Nasib Perajin Tahu Tempe

Mulai kemarin (9/9) hingga lusa ribuan perajin tahu tempe di hampir seluruh wilayah daerah di negeri ini serentak melakukan aksi mogok. Ini terkait dengan mahalnya harga kedelai impor (bahan baku tahu tempe) yang mencapai Rp 10.000 per kg. Akibatnya, mereka terpaksa menghentikan sementara produksi makanan rakyat itu. Negara pun kini tak berdaya mengatasi kenaikan komoditas pangan itu dari tahun ke tahun.

Kita tentu heran mengapa dari tahun ke tahun pemerintah tidak kunjung dapat menemukan solusi jitu. Sampai kemudian harga komoditas itu melambung di pasaran. Apakah gara-gara nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus merosot, lantas membuat harga kedelai impor di tingkat distributor rata-rata naik Rp 2.000, dari Rp 7.200 menjadi Rp 9.200 dan di pasaran bahkan mencapai Rp 10.000 per kg?

Namun mahalnya harga kedelai impor ternyata menjadi blessing in disguise bagi petani lokal. Petani kedelai di sejumlah daerah menikmati harga tinggi, yakni Rp7.000 per kg atau naik Rp2.000-Rp3.000 dari harga sebelumnya. Petani bisa menangguk untung hingga Rp10 juta per ha. Namun, berkah bagi petani lokal menjadi malapetaka bagi mayoritas masyarakat, karena rakyat Indonesia lebih banyak menjadi konsumen ketimbang produsen kedelai.

Perajin tahu dan tempe, yang menggunakan kedelai sebagai bahan baku di Jabodetabek, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, Banten, Lampung, dan Sumatera Selatan pun kompak mogok produks, Pasalnya, mereka terancam bangkrut. Di Jawa Barat misalnya, di Kabupaten Bekasi, sekitar 200 atau 10% dari total 2.000 perajin tahu dan tempe mulai gulung tikar.

Apa yang menyebabkan harga kedelai mahal? Ini terkait hukum supply and demand. Saat ini produksi kedelai dalam negeri hanya mampu mencukupi 25%-30% dari total kebutuhan nasional, dan 70%-75% mengandalkan impor, terutama dari AS. Tiap tahun kebutuhan kedelai nasional 2,5 juta-2,7 juta ton, sedangkan produksi dalam negeri 700.000-800.000 ton.

Target produksi kedelai semester I-2013 sebesar 482.000 ton, dari target 2013 sebanyak 1,5 juta ton, namun realisasinya hanya 296.000 ton atau 68% dari total target. Kebutuhan impor kedelai sampai akhir tahun ini diperkirakan 400.000-500.000 ton. Data BPS menyebutkan produktivitas kedelai 2012 sebanyak 843.150 ton biji kering atau mengalami penurunan 8.130 ton (-0,96%) dibandingkan 2011. Produksi kedelai 2013 diperkirakan 847.160 ton biji kering atau mengalami kenaikan 4.000 ton (0,47%) dibanding 2012. Namun pada September-Desember 2013, produksi kedelai diperkirakan menurun 6.290 ton (1,67%).

Terkait menurunnya produksi kedelai lokal, Kemendag telah menambah izin impor untuk Perum Bulog dari 20.000 ton menjadi 60.000 ton tahun ini. Dengan penambahan ini, total izin impor kedelai 624.000 ton hingga akhir tahun. Selain Bulog, izin impor juga diberikan kepada 21 importir terdaftar.

Sebelumnya, Kemendag menerbitkan ketentuan baru impor kedelai. Permendag No. 45/M-Dag/Kep/8/2013 tanggal 28 Agustus 2013 merupakan perubahan atas Permendag No. 24/M-Dag/Per/5/2013 tentang Impor dalam Rangka Program Stabilisasi Harga Kedelai. Di antara ketentuan impor tersebut adalah kewajiban bagi Bulog dan importir swasta menyerap kedelai lokal dengan tujuan agar petani mau menanam dan meningkatkan produksi.

Meski demikian, kita tak boleh terus-menerus bergantung pada impor. Ada adagium, “Bila hendak menguasai suatu bangsa maka kuasai dulu sumber pangannya”. Bila Indonesia tidak mau terjajah secara ekonomi, harus berdaulat dulu di bidang pangan, termasuk kedelai. Upaya intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian mutlak harus dilakukan, termasuk pertanian kedelai.

Bagaimanapun, impor akan menyebabkan berbagai kerugian, seperti hilangnya devisa negara yang cukup besar, mengurangi kesempatan kerja bagi rakyat Indonesia, serta meningkatkan ketergantungan jangka panjang dan mengancam ketahanan pangan nasional.

Related posts