Sektor Perkebunan dan Tambang Perlu IPO

Pendanaan Lewat Pasar Modal

Selasa, 10/09/2013

NERACA

Jakarta – Minimnya jumlah emiten yang tercatat di pasar modal dirasa PT Danareksa Sekuritas harus ada peraturan dari regulator yang mewajibkan industri perkebunan dan pertambangan untuk menjadi perusahaan terbuka. Hal ini erat kaitannya untuk meningkatkan penetrasi pasar modal Indonesia.

Direktur Utama PT Danareksa Sekuritas Marciano Herman mengatakan, hingga saat ini jumlah emiten belum mencapai 500, selain itu banyak saham yang tidak likuid atau tidur, “Pasar modal butuh emiten-emiten yang likuid, seperti sektor perkebunan dan pertambangan”katanya di Jakarta, Senin (9/9).

Menurutnya, pasar modal dalam negeri masih minim emiten dan investornya, sehingga tidak heran jika penetrasi terhadap GDP masih di kisaran 20%. Jumlah ini jauh di bawah Singapura yang yang mencatat penetrasi pasar modalnya dua kali di atas GDP-nya.

Kemudian berdasarkan amanat UUD dan turunannya dijelaskan bahwa semua aktivitas industri yang mengelola kandungan kekayaan alam, seharusnya wajib juga dimilki oleh publik melalui pasar modal. Oleh karena itu, harus ada peraturan yang dibuat pemerintah untuk mewajibkan kedua sektor ini mencatatkan saham perdana (initial public offering/IPO) di bursa.

Namun, lanjut dia, tidak semua perusahaan tambang harus melakukan IPO. Dirinya mencontohkan syarat bagi industri pertambangan dengan cadangan di atas 40 juta atau 100 juta ton yang diharuskan IPO minimal 3 atau 5 tahun untuk segera IPO. Sementara untuk sektor perkebunan dengan konsesi sawit di atas 150 hektar harus IPO dengan catatan besaran IPO saham yang dilepas bisa disesuaikan dengan aturan IPO di bursa.

Sehingga, berdasarkan hitungan dia jika semua perusahaan pertambangan besar baik milik asing atau lokal, listing 10% dari jumlah ekuitas yang dimiliki, pasar modal akan semakin ramai. Begitupun jumlah investor yang otomatis akan ikut bertambah. Selain itu, dengan adanya BPJS pada tahun mendatang, dia yakin portofolio mereka yang semula banyak di deposito akan beralih ke saham atau reksadana dengan jangka waktu investasi yang lebih panjang.

Sementara Direktur Retail and Capital Market PT Danareksa Sekuritas, Sujadi Darmotinojo menilai, banyak orang kaya di Indonesia yang belum memahami pasar modal, sehingga lebih memilih menginvestasikan uangnya di deposito perbankan daripada pasar modal.

Menurut dia, dalam berinvestasi di pasar modal menjadi sumber pendanaan yang menjanjikan.“Namun meskipun menjanjikan kebanyakan masyarakat Indonesia lebih memilih deposito atau bahkan produk yang sifatnya tradisional dalam berinvestasi. Ini masalahnya pada minimnya pengetahuan mereka”, ujar dia.

Dengan kondisi ini menurut dia diperlukan edukasi dan sosialiasi tentang pasar modal secara menyeluruh, sehingga ke depannya pasar modal Indonesia bisa di dominasi oleh investor domestik. Dia sendiri mengakui pasar modal masih didominasi investor asing yang membuat goyah indeks jika mereka secara besar-besaran melakukan aksi jual.

Dia juga menyatakan, pihaknya akan bekerja sama dengan Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk memberikan edukasi dan sosialisi kepada masyarakat. Program tersebut, nantinya difokuskan ke daerah-daerah yang berada di timur dan barat Indonesia yang dinilai masih minim edukasi pasar modal. (nurul)