Lakukan Gerakan Sosial Untuk Merubah Bangsa

Arifin Purwakananta, Vice President for Strategic Alliances Dompet Dhuafa Republika

Sabtu, 14/09/2013

Ditopang oleh masa kecilnya yang sering bergelut dalam kegiatan sosial, Arifin Purwakananta, pribadi positif dan kreatif ini telah memulai aktifitas kemanusiaan dan melahirkan ide-ide kreatif sejak muda.

Karir profesional sebagai pengelola lembaga sosial diawali semenjak masuk ke Dompet Dhuafa Republika sejak 1999 menjadi Staf Sosial, Kemudian dilanjutkan sebagai Manajer SDM, Manajer Customer Care, Manajer Fundraising, Manajer Humas, Corporate Secretary, General Manajer Resources Mobilization, di akhir 2007 dipercaya sebagai Vice President for Strategic Alliances Dompet Dhuafa Republika, dan kini menjabat sebagai Direktur Inovasi Sosial Indonesia (INSOS).

Seakan tak pernah kering dari kretifitas dan positifisme, Arifin sering mendorong dan menggulirkan ide-ide kreatif dan perubahan menuju Indonesia yang maju serta penuh keberkahan sebagai bangsa unggul yang sejajar dan dapat bekerjasama dengan peradaban bangsa-bangsa lain di dunia dalam upaya perubahan dunia.

Menurut dia, Indonesia membutuhkan semangat baru dan ledakan inovasi sosial. Indonesia perlu memiliki bensin untuk membakar potensi yg besar menjadi energi yang dibutuhkan dunia untuk mencapai kemajuan dan kesejahteraan peradaban.

“Harus ada di antara kita yang mendedikasikan diri dalam mendorong gerakan inovasi sosial. Memberikan semangat dan mendorong karakter inovatif bagi masyarakat, juga memantik inovasi sosial dengan berbagai program yang mendorong semangat inovasi sosial,” ujar dia.

Salah satu ide kreatif yang sedang ditularkan oleh dia adalah tentang memberdayakan desa dengan memanfaatkan momen mudik. Ya, mudik adalah momen penting setiap tahun di Indonesia yang menyedot perhatian bangsa Indonesia. Mudik bukan saja peristiwa sosial budaya dan religus, mudik adalah peristiwa ekonomi yang cukup penting dan punya banyak imbas ke berbagai sektor.

30 Juta pemudik pada satu musim mudik diperkirakan menggerakkan kue ekonomi mudik sebesar Rp 90 Truliun. Kejutan ekonomi itu dapat menjadi momentum yang tepat sebagai pijakan untuk menyeimbangkan perputaran uang di pusat dan daerah.

Berdasarkan kajianINSOS, tutur dia, sebuah lembaga nirlaba yang bergerak dalam upaya gerakan perubahan masyarakat bebasis inovasi sosial, menyebutkan Pemudik Indonesia telah lakukan Investasi di Desa saat mudik sebesar Rp4,5 Triliun. Dana investasi oleh para pemudik di ratusan desa tempat asal pemudik ini dihitung dari data ekonomi mudik yang menyatakan 25 % dari pemudik saat ini sudah melakukan investasi sambil melakukan mudik.

Lebih lanjut Arifin mengatakan bahwa baru 25% Pemudik Indonesia yang memanfatkat mudik untuk menginvestasikan sebagian dana yang dibawa ke desa. Padahal investasi mudiklah yang akan signifikan membawa perubahan pemberdayaan desa. Investasi di desa diharapkan dapat menggerakkan sektor riil ekonomi desa seperti peternakan, pertanian, usaha kecil, home industi, perdagangan baik melalui koperasi maupun oleh pelaku ekonomi desa secara perorangan.

“Untuk itu diperlukan sebuah upaya sosialisasi yang mendorong gerakanMudik Sambil Investasi di Desa(MINDA) sebagai kampanye agar mudik selain menjadi wahana sosial dan pelepas rindu kampung halaman, juga dapat menjadi budaya yang memberdayakan dan tidak konsumtif,” kata pria yang menulis buku Ekonomi Mudik ini.

Lebih jauh, pria kelahiran Jakarta 20 Oktober 1967 ini mengatakan bahwa ada potensi dana investasi dari pemudik ke desa sampai dua kali lipat. Yakni dengan mengkampanyekan mengubah kebiasaan bagi bagi dana di kampung halaman dengan mengubahnya menjadi dana investasi.

Kajian INSOS menyebutkan perilaku sedekah apalagi dengan membawa uang lembar baru ke kampung halaman dan membagi bagikan saat bersaturahmi secara total berjumlah Rp18,016 Triliun. Dana filantropi dari para diaspora mudik ini jika dikampanyekan 50% saja akan mendorong gerakan investasi mudik sebesar Rp 9 Triiun bagi desa-desa di Indonenesia. Kejutan ekonomi itu akan menjadi momentum yang tepat sebagai pijakan untuk menyeimbangkan perputaran uang di pusat dan daerah.

Tentu saja kampanye Mudik Sambil Investasi di Desa (MINDA) ini harus dilakukan oleh banyak pihak termasuk pemerintah, pemerintah daerah dan menyiapkan desa dengan berbagai kesiapan pemberdayaan. Pasalnya, dampak fenomena ekonomi pemudik itu tidak akan bersifat sementara apabila pemerintah sungguh-sungguh menyusun perencanaan strategis untuk menangkap momentum tersebut.

Perputaran uang yang cepat dari pusat ke daerah, terutama di Jawa dan Sumatera, akan lebih bermanfaat dan memiliki dampak bergulir apabila didesain sebagai pemicu aktivitas ekonomi berkelanjutan. “Ekonomi mudik masih merupakan istilah baru, pemerintah juga harus melihat dan mendorong sebagai gerakan besar dalam perubahan masyarakat,” ujar dia.