Alternatif Investasi, Reksa Dana Syariah Pilihan Tepat

Dinilai Lebih Unggul

Selasa, 10/09/2013

NERACA

Jakarta- Di tengah volatilitas pasar saham, reksa dana saham syariah dinilai dapat mengungguli pertumbuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sehingga dapat menjadi alternatif diversifikasi investasi. Tidak hanya karena pilihan saham, namun juga saham dalam reksa dana syariah tidak mendapat tekanan signifikan dari tingkat suku bunga yang terus naik akibat inflasi tinggi. “Reksa dana syariah dapat unggul karena tidak memiliki saham perbankan. Saham-saham perbankan saat ini turun terus karena adanya kebijakan kenaikan suku bunga dan inflasi.” kata Fund Manager PT CIMB Principal Asset Management, Cholis Baidowi di Jakarta, Senin (9/9).

Jika dilihat lebih jauh, kata dia, sektor perbankan memiliki bobot yang besar di IHSG sekitar 25%. hal inilah yang menyebabkan pertumbuhan EPS yang lebih lambat pada IHSG dibanding dengan Jakarta Islamic Index (JII). Selain itu, saham dengan tingkat utang yang tinggi di atas 45% tidak akan masuk ke dalam daftar saham saham syariah, “Secara keseluruhan, hal ini terbukti pada tahun 2005-2006 dan 2008-2009, Jakarta Islamic Index (JII) mampu mengungguli IHSG 12-14% dan LQ45 10-12%.” jelasnya.

Dia mengatakan, dari reksa dana saham yang dikelolanya seperti CIMB Principal Islamic Equity Growth Syaria sejak awal tahun hanya terkoreksi 1,27% dibandingkan dengan IHSG yang terkoreksi 2,82% dan indeks reksa dana saham lainnya turun 4.11% per 30 Agustus 2013. Untuk satu dekade ke depan, pihaknya menilai, kapitalisasi pasar dari produk investasi syariah masih akan tumbuh 10,6% CAGR 2010-2020.

Volatilitas Saham

Direktur Investasi perusahaan, Fajar R. Hidayat mengatakan, hingga semester pertama 2014 volatilitas di pasar saham diperkirakan masih akan cukup tinggi. Hal tersebut ditengarai tidak hanya terimbas dari pengetatan stimulus The Fed, namun juga kondisi domestik yang belum mendukung. Ekspektasinya, di akhir tahun ini IHSG akan berada di level 4.600. “Target Index CIMB principal yang baru untuk tahun ini berada di level 4.600 dengan asumsi pertumbuhan EPS 8% dan PE tidak derating.” ucapnya.

Namun, apabila mengasumsikan PE derating ke level rata-rata sejak 2006 maka pihaknya menargetkan Indeks akan berada di level 4.300. Selain data-data ekonomi domestik yang kurang mendukung, kenaikan yield di pasar obligasi juga menyebabkan keluarnya dana-dana dari pasar modal. Tercatat, sejak 22 Mei 2013 hingga Akhir Agustus lalu IHSG terkoreksi 21,3% disebabkan aksi jual investor asing sebesar Rp32 triliun. Valuasi IHSG pun mencapai titik terendah selama 3 tahun terakhir, di valuasi PBV 2,5 x.

Meski demikian, kata dia, dibandingkan periode crash di tahun-tahun sebelumnya, kondisi Indonesia jauh lebih baik dari 1997 maupun 1998. Utamanya, aliran investasi masuk ke sektor rill yang masih tinggi. “Target index untuk tahun 2014 adalah 5.400 dengan asumsi PE 14,7 x dan pertumbuhan EPS 17%.” imbuhnya.

Sementara itu, Regional Chief Investment Officer, Raymond Tang mengatakan, kondisi pasar global saat ini sedang mengalami kekhawatiran atas The Fed yang akan melakukan perlambatan stimulus akibat data ketenagakerjaan yang sudah menunjukkann pemulihan. Pasar mengestimasi perlambatan stimulus akan dimmulai dari September ini dan berakhir pada pertengahan tahun 2014.

Ditambah lagi, sambung dia, kenaikan yield obligasi AS telah menghasilkan banyak kekhawatiran bagi perekonomian yang mengandalkan modal eksternal murah untuk meningkatkan pertumbuhan domestik. Dalam waktu dekat ini butuh langkah pengetatan makro untuk mengelola likuiditas dan mengembalikan kepercayaan investor. “Kondisi seperti ini memicu adanya outflow di negara-negara emerging market dan tekanan pada Asia Bonds dan FX Markets.” imbuhnya. (lia)