Hingga Juni Kontrak Elnusa Capai US$ 105 Juta

Selasa, 10/09/2013

NERACA

Jakarta- Manajemen PT Elnusa Tbk (ELSA) mengaku telah mengantongi kontrak senilai US$105 juta atau sekitar Rp1,17 triliun hingga Juni 2013 dari segmen jasa seismik atau eksplorasi. Sekitar 70% dari kontrak ini atau sekitar Rp819 miliar akan dibukukan untuk tahun 2014 mendatang, sedang 30% atau sekitar Rp351 miliar rupiah akan dibukukan sebagai pendapatan pada tahun ini.“Sampai dengan bulan Juni kita sudah mengumpulkan kontrak sekitar US$ 105 juta, itu termasuk carry over tahun lalu,” kata Direktur Utama Elnusa, Elia Massa di Jakarta, Senin (9/9).

Menurut dia, total kontrak yang telah didapatkan tersebut sudah termasuk carry over kontrak dari tahun 2012. Kontrak tersebut terdiri dari seismik zona transisi dan laut unit bisnis seismik darat. Proyek zona transisi yang cukup signifikan terletak di Kalimantan dan Papua. Sementara itu, proyek seismik darat yang besar tersebar di Sumatra Selatan dan Jawa Barat.

Dari perolehan kontrak jasa seismik ini, perseroan sudah dapat mengamankan pendapatan tahun 2014 sebesar Rp819 miliar rupiah. Targetnya, perseroan dapat memperoleh kontrak baru hingga akhir tahun ini mencapai US$327 juta. Pihaknya memperkirakan, pada tahun 2014 perseroan dapat mengumpulkan kontrak seismik sebesar US$160 juta hingga US$180 juta atau sekitar Rp1,78 triliun-Rp2,01 triliun, termasuk carry over pada tahun ini.

Pihaknya mencatat, sepanjang tiga bulan pertama tahun ini perseroan telah meraih kontrak senilai US$154 juta. Termasuk 70% di antaranya merupakan kontrak carry over (luncuran) dari tahun lalu, dimana jumlah ini telah mencapai 47% dari target tahun ini. Sekitar 75% carry over merupakan proyek di Kalimantan, sementara kontrak baru berasal dari Blok Mahakam juga di Kalimantan.

Dari total kontrak yang didapatkan perseroan tersebut, sekitar 70% berasal dari proyek oil field service atau perawatan sumur minyak, sementara sisanya berasal dari bidang usaha seismik darat/perairan dan drilling atau pengeboran.

Rencana Buyback

Menyikapi kebijakan buyback saham, kata Elia Massa, perseroan berencana untuk melakukan buy back atau pembelian kembali saham untuk menyelamatkan harga saham perseroan. Rencananya, perseroan baru akan mengambil sikap ketika harga saham sudah berada di bawah level Rp200. Hal ini dikarenakan pada tiga bulan terakhir, perseroan sempat berada di level terendah Rp165 rupiah per lembar saham. ”Kita baru akan mulai mengambil sikap ketika harga saham sudah berada di level 200 rupiah, saat ini sedang kita kaji untuk rencana buyback” jelasnya.

Selain itu, perseroan juga berencana akan melakukan employee stock option sebagai bentuk apresiasi terhadap tenaga kerja perseroan. Namun, untuk saat ini perseroan sedang melakukan pembicaraan untuk melakukan employee stock option dan buyback saham.

Untuk informasi, sepanjang semester satu tahun ini, perseroan mencatatkan laba Rp86,37 miliar, naik 68,2% dari periode yang sama tahun lalu Rp51,35 miliar. Meski demikian, pendapatan perseroan turun 13,7% menjadi Rp1,97 triliun. Padahal pada periode yang sama tahun lalu, perseroan mencatatkan pendapatan sebesar Rp2,28 triliun. (lia)