Pariwisata Kekurangan SDM Kompeten, Intiland Dirikan “Intesa”

NERACA

Jakarta – Perkembangan industri pariwisata di tanah air mendorong permintaan terhadap Sumber Daya Manusia (SDM) di sektor perhotelan makin besar. Sayangnya, pasokan SDM perhotelan yang memiliki kompetensi cukup masih kurang.

Kondisi tersebut mendorong PT Intiland Development Tbk, pengembang dan pemilik jaringan Hotel Intiwhiz dan Grand Whiz, melalui Intiland Foundation mendirikan sekolah perhotelan \"Intesa School of Hospitality\" di Yogyakarta. Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Bandung, digandeng untuk menyiapkan SDM terampil di sektor hospitality.

“Kami mendirikan sekolah perhotelan guna mengantisipasi pesatnya perkembangan industri perhotelan dan pariwisata di Indonesia,\" kata Presiden Direktur dan CEO PT Intiland Development Tbk, Hendro S. Gondokusumo di Jakarta, Senin.

Menurut Hendro, Yayasan Intiland didirikan oleh pihaknya untuk menjadi payung dari program dan kegiatan tanggung jawab sosial (CSR) Intiland. Salah satu program yang disiapkan adalah aktif berkiprah di bidang pendidikan melalui pendirian sekolah, membantu lembaga pendidikan dan pemberian beasiswa.

\"Jika dimungkinkan, ke depannya kami berencana untuk membuka sejumlah sekolah lain di sejumlah kota, agar kesempatan bagi anak didik di kota lain dapat menikmati pendidikan yang disediakan oleh Intesa ini,\" terangnya.

Presiden Direktur Intiwhiz Hotel, Moedjianto Soesilo Tjahjono menambahkan, setiap tahun Intiwhiz Hotel membangun 4-5 hotel baru. Setiap Whizhotel membutuhkan SDM sekitar 35 orang. Sementara Grand Whiz membutuhkan sekitar 170 orang SDM.

“Tahun 2015 saja kami membutuhkan sekitar 1500 tenaga di sektor hospitality. Karena banyak hotel kami selesai pembangunannya dan siap beroperasi,” jelas Moedjianto.

Dia mengungkap, Intiwhiz siap menampung semua lulusan Intesa School of Hospitality karena Intiland masih akan terus membangun hotel baru. “Kami juga mengelola hotel lain di bawah manajemen Whizhotel,” kata Dia.

Sementara itu, Joko Suyono, Ketua kelompok kerja STP Bandung menyatakan, kebutuhan SDM di sektor hospitality sangat besar. Setiap tahun, imbuhnya, dalam job fair terlihat kebutuhan tenaga kerja sektor hospitality tak kurang dari 8000 orang. Namun dunia pendidikan hanya mampu meluluskan sekitar 6000 orang saja. “Jadi masih kekurangan tenaga kerja sekitar 2000 orang setiap tahunnya,” beber Joko.

Di tempat yang sama, Ketua Intiland Foundation A. Denny Atmodjojo mengatakan, sekolah yang didirikan di Yogyakarta ini akan menerima siswa baru pada September 2013 dan memulai masa pendidikan di bulan Januari 2014.

Dijelaskan juga, Intiland Foudation didirikan untuk menjadi payung dari program dan kegiatan tanggung jawab sosial Intiland. Salah satu program kerja Intiland Foundation adalah aktif berkiprah di bidang pendidikan melalui kegiatan pendirian sekolah, membantu lembaga pendidikan, dan pemberian beasiswa.

\"Kami sadar kebutuhan dunia usaha, khususnya di bidang perhotelan, terhadap tenaga-tenaga trampil dan siap kerja sangat tinggi di masa depan. Dengan mendirikan sekolah Intesa ini, kami ingin memberikan kesempatan bagi anak-anak muda untuk mendapatkan pendidikan bermutu yang akan menjadikan mereka siap berkerja,\" kata Denny.

Intesa, kata Denny, menyelenggarakan program jangka pendek enam bulan yang terbagi menjadi tiga bulan di kelas dan tiga bulan praktik kerja di jaringan hotel Intiwhiz.

Related posts