OJK: Asuransi Syariah Punya Potensi Besar

NERACA

Jakarta - Direktorat Industri Keuangan non Bank (IKNB), Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Moch Muchlasin mengatakan, asuransi syariah masih memiliki potensi yang cukup besar, walaupun terbilang asetnya terbilang kecil, Dia bilang, asuransi syariah perkembangannya masih lebih tinggi dibanding asuransi konvensional. “Cuma ya jumlah aset yang masih kecil, seperti yang saya bilang tadi dibanding dengan asset nonsyariah,” ujar Muchlasin di Depok, Selasa (10/9).

Dia juga menjelaskan, asuransi syariah memang harus dicarikan cara atau terobosan yang baik jika ingin mengembangkan. “Ada beberapa orang yang berpendapat asuransi ini masih belum pas, kita harus cari cara merubah ini, selain itu Sumber daya manusia (SDM) sangat wajib untuk ditingkatkan kemampuannya,” imbuhnya.

Muchlasin memaparkan, untuk mengatasi ini OJK telah membuat roadmap untuk bekerjasama dengan industri asuransi syariah, untuk membahas apa saja yang akan dikembangkan. “Kita sudah memulai pertemuan rutin untuk membicarakan solusi.,” ujar dia.

Lebih jauh dirinya menuturkan, dalam industri asuransi, pemain di segmen syariah masih jarang. Dia juga bilang produk yang disediakan masih sedikit. “Produknya masih ada yang sama dengan konvensional,” tambah dia.

Muchlasin juga menegaskan, bahwa spin off untuk asuransi syariah itu harus segera dijalankan karena jika asuransi syariah masih berada di unit usaha syariah (UUS) maka akan terjadi dualisme. “Mungkin konsep tersebut akan memecahkan masalah dari sisi sumber daya manusia, namun untuk sosialisasi ke masyarakat belum bisa,” kata dia.

Terkait spin off, Dewan Komisioner OJK, Firdaus Jaelani mengatakan OJK akan mewajibkan seluruh perusahaan untuk mendirikan sendiri asuransi syariah. Firdaus mengatakan, peraturannya nanti tidak akan terlalu ketat.

Menurut dia, waktu 3 tahun sejak diberlakukannya peraturan, namun dirasa tidak cukup maka akan dihitung dan kemungkinan tidak dipaksakan hingga UUS dalam perusahaan tersebut sudah memiliki aset 50% dari asuransi konvensional.

Firdaus mengatakan, jika UUS dalam perusahaan asuransi masih kecil, maka tidak menjadi masalah, dan perusahaan tidak diwajibkan spin off karena masih menuntaskan target penjualan produk. Ketua, Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI), M Shaifie Zein, menilai hal ini merupakan solusi yang bagus untuk asuransi syariah di masa mendatang. Namun menurut dia memisahkan perusahaan bukanlah pekerjaan mudah. [sylke]

BERITA TERKAIT

OJK Sebut Bumiputera Dalam Kondisi Normal - Dari Sisi Bisnis dan Pendanaan

  NERACA Jakarta - Para pemegang polis dan mitra kerja Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912 kini bisa bernafas lega…

BNI Syariah Bahagiakan Anak-Anak Korban Banjir

Sebagai bentuk kepedulian kemanusiaan dan bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan, BNI Syariah bersama Yayasan Hasanah Titik menyalurkan bantuan kepada…

BTPN Syariah Bakal Lepas Saham 10% - Gelar IPO di Kuartal Tiga 2018

NERACA Jakarta – Perkuat likuiditas dalam mendanai ekspansi bisnisnya, PT BTPN Syariah dalam waktu bakal melakukan penawaran saham perdana alias…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Bikin Program Pendidikan, Bank Mandiri Gaet UGM

      NERACA   Jakarta - Bank Mandiri menjalin kerjasama dengan Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam peningkatan kemampuan perbankan…

Genjot DPK, BTN Gelar Program “Super Untung Jaman Now”

      NERACA   Jakarta - Berhasil meraih pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 20,45% di atas rata-rata industri…

Waspada Bahaya “Jackpotting”

    NERACA   Jakarta - Lembaga Riset Keamanan Siber dan Komunikasi atau Communication and Information System Security Research Center…