Perbankan Dinilai Kurangi Ekspansi Kredit

Stabilkan Likuiditas

Selasa, 10/09/2013

NERACA

Jakarta - Kepala Ekonom PT Bank Tabungan Negara Tbk, Agustinus Prasetyantoko, menilai industri perbankan cenderung akan mulai mengurangi ekspansi kredit guna menstabilkan angka likuiditas di masing-masing bank. "Situasi ekonomi sekarang tidak terlalu menguntungkan bagi semua pihak, terutama untuk industri perbankan dengan likuiditas yang semakin ketat. Bank-bank menaikkan suku bunga. Tentu saja itu berdampak ekspansi kredit akan berkurang," katanya, saat dihubungi di Jakarta, Senin (9/9).

Semakin ketatnya persaingan likuiditas antarbank, maka akan membuat target ekspansi kredit masing-masing bank terkoreksi lantaran bank kemungkinan besar akan memfokuskan dananya untuk menstabilkan angka likuiditas. "Ekspansi kredit yang terkoreksi itu dampak untuk perbankan, sedangkan dampak untuk ekonomi secara umum adalah pertumbuhan ekonomi akan ikut terkoreksi," ujar Prasetyantoko.

Untuk menstabilkan angka likuiditasnya, kata dia, bank-bank tentu akan menaikkan suku bunga deposito ataupun suku bunga kredit. "Kenaikan suku bunga deposito dan kredit merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindari karena bank butuh dana untuk mengamankan likuiditasnya," tambahnya.

Dosen FE Atmajaya ini juga mengatakan, kenaikan suku bunga deposito merupakan cara paling efektif yang akan dilakukan industri perbankan guna mencari "dana segar" dari pihak ketiga (dana pihak ketiga/DPK). Selain itu, Prasetyantoko menyebutkan langkah lain yang dapat ditempuh bank untuk menyerap dana dari pasar adalah dengan penjualan obligasi.

"Namun, jualan obligasi harganya juga cukup mahal sehingga cara itu tidak terlalu diminati oleh industri perbankan," tuturnya. Dia memperkirakan likuiditas bank yang semakin ketat itu masih akan berlanjut. Hal itu, kata dia, terlihat dari suku bunga pasar uang antarbank (PUAB) yang masih dapat meningkat.

Kemudian, apabila perbankan harus menaikkan suku bunga deposito secara terus-menerus untuk menstabilkan likuiditas, hal itu harus diimbangi dengan meningkatkan suku bunga kredit. Hal ini supaya NIM (net interest margin) bank tidak tergerus banyak. “Kalau NIM tergerus, itu pasti. Tetapi harus dihindari agar tidak tergerus banyak," papar Prasetyantoko.

Dia mengatakan risiko lain yang muncul dan harus ditanggulangi bank bila suku bunga kredit terus naik adalah meningkatnya angka NPL (nonperforming loan) atau kredit macet. Oleh karena itu, meningkatkan suku bunga deposito dan membatasi ekspansi kredit adalah langkah paling efektif yang akan dipilih perbankan untuk menstabilkan likuiditas.

Walaupun demikian, dirinya tetap meyakini kondisi keuangan pada industri perbankan secara umum masih baik. "Sebenarnya kondisi keuangan itu masih bagus kok cuma likuiditasnya saja yang mengetat. Jadi, menurut saya, tidak ada yang perlu terlalu banyak dirisaukan kalau untuk kondisi keuangan perbankan," tandasnya. [ardi]