IPO Sido Muncul Pantang Mundur - Ditengah Gejolak Pasar

NERACA

Jakarta – Masih terus berfluktuasinya pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) dan juga terus melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar menjadi sentimen negatif bagi perusahaan yang akan melakukan penawaran saham perdana, sehingga membuat calon emiten menunda IPO hingga revisi jumlah saham. Namun tidak bagi PT Sido Muncul.

Presiden Direktur Sidomuncul Group Irwan Hidayat mengatakan, tidak ada revisi target dana IPO sebesar Rp1-1,5 triliun walaupun kondisi pasar saham yang sedang tidak menentu, “Kami tidak ada revisi target, tetap optimistis target dana IPO Sido Muncul bisa tercapai,”ujarnya di Jakarta, Senin (10/9).

Dia mengungkapkan, nantinya dana IPO itu akan digunakan untuk pengembangan pabrik, yakni perluasan pabrik di Semarang, Jawa Tengah. Selain itu, pihaknya juga akan menambah kapasitas produksinya. “Selama ini, produk buatan kami sudah dikenal di berbagai belahan dunia, khususnya Tolak Angin, diantaranya di negara Singapura, Hongkong dan negara lainnya,” papar dia.

Lebih lanjut Irwan menuturkan, perseroaan akan memprioritaskan untuk memasarkan produknya kepada investor domestik, sehingga pihaknya berencana akan melakukan roadshow ke berbagai wilayah Indonesia, seperti Yogyakarta, Medan, Jakarta, Semarang dan Surabaya. Namun tidak menutup kemungkinan investor asing juga dapat masuk.

‪Bukan hanya di wilayah Indonesia bagian barat, perseroan berencana akan menyasar ke Indonesia bagian timur, yakni Makasar, Papua dan Nusa Tenggara Timur (NTT).“Penjualan untuk Indonesia bagian Timur itu masih 1:3 dibandingkan dengan barat. Sekarang ekspor masih 5 persen ke Amerika dan Eropa,”kata Irwan.

Sebagai informasi, d‪alam gelaran IPO mendatang, perseroan telah menunjuk PT Kresna Graha Securindo Tbk (KREN) sebagai penjamin pelaksana emisi. Sebelumnya, Direktur utama PT Danareksa Sekuritas Marciano Herman pernah bilang, belum stabilnya indeks BEI resiko bagi calon emiten yang akan IPO yaitu tidak terserapnya saham yang dilepas ke publik sehingga berdampak pada penjamin emisi yang harus membeli saham yang dilepas tersebut, “Bagi perusahaan yang bakal melakukan proses IPO sebaiknya wait and see terlebih dahulu,”ungkapnya.

Dia mengakui, saat ini Danareksa telah mengajukan rekomendasi IPO dua emiten ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Selain itu rencana obligasi sejumlah emitenjuga telah diajukan. Namun prosesi selanjutnya akan menunggu kondisi pasar.

Sehingga pihaknya tengah mencermati situasi pasar agar rencana IPO 2 emiten yang sedang ditangani dapat berjalan sesuai rencana.“Kami punya fokus pasar tersendiri untuk menangani IPO dan obligasi. Kami tangani yang besar-besar saja secara optimal, terakhir tangani IPO Electronic City. Selain itu, kami juga masih menunggu karena dengan adanya volatilitas ini, bukan emiten saja yang beresiko tapi penjamin emisi juga beresiko tinggi”, jelas dia. (bani)

BERITA TERKAIT

Perusahaan Bisa Manfaatkan Pasar Modal - Danai Ekspansi Bisnis

NERACA Jakarta - Besarnya likuiditas di pasar modal, tentunya bisa dimanfaatkan para pelaku bisnis untuk mendanai ekspansi bisnisnya jangka panjang…

Pasar Apartemen Tetap Tumbuh di Tahun Politik

NERACA Jakarta –Meskipun tahun depan dihantui sentimen politik, para pelaku properti menyakini industri properti masih tetap positif. Apalagi, properti masih…

JMA Syariah Tetapkan IPO Rp 140 Per Saham

PT Asuransi Jiwa Syariah Jasa Mitra Abadi Tbk (JMA Syariah) telah menetapkan harga pelaksanaan penawaran umum saham perdana mereka. Harga…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Desa Nabung Saham Hadir di Monokwari

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) akan mencanangkan "Desa Nabung Saham" di wilayah Kabupaten Manokwari, Papua Barat,”Desa Nabung Saham akan dibentuk…

BEI Suspensi Perdagangan Saham MNCN

Mengendus adanya transaksi yang mencurigakan melalui Nomura Sekuritas Indonesia, PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) mengajukan penghentian sementara (suspensi) perdagangan…

Link Net Targetkan 150 Ribu Pelanggan

Kebutuhan jaringan internet di Indonesia memacu PT Link Net Tbk (LINK) gencar ekspansi jaringan. LINK optimistis bisa memenuhi target 2,8…