapaan kemanusiaan akibat diperhamba oleh materi. Oleh sebab itu, jika kita tidak melakukan terobosan mendasardalam hal berekonomi, maka kita akan terus menerus menjadi bulan-bulanan krisis. Karena fondasi ekonomi yang dibangun memang sudah keropos sejak awal.

Bagi umat Islam kembali ke syariah atau kembali mengamalkan muamalah dalam berekonomi seperti memakai uang dinar dan dirham, menegakkan takaran, menegakkan rukun zakat, membangun dunia perdagangan dan pasar serta meninggalkan riba adalah amalan yang tidak bisa ditawar-tawar. Tidak bermakna apa-apa ibadah ritual kita seperti shalat, zakat, puasa dan haji, jika dalam bermuamalah kita mengamaikan syariat Islam. Kehidupan, keimanan dan amalannya kita tidak mempu menstransformasikan nilai-nilai ibadah tersebut menjadi kekuatan etik, moral dan nilai-nilai evaluatif dalam kehidupan. Maka berbagai persoalan moral dan kemanusiaan terus saja menyeruak dalam realitas kehidupan kita, walaupun secara ritual kehidupan agama kita terasa bergairah.

Karena itu, benar apa yang dikatakan Aqib Arselan, bahwa umat islam mundur karena ia tidak mengamalkan ajarannya secara kaffah, atau meninggalkan syariahnya. Sementara dunia lain maju justru ia mengamalkan syariah Islam. Dunia Barat maju dalam dunia pengetahuan, karena ia mengamalkan ajaran Iqra (membaca), kita mundur dalam dunia keilmuan, karena kita meninggalkan syariat membaca. Terkait dengan pengunaan dinar dan dirham, Rasulullah bersabda “Akan datang suatu masa dimana tidak ada lagi yang bisa dibelanjakan ( karena kehilangan nilai), kecuali dinar dan dirham. Selamatkan dinar dan dirham (HR Ahmad). Semoga. haluankepri.com