Rupiah Labil Akibat Pasar Galau

Kamis, 12/09/2013

NERACA

Jakarta - Menanggapi nilai tukar rupiah yang masih di kisaran Rp11 ribu per dolar AS, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, M Soleh Nurzaman, mengatakan hal ini dikarenakan kondisi pasar yang masih fluktuatif. “Ya, memang pasar masih tak menentu. Sekarang cadangan devisa kita US$92,99 miliar. Seandainya Bank Indonesia habis-habisan intervensi, saya yakin tidak akan sampai ke level Rp10 ribu per dolar AS,” terangnya di Jakarta, Selasa (10/9).

Dia mengatakan, langkah BI menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate menjadi tujuh persen adalah tepat. Dengan naiknya suku bunga untuk mengembalikan kepercayaan pasar, dinilai Soleh cukup efektif. Apalagi, pemerintah selalu mengatakan kondisi ekonomi negara masih cukup aman.

“Memang (menaikkan BI Rate) harus dan tidak ada cara lain. Toh, negara maju saja juga memainkan suku bunga meskipun tidak sebesar Indonesia yang mencapai 125 basis poin (bps),” ungkapnya. Dari hasil kenaikan BI Rate inilah, sambung Soleh, perbankan akan lebih fokus ke suku bunga simpanan.

Pasalnya, dari simpanan yang memiliki bunga cukup besar, diharapkan bisa lebih menarik serta menahan dana yang akan keluar dari bank tersebut. “Walaupun memang, konsekuensinya bunga kredit bisa lebih mahal. Biasanya, dampak dari BI Rate ke pinjaman itu memiliki jeda untuk menaikkan suku bunga kredit,” papar Soleh.

Dia pun menjelaskan, pemerintah melakukan ini untuk meminimalisir kekhawatiran terjadinya krisis seperti 1997-1998 silam. Namun Soleh pesimis kalau krisis serupa akan terjadi saat ini. Alasannya karena Indonesia lebih memiliki pengalaman dan lembaga keuangan terkait lebih memiliki persiapan yang matang untuk mengantisipasi hal itu.

Soleh mengatakan, dalam menghadapi kondisi ini pemerintah jangan panik, karena pemerintah yang melakukan komunikasi ke publik terkait keadaan ekonomi Indonesia. Namun dirinya menjelaskan, industri keuangan domestik bukanlah satu-satunya penyebab melemahnya kondisi Indonesia.

Dia menilai pemerintah masih kurang memperhatikan pengaturan dana-dana asing. Padahal saat ini, dana asing bisa bebas keluar masuk, semenjak rezim devisa bebas pada 1999 silam. “Sekarang dana asing tidak memiliki keharusan mereka harus “menetap” di Indonesia. Tidak seperti di Malaysia, misalnya, di mana dana asing harus “tinggal” selama satu tahun di sana. Inilah penyebab kondisi ekonomi nasional cepat sekali berfluktuasi,” tegas Soleh.

Oleh karena itu, dirinya berharap Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang akan beroperasi penuh pada 2014 mendatang bisa menjadi stabilitator kondisi ekonomi Indonesia. “Bagi saya bank tidak harus mengerem ekspansi kreditnya. Karena kalau dilihat industri keuangan domestik masih dalam tahap wajar,” ujarnya.

Sebelumnya, kondisi perekonomian Indonesia memang kurang baik seiring kondisi ekonomi global yang memburuk. Hal ini juga berdampak ke nilai tukar rupiah yang melemah beberapa waktu belakangan. Mengatasi hal ini, BI menaikan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 50 bps dari 6,5% ke 7%, sejatinya bukan langkah jitu untuk menyelamatkan nilai rupiah. Tetapi pertanda bakal melesatnya rasio kredit bermasalah atau nonperforming loan (NPL) dan membengkaknya beban cost of fund (COF) perbankan. [sylke]