Reksa Dana Syariah Dinilai Tahan Banting

Karena Memiliki Underline

Rabu, 11/09/2013

NERACA

Depok – Reksa dana syariah dinilai paling tahan ditengah kondisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang bergerak tak terarah. Produk investasi berbasis Islam ini dinilai cukup aman karena memiliki underline hal ini tentu berbeda dengan produk investasi lainnya.

Menurut Direktorat Pasar Modal Syariah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Agus Maiyo, reksa dana syariah merupakan produk yang paling kuat ditengah kondisi pasar modal yang masih fluktuatif,“Reksa dana syariah paling kuat karena transaksi syariah harus ada underline-nya. Kalau tidak ada seperti produk lain sudah pasti langsung habis”, ujar dia kepada Neraca di Depok, Selasa (10/9).

Menurut dia, syarat reksa dana syariah yang mengharuskan dalam transaksinya ada underline menjadi kuncinya. Memiliki prospek pasar yang positf, Kata Agus, reksa dana syariah sebagai produk pasar modal tidak hanya untuk kaum Islam saja, tetapi juga untuk non beragama Islam dan hal ini menjadi keunggulan dari produk-produk syariah di lembaga keuangan bank dan non bank.

Kata Agus, keunggulan ini yang menjadikan pasar modal cukup menarik. Tentunya, dimaksud dalam pasar modal syariah adalah suatu efek yang harus memenuhi beberapa kriteria untuk digolongkan sebagai efek syariah. Hal senada juga disampaikan Fund Manager PT CIMB Principal Asset Management, Cholis Baidowidi bahwa reksa dana saham syariah dapat mengungguli pertumbuhan IHSG sehingga dapat menjadi alternatif diversifikasi investasi.

Menurut dia, tidak hanya karena pilihan saham namun juga saham dalam reksa dana syariah tidak mendapat tekanan signifikan dari tingkat suku bunga yang terus naik akibat inflasi tinggi.“Reksa dana syariah dapat unggul karena tidak memiliki saham perbankan. Saham-saham perbankan saat ini turun terus karena adanya kebijakan kenaikan suku bunga dan inflasi”, ujar dia.

Sebelumnya, OJK menggandeng dewan Syariah Nasional (DSN) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam menilai syarahnya suatu efek, kini OJK sudah memiliki ketentuan terkait menilai suatu efek syariah atau tidak.

Kriteria yang pertama adalah kegiatan usaha perusahaan tersebut bukan perjudian, perdagangan yang tidak sesuai syariah, bukan jasa keuangan riba, bukan produk jasa atau barang haram. Jika sudah memenuhi kriteria pertama, kriteria kedua harus dapat dipenuhi yaitu tidak dibolehkan memiliki utang kepada lembaga keuangan ribawi yang jumlahnya lebih dominan dari modalnya.

Dimana rasio antara utang berbasis bunga ke perbankan dengan ekuitas tak boleh lebih dari 82%, dan rasio utang terhadap total aset tidak boleh lebih dari 45%. Total pendapatan bunga dan pendapatan tidak halal lain dibandingkan dengan total pendapatan tidak lebih dari 10%.

Sehingga dengan kriteria yang telah dirumuskan bersama, OJK sudah bisa mengambil langkah sendiri untuk menentukan suatu efek syariah atau tidak. Saat ini, OJK juga akan secara langsung memberi cap syariah atau tidak bagi setiap perusahaan yang akan melakukan penawaran saham perdana (initial public offering/IPO). Hal ini untuk memudahkan investor yang ingin berinvestasi pada saham yang diberi cap syariah. (nurul)