Investor Bakal Beralih ke Industri Padat Modal

Buruh Terlalu Banyak Menuntut

Kamis, 12/09/2013

NERACA

Jakarta - Ekonom Standard Chartered Bank, Fauzi Ichsan, mengatakan semakin tingginya tuntutan upah buruh akan mendorong investor beralih investasi, dari membangun perusahaan padat karya ke perusahaan padat modal. Dia menilai, produktivitas buruh saat ini tidak sama dengan produktivitas pada lima tahun lalu yang mendorong bergesernya investasi tersebut.

"Apabila investor lebih memilih membangun perusahaan padat modal, maka impor barang modal juga akan membesar," kata Fauzi di Jakarta, Selasa (10/9). Dia juga menjelaskan, jika importasi padat modal semakin besar, maka akan menambah defisit neraca transaksi berjalan (current account deficits) yang diperkirakan mencapai US$26 miliar di semester II 2013. Padahal pada 2011 lalu masih surplus US$ 1,7 miliar.

Dia juga mengatakan investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI) yang sebagian besar perusahaan yang bergerak di segmen padat karya juga tidak semata-mata menurunkan defisit neraca transaksi berjalan karena target penjualan barang-barangnya di dalam negeri. "Kalau di dalam negeri, berarti yang mereka (investor) dapatkan adalah rupiah. Sementara untuk membayar utang luar negeri harus menggunakan dolar AS," ungkap Fauzi.

Sebelumnya, serikat buruh dari seluruh Indonesia meminta upah minimum provinsi (UMP) sebesar Rp3,7 juta yang dinilai tidak sesuai dengan kebutuhan dan keadaan perekonomian nasional yang tengah mengalami penurunan. Namun menurut Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Ade Sudrajad, UMP tersebut terlalu memberatkan perusahaan.

"Siapa saja boleh minta (upah) berapa saja. Tetapi kita lihat dahulu situasi dan kondisinya. Memungkinkan tidak, dan sesuai kebutuhan tidak," keluhnya. Ade juga menilai, jika tuntutan buruh semakin tinggi, bukan tidak mungkin para pengusaha akan "gulung tikar" dan pindah ke luar negeri. [ardi]