OJK Sosialisasikan Pasar Modal Syariah - Potensi Pasar Positif

NERACA

Depok – Pasar modal syariah dinilai terus berkembang dengan meningkatnya peminat industri berbasis Islam ini. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai regulator terus berupaya mensosialisasikan industri ini untuk mengurangi kasus-kasus penipuan berkedok investasi syariah.

Direktorat Pasar Modal Syariah OJK, Agus Maiyo mengakui bahwa jarak antara lembaga keuangan perbankan dan non-bank semakin dekat. Perbankan saat ini banyak yang menawarkan produk-produk investasi. Padahal jika terjadi suatu penyelewengan dana atau penipuan akan sulit diatasi. “Susah cari pelaku, jika yang datang orang perbankan OJK untuk memeriksa, biasanya mereka mmenyatakan bahwa produk tersebut adalah produk pasar modal sehingga perbankan OJK tidak berhak memeriksa, begitupun sebaliknya”, jelas dia kepada Neraca di Depok, Selasa (10/9).

Sehingga pengawasan dari OJK dalam hal ini reggulator perlu ditingkatkan. Menurut dia, biasanya pelaku penipuan mengetahui sektor apa yang pengawasannya rendah agar lebih aman bagi pelaku unutk melakukan aksinya. Selain itu, untuk mengantisipasinya OJK juga terus melakukan edukasi ke masyarakat agar tidak mudah percaya dengan iming-iming imbal hasil yang besar.“Untuk mendekati nasabah agar mau berinvestasi di reksa dana sulit sekali, tetapi masyarakat justru lebih percaya memnginvestasikan dananya ke pihak-pihak yang menjanjikan keuntungan hingga 20% ke atas dalam sebulan. Padahal jika dipikir tentu ini tidak masuk akal”, kata dia.

Menurut dia, mudah percayanya masyarakat terhadap pihak-pihak yang menjanjikan imbal hasil besar sangat berkaitan dengan pengetahuan masyarakat yang masih minim dengan dunia investasi. Hasilnya penipuan berkedok investasi makin banyak beredar, karena ketidak tahuan masyarakat dimanfaatkan.

OJK sendiri telah banyak melakukan sosialisasi selain pada masyarakat melalui iklan yang telah ditayangkan, OJK juga melakukan sosialisasi ke profesi dan juga mahasiswa. Sehingga dengan terus melakukan sosialisasi ini diharapkan seluruh lapisan masyarakat dapat mengetahui investasi jenis apa yang cocok dan aman bagi mereka.“Kedepannya akan terus melakukan sosialisasi, sekarang OJK sudah ada Direktorat Pasar Modal Syariah sendiri. Diharapkan akan lebih baik nantinya”, ujar dia.

Belum Maksimal

Pada kesempatan yang sama, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) M.Soleh Nurzaman menyatakan kepada bahwa kinerja OJK masih belum bisa dilihat dan dinilai, karena lembaga ini masih dibilang baru. “Namun, bisa dibilang masih jauh dari optimal karena banyak penilaian yang diukur dari Bappepam-LK”, ujar dia.

Sebelumnya, Deputi I Bidang Pasar Modal OJK Robinson Simbolon menyatakan bahwa pembentukan bursa efek syariah merupakan rencana jangka panjang dan pihaknya tengah menyiapkan pembentukan bursa efek khusus produk-produk syariah.

Ada beberapa pertimbangan yang mendasari OJK untuk melakukan pembentukan ini, dia menilai selama ini di Indonesia baru ada indeks syariah. Sementara pendekatan pasar modal syariah baru terbatas pada produknya semata. Sedangkan untuk pendekatan institusi, seperti bursa efek syariah belum ada di Indonesia.“Pendekatan produk syariah yang ada di bursa selama ini bisa ditangani siapa saja, seperti manajer investasi konvensional. Berdasarkan beberapa kondisi tersebut, OJK akan menggandeng Dewan Syariah Nasional (DSN) Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk menetapkan produk-produk bursa mana saja yang masuk kategori syariah. Jika DSN sudah menetapkan produk syariah, selanjutnya OJK akan menetapkannya melalui peraturan”, jelas Robinson.

Dia mengharapkan nantinya akan ada perusahaan efek syariah, sama halnya dengan bank syariah, baik bentuk hukumnya maupun organ perusahaannya. Selain itu, dia juga menjelaskan bahwa harus ada DPS (Dewan Pengawas Syariah) di dalamnya, yang akan berfungsi sebagai perusahaan managemen investasi syariah. (nurul)

Related posts