Produktivitas Karet Nasional Kalah dari Malaysia dan Thailand

Sektor Perkebunan

Rabu, 11/09/2013

NERACA

Jakarta - Menteri Perindustrian Mohammad S Hidayat mengungkapkan produksi industri karet nasional masih rendah. Padahal, Indonesia memiliki areal karet paling luas di dunia yakni sebesar 3,4 juta hektar. Dalam hitungan per hektarnya, produktivitas karet lokal masih kalah dibanding produksi di Malaysia dan Thailand.

"Produksi dalam negeri baru mencapai satu ton, kalah dengan Malaysia sudah memproduksi 1,3 ton per hektare, Thailand 1,9 ton per hektare," kata Hidayat saat membuka Pameran Produk Karet dan Plastik di Jakarta, Selasa (10/9).

Lebih lanjut lagi Hidayat memaparkan sektor industri karet menyerap tenaga kerja dan terkait langsung dengan industri kurang lebih sebanyak 2,1 juta orang.Sementara untuk yang tidak terkait langsung dengan industri karet tersebut, lanjut Hidayat, telah menyerap tenaga kerja kurang lebih sebanyak 100 ribu orang."Dengan demikian, hal tersebut merupakan peluang bagi industri karet nasional untuk terus berproduksi maksimal," kata Hidayat.

Meskipun demikian, lanjut Hidayat, masih ada tantangan berupa pembinaan terhadap perkebunan rakyat agar dapat meningkatkan produktivitas."Selain itu juga perlu hilirisasi produk 'crumb rubber'dan lateks untuk menjadi produk karet hilir yang bernilai tambah tinggi," ujar Hidayat.

Industri karet dan barang karet di dalam negeri memiliki luas lahan perkebunan karet terluas di dunia dan berdasarkan Kebijakan Industri Nasional yang tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 28 tahun 2008, Industri karet dan plastik merupakan bagian dari kelompok industri yang diprioritaskan dalam pengembangannya.

Sementara itu,Ketua Dewan Karet Indonesia, Aziz Pane mengatakan pemerintah hingga saat ini dinilai masih abai dalam membangun industri hilir karet. Indonesia merupakan negara penghasil karet alam terbesar kedua setelah Thailand. Sayangnya, sekitar 85% produksi karet dalam negeri masih diekspor dalam bentuk karet mentah dan sisanya untuk konsumsi dalam negeri.

Akibatnya, petani karet memiliki pendapatan yang kecil. Sebagai ilustrasi, harga karet dunia saat ini berada pada kisaran US$2,5- 3 per kilogram, namun, harga jual di tingkat petani di Kalimantan Selatan hanya berkisar Rp7 ribu Rp8 ribu per kg.

"Hal serupa dialami juga oleh petani karet di daerah lain. Padahal, jumlah mereka sekitar 2,1 juta orang menguasai 85% luas areal karet alam nasional. Mereka ini telah memberikan kontribusi besar dalam menghasilkan devisa negara," kata Aziz.

Hilirisasi Karet

Untuk atasi itu, Aziz meminta pemerintah serius untuk menangani hilirisasi karet yang saat ini stagnan. Dalam hal ini, hilirisasi karet tertinggal dari kakao dan kelapa sawit. "Setelah diketahui penyebabnya, maka buat regulasi yang bisa mendorong pertumbuhan industri hilir karet," katanya.

Menurut dia, keberhasilan hilirisasi karet akan berimplikasi positif pada stabilitas harga yang menguntungkan petani. sebagai bukti, keberhasilan hilirisasi industri kakao di dalam negeri membuat harga komoditas ini stabil di level US$2.400 perton. "Keberhasilan hilirisasi bisa mengangkat petani karet dari kemiskinan," katanya.

Lebih jauh lagi Aziz mengungkapkan industri karet dalam negeri rupanya masih terganjal beberapa masalah. Salah satunya adalah program penanaman kembali (replant) atau revitalisasi pohon karet yang saat ini tidak berjalan dengan baik. Padahal pohon karet yang ada saat ini sudah terbilang cukup tua dan tidak produktif.

Aziz mengatakan rata-rata pohon karet yang ada di perkebunan sudah tua dan sudah dikelupas kulitnya dari atas sampai bawah pohon tersebut. Hal ini, kata Aziz, menandakan kalau pohon karet tersebut memang sudah sangat tidak layak lagi untuk diambil getahnya (sadap). Sehingga produksi karet dalam negeri tidak meningkat alias stagnan.

Saat ini, ujar Azis, produktivitas karet Indonesia masih sangat sedikit jika dibandingkan dengan Thailand dalam memproduksi karet setiap tahunnya. "Akan tetapi, dengan memiliki tanah seluas tiga juta hektare lahan, Indonesia cuma mampu memproduksi tiga juta ton karet per tahunnya, sedangkan Thailand yang punya dua juta ha lahan bisa memproduksi tiga juta ton lebih dalam setiap tahunnya," ujar Aziz.

Menurut dia, dengan memiliki tanah seluas tiga juta ha, seharusnya Indonesia bisa memproduksi lebih dari empat juta ton karet per tahunnya. Hal itulah yang harus difokuskan pemerintah dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas karet tiap tahunnya.

Aziz menjelaskan, kalau pemerintah bisa memberikan bibit unggul dan revitalisasi yang baik kepada petani, dalam dua tahun ke depan Indonesia bisa jadi nomor satu sebagai penghasil karet."Berikan bibit yang terbaik kepada para petani, berikan keistimewaan kepada para petani, dan berikan revitalisasi yang terbaik kepada petani. Saya yakin kalau itu diberikan oleh pemerintah, Indonesia bisa jadi nomor satu dalam memproduksi karet per tahunnya," katanya.