Penting Stress Test

Selasa, 10/09/2013

Oleh : Tumpal Sihombing

Presiden Direktur BondRI

Stress-Test adalah suatu teknik simulasi terhadap portofolio aset and kewajiban dalam rangka menilai reaksi perusahaan terhadap kondisi keuangan tertentu. Teknik ini digunakan untuk menilai dampak variabel trigger terhadap kondisi industri/perusahaan, serta seberapa kuat industri/perusahaan menerima gejolak kondisi eksternal. Trigger umum yang digunakan adalah laju inflasi dan nilai kurs.

Pertemuan KTT G-20 awalnya diharapkan fokus membahas 4(empat) isu utama yaitu pertumbuhan ekonomi dan stabilitas keuangan, pembangunan berkelanjutan, lapangan kerja dan investasi, serta perdagangan internasional. Namun dari proses dan hasil yang ada, pertemuan justru lebih cenderung membahas isu geopolitik dan minim sekali yang terkait dengan kondisi yang sedang dialami perekonomian Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah sebaiknya kembali fokus pada pembenahan kondisi domestik secara proaktif daripada berharap banyak dari hasil pertemuan G-20.

Bond Research Institute (BondRI) menilai kondisi perekonomian Indonesia secara makro sedang mengalami gangguan signifikan, demikian juga dengan mikroekonomi. Seiring dengan upaya apapun yang sedang diusahakan pemerintah dalam set kebijakan ekonomi dalam konteks makro (baik secara fiskal maupun moneter), sebaiknya perhatian secara paralel dan khusus juga diberikan oleh pemerintah ke ranah mikroekonomi, yaitu unit perusahaan.

Apabila kita merunut balik ke krisis tahun 1997, unit yang bermasalah pada saat itu adalah perusahaan yang terganggu secara operasional dan finansial oleh karena adanya volatilitas valas yang sangat tinggi, dan tingginya yield pasar modal serta suku bunga acuan. Gejala yang kurang lebih mirip sedang dialami perekonomian kita sekarang ini.

Paul Samuelson (ekonomi dunia peraih hadiah nobel) pernah menyatakan “What we know about the global financial crisis is that we don\'t know very much.” Artinya, perihal krisis, baik para pelaku pasar dari semua kalangan (mulai dari awam hingga pakar), termasuk perumus kebijakan ekonomi, semua insan terkategori awam (rookie) jika menyangkut kapan, berapa lama dan sebesar apa krisis akan merugikan negara yang sedang melaluinya. Segala analisa yang ada hanya mampu menilai gejala dalam rupa prediksi sebatas probabilitas tertentu, namun tak ada yang bisa memastikan.

BondRI menilai akan lebih banyak lagi perusahaan di Indonesia, mulai dari swasta hingga BUMN/BUMD akan mengalami gangguan operasional-finansial apabila rupiah menyentuh level 12.000-13.000 per US$. Karena itu, bagi unit perusahaan yang telah memiliki ketergantungan tinggi terhadap valas, sebaiknya sudah memiliki strategi/inisiatif proaktif mitigasi risiko saat kurs menyentuh rentang tersebut.

Dalam kondisi harga minyak dunia dan inflasi yang kurang kondusif belakangan ini, baik nilai rupiah, yield pasar modal termasuk suku bunga acuan pasar uang bergerak sangat fluktuatif (berisiko tinggi). “We shall overcome” strategi dalam mitigasi risiko valas terkait kerangka “going concern” dinilai masuk akal jika dan hanya perusahaan telah memiliki rencana proaktif/cadangan devisa yang kuat untuk dapat menalangi potensi pelemahan lanjut terhadap kurs.

BondRI menilai potensi default para emiten obligasi perusahaan akan sangat tinggi jika rupiah telah menyentuh level 12.300. Sementara itu untuk government securities, BondRI menilai pemerintah sebaiknya punya set kebijakan khusus saat rupiah menyentuh level 12.500. Dalam kisaran tersebut, jangankan perusahaan swasta, BUMN/BUMD sekalipun akan mengalami gangguan yang signifikan baik dalam konteks operasional maupun finansial. Rupiah saat ini sudah berada dalam range 11.400-11.700/US$.

Bagi emiten, jika belum melakukan, do the stress-test now, the sooner the better. Jika hasilnya ternyata kurang menguntungkan, sebaiknya mempersiapkan langkah antisipatif. Bagi pemerintah, ada baiknya mengimbau BUMN/BUMD serta labor-intensive industries/corporates untuk lebih antisipatif.