Rupiah Labil Akibat Pasar Galau

NERACA

Jakarta - Menanggapi nilai tukar rupiah yang masih di kisaran Rp11 ribu per dolar AS, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, M Soleh Nurzaman, mengatakan hal ini dikarenakan kondisi pasar yang masih fluktuatif. “Ya, memang pasar masih tak menentu. Sekarang cadangan devisa kita US$92,99 miliar. Seandainya Bank Indonesia habis-habisan intervensi, saya yakin tidak akan sampai ke level Rp10 ribu per dolar AS,” terangnya di Jakarta, Selasa (10/9).

Dia mengatakan, langkah BI menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate menjadi tujuh persen adalah tepat. Dengan naiknya suku bunga untuk mengembalikan kepercayaan pasar, dinilai Soleh cukup efektif. Apalagi, pemerintah selalu mengatakan kondisi ekonomi negara masih cukup aman.

“Memang (menaikkan BI Rate) harus dan tidak ada cara lain. Toh, negara maju saja juga memainkan suku bunga meskipun tidak sebesar Indonesia yang mencapai 125 basis poin (bps),” ungkapnya. Dari hasil kenaikan BI Rate inilah, sambung Soleh, perbankan akan lebih fokus ke suku bunga simpanan.

Pasalnya, dari simpanan yang memiliki bunga cukup besar, diharapkan bisa lebih menarik serta menahan dana yang akan keluar dari bank tersebut. “Walaupun memang, konsekuensinya bunga kredit bisa lebih mahal. Biasanya, dampak dari BI Rate ke pinjaman itu memiliki jeda untuk menaikkan suku bunga kredit,” papar Soleh.

Dia pun menjelaskan, pemerintah melakukan ini untuk meminimalisir kekhawatiran terjadinya krisis seperti 1997-1998 silam. Namun Soleh pesimis kalau krisis serupa akan terjadi saat ini. Alasannya karena Indonesia lebih memiliki pengalaman dan lembaga keuangan terkait lebih memiliki persiapan yang matang untuk mengantisipasi hal itu.

Soleh mengatakan, dalam menghadapi kondisi ini pemerintah jangan panik, karena pemerintah yang melakukan komunikasi ke publik terkait keadaan ekonomi Indonesia. Namun dirinya menjelaskan, industri keuangan domestik bukanlah satu-satunya penyebab melemahnya kondisi Indonesia.

Dia menilai pemerintah masih kurang memperhatikan pengaturan dana-dana asing. Padahal saat ini, dana asing bisa bebas keluar masuk, semenjak rezim devisa bebas pada 1999 silam. “Sekarang dana asing tidak memiliki keharusan mereka harus “menetap” di Indonesia. Tidak seperti di Malaysia, misalnya, di mana dana asing harus “tinggal” selama satu tahun di sana. Inilah penyebab kondisi ekonomi nasional cepat sekali berfluktuasi,” tegas Soleh.

Oleh karena itu, dirinya berharap Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang akan beroperasi penuh pada 2014 mendatang bisa menjadi stabilitator kondisi ekonomi Indonesia. “Bagi saya bank tidak harus mengerem ekspansi kreditnya. Karena kalau dilihat industri keuangan domestik masih dalam tahap wajar,” ujarnya.

Sebelumnya, kondisi perekonomian Indonesia memang kurang baik seiring kondisi ekonomi global yang memburuk. Hal ini juga berdampak ke nilai tukar rupiah yang melemah beberapa waktu belakangan. Mengatasi hal ini, BI menaikan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 50 bps dari 6,5% ke 7%, sejatinya bukan langkah jitu untuk menyelamatkan nilai rupiah. Tetapi pertanda bakal melesatnya rasio kredit bermasalah atau nonperforming loan (NPL) dan membengkaknya beban cost of fund (COF) perbankan. [sylke]

BERITA TERKAIT

Kapitalisasi Pasar di Bursa Tumbuh 0,24%

NERACA Jakarta - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat indeks harga saham gabungan (IHSG) dalam sepekan menjelang libur panjang Idul…

Nissan SUV New Terra Masuk Pasar Asia Tenggara

Nissan meluncurkan SUV New Terra di Filipina sebagai bagian dari langkah perusahaan guna memperkuat komitmennya di kawasan Asia Tenggara. Pelanggan…

Honor 7A Resmi Masuk di Pasar Indonesia

Honor secara resmi memperkenalkan smartphone terbarunya untuk pasar Indonesia. Kali ini, perusahaan asal Tiongkok itu memboyong Honor 7A yang ditujukan…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Bank SulutGo Ajukan Izin Terbitkan Kartu Debit

  NERACA   Manado - PT Bank Pembangunan Daerah (BPD) Sulawesi Utara dan Gorontalo (SulutGo) mengajukan permohonan izin kepada Bank…

Rasio Kredit Macet Di Sulteng Aman

    NERACA   Palu - Kepala kantor perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Tengah Miyono mengatakan rasio kredit macet atau…

Sinergi Pesantren dengan Pembiayaan Ultra Mikro

      NERACA   Jakarta - Pemerintah mendorong sinergi pondok pesantren dengan program pembiayaan Ultra Mikro yang diyakini dapat…